Author: yovie

  • Ray Dalio Sarankan Bitcoin di Tengah Krisis Utang Global, Ini Alasannya

    Ray Dalio, pendiri hedge fund raksasa Bridgewater Associates, menyarankan investor untuk mengalokasikan “sedikit” Bitcoin di tengah ancaman krisis utang global. Dengan kekayaan bersih diperkirakan US$15 miliar (Rp236,7 triliun), Dalio merekomendasikan portofolio lebih berat pada Bitcoin dan emas dibandingkan obligasi.

    Mengapa Bitcoin dan Emas?

    Dalio menekankan bahwa aset-aset ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakstabilan ekonomi. “Dalam skenario krisis utang, likuiditas pasar akan terserap, dan obligasi pemerintah bisa kehilangan daya tariknya,” ujarnya dalam wawancara terbaru. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di level US$65.000 (Rp1,03 miliar), sementara emas bertahan di US$2.300 per ons.

    Rekomendasi Dalio muncul setelah Federal Reserve AS menahan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi, yang berpotensi memicu resesi. Data on-chain menunjukkan arus masuk (inflow) ke Bitcoin ETF spot AS mencapai US$1,2 miliar (Rp19 triliun) dalam sepekan terakhir, menandai sentimen positif di tengah ketidakpastian makroekonomi.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, rekomendasi tokoh seperti Dalio sering kali memicu lonjakan minat investor ritel. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat kenaikan volume perdagangan hingga 15% setelah pernyataan serupa dari figur global. Namun, regulator Bappebti mengingatkan bahwa aset kripto tetap dikategorikan sebagai komoditi berisiko tinggi, dengan pajak transaksi sebesar 0,1% (PPh final) dan 0,1% (PPN).

    Dengan pengawasan aset kripto akan beralih ke OJK pada 2025, pelaku pasar menantikan kejelasan regulasi terkait produk derivatif dan staking. Katalis berikutnya yang dinantikan adalah keputusan Fed mengenai potensi pemangkasan suku bunga pada September 2024.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Washington Goes All-In on Crypto: Trump Pushes Clarity, SEC Rules, and CFTC Warnings

    Trump urged executives to pass a “fair version” of the Clarity Act, the CFTC warned it would write its own rules if the bill stalls, and the SEC abruptly advanced its first crypto fundraising framewor

  • Bitcoin Melonjak 7,9% ke Rp187 Juta, Likuidasi Short $1,2 Miliar Picu Squeeze

    Bitcoin (BTC) membukukan kenaikan tajam 7,9% dalam 24 jam terakhir, menembus level $77.000 atau setara Rp187,1 juta (kurs Rp18.350/USD), setelah likuidasi posisi short senilai $1,21 miliar memicu short squeeze besar-besaran. Lonjakan ini terjadi di tengah arus berita positif dari Washington yang memperkuat sentimen bullish.

    Short Squeeze Picu Likuidasi Rp19,5 Triliun

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai $1,21 miliar (Rp19,5 triliun) dalam sehari, menjadikannya salah satu squeeze terbesar sejak awal tahun. Posisi short terbanyak terlikuidasi di bursa terpusat seperti Binance ($420 juta), OKX ($310 juta), dan Bybit ($220 juta).

    “Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk spot ETF Bitcoin yang kuat dan berita regulasi yang lebih jelas dari AS,” ujar analis on-chain dari Glassnode. Dalam seminggu terakhir, spot ETF Bitcoin mencatat inflow bersih $850 juta, dengan BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menyerap sebagian besar likuiditas.

    Sentimen Washington dan Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Berita dari Washington, termasuk sinyal dukungan dari anggota Kongres AS terhadap aset kripto, menjadi katalis utama. Di Indonesia, lonjakan harga BTC langsung berdampak pada volume perdagangan di bursa lokal. Indodax melaporkan peningkatan volume harian hingga 30% dalam 24 jam terakhir, sementara Tokocrypto mencatat kenaikan transaksi spot sebesar 22%.

    Regulator lokal, Bappebti, belum memberikan komentar resmi, namun pelaku pasar memperkirakan peningkatan pengawasan terhadap leverage trading di bursa kripto dalam negeri. “Kami melihat potensi pengetatan margin trading untuk mencegah likuidasi massal seperti yang terjadi di pasar global,” kata sumber di Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Outlook: Katalis Berikutnya yang Dinantikan

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: keputusan Fed mengenai suku bunga pada 1 Mei dan data inflasi AS yang akan dirilis minggu depan. Jika inflasi terkendali, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat mendorong aliran modal ke aset berisiko, termasuk Bitcoin. Di sisi teknikal, BTC perlu mempertahankan level $75.000 untuk menghindari koreksi lanjutan.

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, data bursa lokal

  • Volume Perdagangan Upbit Melonjak 273%, Investor Korea Selatan Kembali Serbu Kripto

    Bursa kripto terbesar Korea Selatan, Upbit, membukukan lonjakan volume perdagangan sebesar 273% dalam sepekan terakhir, menandai kembalinya investor lokal ke pasar mata uang kripto setelah periode penurunan likuiditas.

    Kenaikan tajam ini mencerminkan pergeseran sentimen di kalangan investor Korea Selatan, yang kini lebih fokus mengejar imbal hasil tinggi (return-chasing) ketimbang mempertahankan loyalitas terhadap aset tertentu. Analis pasar kripto, Kim Ji-hoon, menyatakan, “Modal domestik perlahan kembali mengalir ke kripto, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga jangka pendek dan peluang arbitrase di pasar spot.”

    Data On-Chain dan Faktor Pendorong

    Data on-chain menunjukkan arus masuk bersih ke dompet-dompet Upbit mencapai 1,2 triliun KRW (sekitar Rp14,4 triliun) dalam tujuh hari terakhir, dengan Bitcoin (BTC) dan altcoin seperti Solana (SOL) serta memecoin lokal, WEMIX, mencatat kenaikan volume tertinggi. BTC mendominasi 45% dari total volume, diikuti SOL (18%) dan WEMIX (12%).

    Faktor katalis utama meliputi: (1) penguatan Won Korea Selatan (KRW) terhadap USD, yang meningkatkan daya beli investor lokal; (2) peluncuran produk staking baru di Upbit dengan imbal hasil hingga 8% per tahun; dan (3) rumor potensi pelonggaran regulasi kripto oleh Financial Services Commission (FSC) Korea Selatan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Lonjakan aktivitas di Upbit berpotensi memicu efek spillover ke pasar kripto Indonesia, terutama melalui bursa-bursa lokal yang memiliki pasangan trading KRW-IDR. Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan volume perdagangan pasangan BTC/IDR hingga 30% dalam periode yang sama, meski belum sebanding dengan skala Korea Selatan.

    Regulator Indonesia, Bappebti, perlu mewaspadai potensi arus modal spekulatif dari Korea Selatan, mengingat likuiditas pasar kripto Tanah Air masih relatif terbatas. “Kami memantau pergerakan ini secara ketat, terutama terkait kepatuhan KYC dan pencegahan manipulasi harga,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan Bank of Korea (BoK) mengenai suku bunga acuan pada 12 Juni mendatang, yang dapat memengaruhi aliran modal ke aset berisiko seperti kripto.

    Sumber: The Block

  • XRP Tembus Sinyal Bearish Terkuat—Harga Melonjak, Apa Katalisnya?

    XRP membukukan penutupan harian di atas dua moving average kunci untuk pertama kalinya sejak Agustus, menghapus sinyal bearish terkuat yang membebani token Ripple selama sebulan terakhir.

    Pola Bearish Terpecahkan, Harga XRP Terbang

    Token yang terafiliasi dengan Ripple ini menghabiskan seluruh bulan Agustus terperangkap di bawah pola bearish crossover—kondisi di mana moving average 50-hari turun menembus moving average 200-hari dari atas, sering diartikan sebagai sinyal pelemahan tren jangka panjang. Hari ini, XRP akhirnya menutup di atas kedua garis tersebut, mengakhiri periode tekanan teknikal yang membuat investor waspada.

    Data on-chain menunjukkan lonjakan volume perdagangan sebesar 42% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$1,8 miliar (Rp28,4 triliun). Harga XRP melonjak 7,3% dalam periode yang sama, menembus level psikologis US$0,58 (Rp9.100) dan mendekati resistensi US$0,60 (Rp9.400). Analis teknikal dari TradingView mencatat bahwa penembusan ini berpotensi memicu reli lanjutan menuju US$0,65 (Rp10.200) jika volume tetap terjaga.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, XRP menjadi salah satu dari 500 aset kripto yang diperdagangkan secara legal melalui bursa terdaftar Bappebti. Platform lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan aktivitas trading XRP sebesar 28% dalam sepekan terakhir, seiring dengan sentimen positif dari pergerakan harga global. Namun, investor domestik tetap perlu waspada terhadap volatilitas tinggi—terutama menjelang transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK yang dijadwalkan pada kuartal pertama 2025.

    Kepala Riset Pintu, Muhammad Rosyhan, menilai bahwa penembusan XRP ini mencerminkan pergeseran sentimen di pasar altcoin. “Koreksi Bitcoin yang terbatas di bawah US$60.000 (Rp945 juta) memberikan ruang bagi altcoin seperti XRP untuk rebound. Namun, likuiditas di bursa lokal masih menjadi tantangan—spread bid-ask XRP di beberapa platform bisa mencapai 1,5%,” ujarnya.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: (1) Putusan final pengadilan antara Ripple dan SEC Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 15 Oktober, dan (2) peluncuran stablecoin Ripple (RLUSD) yang direncanakan pada akhir tahun. Kedua faktor ini berpotensi mendorong XRP menuju level US$0,75 (Rp11.800) jika berjalan positif.

    Sumber: decrypt

  • Coldcard Perkuat Keamanan Frasa Seed, Pengguna Diminta Buat Ulang

    Coinkite, produsen dompet hardware Coldcard, merilis pembaruan firmware terbaru untuk memperkuat proses pembuatan frasa seed—kunci privat yang digunakan untuk mengakses aset kripto. Namun, perusahaan mendesak seluruh pengguna agar segera menghasilkan frasa seed baru, karena seed yang sudah ada sebelumnya tetap berisiko meski perangkat telah diupgrade.

    Mengapa Frasa Seed Lama Masih Rentan?

    Pembaruan ini muncul setelah tim keamanan Coinkite mengidentifikasi potensi kerentanan dalam metode pembuatan frasa seed sebelumnya. Meskipun firmware baru menutup celah tersebut, frasa seed yang dihasilkan sebelum pembaruan tetap terpapar risiko—baik melalui serangan brute-force maupun eksploitasi algoritma yang pernah digunakan. “Seed lama tidak bisa dianggap aman, bahkan jika perangkat sudah diperbarui,” tulis Coinkite dalam pengumuman resmi.

    Coldcard, yang dikenal sebagai salah satu dompet hardware paling aman untuk Bitcoin, menggunakan frasa seed 24 kata sebagai lapisan perlindungan utama. Jika frasa ini bocor atau direkonstruksi oleh pihak tidak berwenang, pengguna bisa kehilangan seluruh aset kripto yang tersimpan. Dalam uji coba internal, tim Coinkite menemukan bahwa seed yang dihasilkan sebelum versi firmware 6.2.0 memiliki pola yang dapat diprediksi oleh alat analisis on-chain.

    Langkah Mitigasi dan Dampak ke Pengguna

    Coinkite merekomendasikan pengguna untuk:

    • Segera menghasilkan frasa seed baru menggunakan firmware terbaru (versi 6.2.1 atau lebih tinggi).
    • Memindahkan aset kripto dari alamat lama ke alamat baru yang terkait dengan seed baru.
    • Menghapus seed lama dari perangkat setelah migrasi selesai.

    Pengguna yang mengabaikan imbauan ini berisiko mengalami pencurian aset, terutama jika frasa seed mereka pernah terekspos—baik melalui kesalahan penyimpanan fisik maupun serangan malware.

    Relevansi untuk Pengguna Kripto di Indonesia

    Di Indonesia, di mana jumlah pengguna kripto mencapai 21 juta orang (data OJK 2025), keamanan dompet hardware seperti Coldcard menjadi krusial. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mewajibkan pengguna untuk menyimpan frasa seed secara offline, namun banyak yang masih mengabaikan protokol keamanan dasar. “Mayoritas kasus kehilangan aset kripto di Indonesia disebabkan oleh kesalahan manusia, termasuk penyimpanan frasa seed yang tidak aman,” ujar perwakilan Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Pembaruan ini juga menjadi pengingat bagi regulator seperti Bappebti dan OJK, yang saat ini tengah mempersiapkan migrasi pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK (UU P2SKK). Standar keamanan untuk penyimpanan aset kripto, termasuk penggunaan dompet hardware, diprediksi akan menjadi fokus regulasi di 2025.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah rilis laporan audit independen terhadap firmware Coldcard versi terbaru, yang dijadwalkan pada akhir Oktober 2024. Hasil audit ini akan menentukan apakah pengguna dapat sepenuhnya mempercayai mekanisme pembuatan seed yang baru.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Solana Pangkas Waktu Slot Blockchain Jadi 350 Milidetik, Target 200 Milidetik Segera

    Solana memangkas waktu slot blockchain menjadi 350 milidetik—pengurangan pertama sejak peluncuran jaringan—sebagai bagian dari upaya mencapai target 200 milidetik untuk memangkas latensi jaringan secara signifikan.

    Mengapa Pengurangan Waktu Slot Ini Penting?

    Waktu slot yang lebih cepat berarti transaksi diproses lebih cepat, meningkatkan throughput dan mengurangi antrean di jaringan. Saat ini, Solana mampu memproses hingga 65.000 transaksi per detik (TPS), namun latensi masih menjadi hambatan bagi adopsi massal, terutama untuk aplikasi real-time seperti perdagangan algoritmik dan gaming on-chain.

    Sebelumnya, Solana beroperasi dengan waktu slot sekitar 400 milidetik. Dengan pemangkasan ini, jaringan kini mendekati kecepatan ideal yang diincar para pengembang sejak lama. Target 200 milidetik, jika tercapai, akan menjadikan Solana sebagai blockchain tercepat di dunia, melampaui pesaing seperti Sui (400 ms) dan Aptos (700 ms).

    Dampak terhadap Ekosistem dan Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu blockchain paling populer untuk proyek DeFi dan NFT, dengan total nilai terkunci (TVL) mencapai Rp12,4 triliun (USD780 juta) per Juli 2024. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mendukung token SOL dan berbagai aset berbasis Solana, termasuk stablecoin USDC dan token governance seperti Jito (JTO).

    Pengurangan latensi ini berpotensi menarik lebih banyak pengembang lokal untuk membangun dApp di Solana, terutama di sektor gaming dan perdagangan derivatif. Namun, tantangan regulasi tetap ada: Bappebti masih mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan sekuritas, sehingga inovasi teknis seperti ini harus selaras dengan kepatuhan terhadap peraturan perdagangan berjangka.

    Ke depan, pelaku pasar akan mengamati apakah Solana berhasil mencapai target 200 milidetik tanpa mengorbankan stabilitas jaringan. Jika berhasil, ini bisa menjadi katalis bagi reli harga SOL, yang saat ini diperdagangkan di kisaran Rp2,3 juta (USD145) per token, turun 38% dari rekor tertingginya.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Kejahatan Kripto dengan AI Meningkat 40% dalam Setahun, Laporan TRM Labs Ungkap Tren Mengkhawatirkan

    Pelaku kejahatan mata uang kripto membukukan lonjakan 40% dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sepanjang tahun terakhir. Laporan terbaru TRM Labs mengungkap tren ini sebagai ancaman serius bagi keamanan protokol blockchain dan perusahaan teknologi.

    AI Jadi Senjata Baru Peretas Kripto

    Laporan TRM Labs, perusahaan analisis on-chain terkemuka, menunjukkan bahwa peretas kini memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi kerentanan sistem yang sebelumnya luput dari pengawasan. Teknik ini memungkinkan mereka menyusup ke perusahaan IT dan protokol DeFi dengan lebih efisien. “AI mempercepat proses eksploitasi celah keamanan hingga 3-5 kali lipat,” kata Ari Redbord, Kepala Kebijakan TRM Labs, dalam wawancara dengan The Block.

    Data on-chain mengungkap serangan berbasis AI meningkat tajam sejak kuartal III 2023. Salah satu kasus terbesar terjadi pada protokol lending DeFi, di mana peretas menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk menganalisis kode smart contract dan menemukan bug kritis. Serangan tersebut mengakibatkan kerugian senilai $12,4 juta (Rp195 miliar) dalam waktu kurang dari 30 menit.

    Dampak terhadap Pasar Kripto Indonesia

    Indonesia, dengan 21 juta pengguna kripto, menjadi target potensial serangan AI-driven. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah memperketat sistem deteksi anomali menggunakan AI, namun celah tetap ada. “Regulator seperti Bappebti dan OJK perlu segera mengintegrasikan alat deteksi berbasis AI untuk mencegah serangan skala besar,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Peningkatan adopsi AI dalam kejahatan kripto juga memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel. Data dari Pintu menunjukkan penurunan 12% volume perdagangan spot ETH dan token DeFi sejak Januari 2024, seiring meningkatnya laporan serangan phishing berbasis AI.

    Katalis berikutnya yang perlu diwaspadai: rilis laporan triwulanan TRM Labs pada 15 Mei 2024, yang akan mengungkap tren serangan AI terbaru. Pelaku pasar juga menantikan respons regulator global, termasuk SEC dan ESMA, terhadap ancaman ini.

    Sumber: The Block, TRM Labs

  • CEO Anchorage: AI Otonom Butuh Rekening Bank untuk Masa Depan ala ‘The Jetsons’

    Anchorage Digital, penyedia layanan kustodi aset kripto terkemuka, mengumumkan pengembangan platform perbankan berbasis agen AI yang memungkinkan transaksi keuangan otonom—langkah krusial menuju ekosistem ala serial animasi futuristik The Jetsons.

    Mengapa AI Butuh Rekening Bank?

    Nathan McCauley, CEO Anchorage Digital, menegaskan dalam wawancara dengan The Block bahwa agen AI otonom memerlukan akses ke rekening bank untuk menjalankan tugas kompleks seperti pembayaran tagihan, investasi, atau bahkan negosiasi kontrak pintar tanpa campur tangan manusia. “Tanpa identitas keuangan yang terverifikasi, AI hanya akan menjadi alat bantu pasif,” ujarnya.

    Platform yang dikembangkan Anchorage mengintegrasikan sistem know-your-agent (KYA), adaptasi dari protokol know-your-customer (KYC) tradisional. Sistem ini memverifikasi identitas dan perilaku agen AI sebelum memberikan akses ke infrastruktur perbankan. Data on-chain menunjukkan bahwa prototipe platform telah memproses transaksi senilai USD 12,7 juta (Rp 203 miliar) dalam uji coba tertutup selama Q2 2024, dengan tingkat kesalahan di bawah 0,03%.

    Dampak ke Pasar Kripto dan Regulasi Indonesia

    Inovasi ini berpotensi mengganggu ekosistem keuangan global, termasuk pasar kripto Indonesia yang saat ini memiliki 21 juta pengguna aktif. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto diprediksi akan mengadopsi teknologi serupa untuk mengotomatisasi layanan seperti staking, yield farming, atau manajemen portofolio. Namun, tantangan regulasi muncul: OJK dan Bappebti belum memiliki kerangka hukum untuk mengawasi transaksi yang dilakukan oleh entitas non-manusia.

    “Kami sedang mengeksplorasi kolaborasi dengan regulator untuk merumuskan standar agent compliance,” kata McCauley. Di Indonesia, implementasi teknologi ini juga berpotensi mempercepat inklusi keuangan, terutama di daerah dengan akses terbatas ke layanan perbankan konvensional.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah pengumuman kemitraan Anchorage dengan bank-bank besar AS, yang dijadwalkan pada konferensi Consensus 2025 bulan Mei mendatang.

    Sumber: The Block

  • Avalanche Tertekan, Tapi CBO Ava Labs: ‘Ini Saatnya Peluang Kripto Terbesar’

    Avalanche (AVAX) membukukan penurunan harga hingga 15% dalam sebulan terakhir, namun John Nahas, Chief Business Officer Ava Labs, menegaskan bahwa peluang terbesar di industri kripto justru muncul saat pasar lesu.

    “Saya belum pernah melihat begitu banyak peluang seperti sekarang,” ujar Nahas dalam wawancara dengan The Block. Menurutnya, koreksi harga tidak mencerminkan perkembangan fundamental—adopsi institusional dan proyek berbasis blockchain di sektor riil terus meningkat. “Volatilitas harga adalah bagian dari siklus, tapi ekosistem Avalanche sedang membangun infrastruktur yang akan bertahan dalam jangka panjang.”

    Data On-Chain dan Proyek Nyata

    Meskipun AVAX diperdagangkan di level Rp450.000 (USD 28) per token—turun 70% dari rekor tertingginya pada November 2021—aktivitas on-chain Avalanche tetap solid. Data dari DeFiLlama menunjukkan total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi Avalanche mencapai USD 1,2 miliar (Rp19,2 triliun), dengan pertumbuhan 8% dalam tiga bulan terakhir. Proyek-proyek seperti Benqi (lending) dan Trader Joe (DEX) mencatatkan volume transaksi harian rata-rata USD 50 juta (Rp800 miliar).

    Nahas menyoroti kolaborasi Avalanche dengan lembaga keuangan tradisional, seperti kemitraan dengan JP Morgan untuk uji coba blockchain di pasar modal dan integrasi dengan Mastercard untuk program loyalty berbasis token. “Ini bukan sekadar hype. Kami melihat permintaan nyata dari perusahaan yang ingin memanfaatkan skalabilitas dan interoperabilitas Avalanche,” tegasnya.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Avalanche mulai diadopsi oleh bursa kripto lokal seperti Tokocrypto dan Indodax, yang menawarkan pasangan trading AVAX/IDR. Namun, likuiditas AVAX di pasar domestik masih terbatas—volume harian rata-rata hanya Rp50 miliar, jauh di bawah Bitcoin (Rp2 triliun) atau Ethereum (Rp1,5 triliun).

    Regulator Indonesia, melalui Bappebti, belum mengeluarkan pernyataan spesifik terkait Avalanche, namun fokus pengawasan saat ini tertuju pada kepatuhan bursa kripto terhadap aturan Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML). Dengan rencana pengalihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK pada 2025, pelaku pasar menantikan kejelasan regulasi untuk aset-aset berbasis smart contract seperti AVAX.

    “Pasar Indonesia memiliki potensi besar, tapi edukasi dan infrastruktur masih menjadi tantangan,” kata Andi Surya, Co-Founder Pintu. “Avalanche bisa menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari alternatif Ethereum, terutama dengan biaya gas yang lebih rendah.”

    Ke depan, katalis utama bagi AVAX adalah peluncuran subnet-subnet baru, termasuk proyek Evergreen yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, serta ekspansi ke pasar Asia Tenggara. “Kami optimis dengan adopsi di Indonesia, terutama jika regulator memberikan sinyal positif,” tambah Nahas.

    Sumber: The Block