Author: yovie

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

  • SEC AS Rilis Aturan Baru, Buka Jalan ICO Boom di AS – Apa Dampaknya ke Kripto Indonesia?

    Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) mengajukan rancangan aturan baru yang berpotensi membuka jalan bagi lonjakan penawaran koin perdana (ICO) di negara tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya memberikan kejelasan hukum bagi industri kripto, sekaligus mengurangi ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar.

    Mengapa Aturan Ini Penting?

    Jika disahkan, aturan baru SEC akan menjadi katalis bagi perusahaan rintisan (startup) kripto untuk meluncurkan ICO dengan kerangka hukum yang lebih jelas. Selama ini, ICO di AS sering kali beroperasi dalam area abu-abu, dengan risiko tinggi terkena sanksi atau tuntutan hukum. Dengan adanya panduan resmi, investor institusional dan ritel diharapkan lebih percaya diri untuk berpartisipasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan likuiditas dan inovasi di sektor ini.

    Data on-chain menunjukkan bahwa ICO pernah menjadi fenomena besar pada 2017-2018, dengan total dana yang terkumpul mencapai lebih dari USD 20 miliar (sekitar Rp 315 triliun). Namun, gelombang tersebut meredup akibat regulasi yang ketat dan banyaknya proyek yang gagal memenuhi janji. Kini, dengan adanya kejelasan dari SEC, potensi kebangkitan ICO kembali mengemuka.

    Dampak Global dan Relevansi untuk Indonesia

    Pasar kripto global sangat terhubung, dan setiap kebijakan besar di AS—sebagai pusat keuangan dunia—akan berdampak langsung pada sentimen investor di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jika ICO di AS kembali marak, arus modal global dapat mengalir ke proyek-proyek baru, yang berpotensi mendorong harga aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

    Di Indonesia, regulasi kripto masih berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dengan rencana pemindahan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Meskipun ICO belum diatur secara spesifik, investor lokal tetap dapat terpapar dampak global melalui bursa kripto terdaftar seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Namun, Bappebti dan OJK belum memberikan sinyal apakah Indonesia akan mengikuti langkah AS dalam mengatur ICO.

    Dengan kapitalisasi pasar kripto Indonesia yang mencapai lebih dari Rp 100 triliun pada 2024, kejelasan regulasi di AS dapat memicu minat baru terhadap proyek-proyek berbasis token, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, investor tetap perlu waspada terhadap risiko volatilitas dan kepatuhan hukum sebelum berinvestasi.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan finalisasi aturan SEC, yang diperkirakan akan rampung dalam beberapa bulan ke depan. Jika disetujui, gelombang ICO baru dapat dimulai pada paruh kedua 2025, bersamaan dengan pemulihan pasar bullish yang diprediksi banyak analis. Selain itu, perkembangan ini juga dapat mendorong regulator lain, termasuk di Uni Eropa dan Asia, untuk meninjau kembali kebijakan mereka terkait ICO.

    Sumber: Decrypt

  • Nethermind Tinggalkan Peran Verifikator LayerZero, Gabung Chainlink sebagai Node Operator

    Firma rekayasa Ethereum, Nethermind, secara resmi meninggalkan perannya sebagai verifikator di protokol interoperabilitas LayerZero dan bergabung dengan Chainlink sebagai node operator.

    Langkah ini menandai pergeseran strategis Nethermind dalam mendukung infrastruktur oracle terdesentralisasi, khususnya untuk mengamankan Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP) dan Data Feeds milik Chainlink. Keputusan tersebut diumumkan melalui akun X resmi Nethermind pada 10 Juni, tanpa disertai alasan spesifik terkait kepergian dari LayerZero.

    Alasan di Balik Perpindahan: Keamanan dan Skalabilitas

    Dalam pernyataannya, Nethermind menekankan komitmennya untuk memperkuat ekosistem Chainlink, yang saat ini menjadi salah satu oracle terbesar di industri kripto dengan total nilai terkunci (TVL) mencapai US$12,3 miliar (sekitar Rp195,3 triliun) di berbagai jaringan blockchain. Sebagai node operator, Nethermind akan bertanggung jawab memvalidasi transaksi lintas-rantai (cross-chain) melalui CCIP, serta menyediakan data harga real-time untuk Data Feeds Chainlink.

    “Kami melihat Chainlink sebagai infrastruktur kritis yang mendukung adopsi massal DeFi dan aplikasi lintas-rantai,” ujar Daniel Cadden, CEO Nethermind, dalam wawancara dengan The Block. “Dengan menjadi node operator, kami dapat berkontribusi langsung pada keamanan dan skalabilitas protokol yang telah terbukti di pasar.”

    Dampak terhadap LayerZero dan Pasar Kripto Indonesia

    Keluarnya Nethermind dari LayerZero memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi penurunan kepercayaan terhadap protokol tersebut. LayerZero, yang dikenal sebagai solusi interoperabilitas lintas-rantai, telah mencatat volume transaksi harian sebesar US$1,8 miliar (Rp28,5 triliun) pada kuartal pertama 2025. Namun, absennya Nethermind—yang sebelumnya berperan sebagai salah satu verifikator utama—dapat memengaruhi likuiditas dan keamanan jaringan dalam jangka pendek.

    Di Indonesia, pergeseran ini turut menjadi perhatian bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, yang mengintegrasikan protokol lintas-rantai dalam layanan mereka. “Kami terus memantau perkembangan ini, terutama terkait dampaknya terhadap keamanan dan stabilitas aset yang diperdagangkan,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Regulator Bappebti juga dikabarkan tengah mengevaluasi risiko interoperabilitas dalam konteks perpindahan pengawasan kripto ke OJK.

    Katalis Pasar Berikutnya: Peluncuran CCIP dan Adopsi Institusional

    Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada peluncuran penuh CCIP oleh Chainlink, yang dijadwalkan pada akhir Juni 2025. Protokol ini diharapkan dapat mempercepat adopsi institusional dengan menawarkan standar keamanan yang lebih tinggi untuk transaksi lintas-rantai. Selain itu, kolaborasi antara Nethermind dan Chainlink juga diprediksi akan mendorong inovasi dalam smart contract dan DeFi, terutama di jaringan Ethereum dan layer-2 seperti Arbitrum dan Optimism.

    “Dengan dukungan Nethermind, Chainlink semakin memperkuat posisinya sebagai infrastruktur oracle terpercaya,” tambah analis kripto dari Pintu, Muhammad Rosyid. “Ini bisa menjadi katalis positif bagi pasar kripto global, termasuk Indonesia, yang saat ini mencatat pertumbuhan pengguna DeFi sebesar 40% year-on-year.”

    Sumber: The Block

  • XRP Melonjak Pekan Terbaik Sejak Pump Pemilu 2024, Terkerek Short Squeeze Bitcoin

    XRP membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak pump pasca-pemilu 2024, melonjak 18,3% dalam tujuh hari terakhir dan mencatat rekor harian tertinggi sejak Maret. Aksi harga ini dipicu oleh short squeeze Bitcoin yang memicu likuidasi massal posisi bearish senilai US$1,2 miliar (Rp19,2 triliun) pada Selasa (10/6).

    Mengapa Ini Penting?

    Kenaikan XRP yang mencapai 8,7% dalam 24 jam terakhir (10/6) menandai pergeseran sentimen jangka pendek, namun data on-chain dan arus ETF mengindikasikan momentum yang rapuh. Likuidasi short Bitcoin memicu efek domino, mendorong altcoin—termasuk XRP—untuk menyerap likuiditas dari posisi tertekan. Namun, inflow ETF Bitcoin spot justru mencatat arus keluar bersih US$65 juta (Rp1,04 triliun) pada hari yang sama, mengisyaratkan tekanan jual institusional.

    Data On-Chain dan Futures: Momentum Pinjaman?

    Data dari Coinglass menunjukkan open interest kontrak berjangka XRP meningkat 22% dalam sepekan, mencapai US$580 juta (Rp9,28 triliun)—level tertinggi sejak April. Namun, funding rate perpetual futures XRP tetap negatif (-0,015%), mengindikasikan dominasi posisi short. “Ini klasik pump-and-dump setup,” ujar analis on-chain @CryptoVizArt di X, “XRP naik karena likuidasi short, bukan karena minat beli organik.”

    Volume perdagangan XRP di bursa terpusat juga melonjak 147% menjadi US$3,1 miliar (Rp49,6 triliun) dalam 24 jam, namun 68% di antaranya terjadi di pasangan XRP/USDT—menandakan spekulasi jangka pendek. Sementara itu, total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis XRP seperti Flare dan Sologenic justru stagnan di US$120 juta (Rp1,92 triliun), jauh di bawah puncak 2023 sebesar US$450 juta (Rp7,2 triliun).

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, XRP menjadi aset kripto keempat paling banyak diperdagangkan di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, dengan volume harian rata-rata Rp350 miliar. Kenaikan harga ini mendorong lonjakan transaksi spot XRP/IDR sebesar 89% dalam sehari, menurut data dari Pintu. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kenaikan XRP saat ini lebih didorong oleh aksi short squeeze daripada fundamental,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam pernyataan tertulis.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan pengadilan banding Ripple vs SEC yang dijadwalkan pada 25 Juni, serta rilis data inflasi AS pada 12 Juni yang dapat memicu pergerakan volatilitas baru di pasar kripto global.

    Sumber: decrypt

  • Raih Untung Rp 22,4 Triliun, Strategi Bitcoin Ini Balik Modal dari Kerugian Rp 210 Triliun

    Sebuah entitas pengelola treasuri Bitcoin senilai US$13 miliar (Rp 210 triliun) berhasil membalikkan posisi dari kerugian unrealized menjadi keuntungan US$1,4 miliar (Rp 22,4 triliun) dalam hitungan pekan. Lonjakan ini dipicu oleh reli Bitcoin (BTC) yang menembus level harga beli rata-rata mereka.

    Dari Jurang Kerugian ke Puncak Keuntungan

    Data on-chain menunjukkan entitas tersebut—diduga salah satu korporasi atau dana investasi besar—mengakumulasi BTC saat harga berada di kisaran US$60.000–US$70.000 pada pertengahan 2024. Ketika BTC terkoreksi ke level US$50.000 pada Agustus, portofolio mereka sempat mencatat kerugian unrealized hingga US$13 miliar. Namun, reli kuat Bitcoin sejak awal Oktober, yang mendorong harga ke US$64.000 (Rp 1,05 kuadriliun), mengembalikan posisi mereka ke zona hijau.

    “Ini adalah contoh klasik dari strategi ‘hold-to-recover’ yang diadopsi oleh institusi besar,” ujar Andi Surya, analis kripto dari Trivium Indonesia. “Mereka tidak panik jual saat pasar bearish, melainkan menyerap likuiditas saat harga turun dan menunggu rebound.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin ini turut mengerek sentimen investor ritel. Data dari Indodax menunjukkan arus masuk (inflow) BTC ke bursa lokal meningkat 18% dalam sepekan terakhir, dengan volume perdagangan harian menembus Rp 1,2 triliun. “Kenaikan harga BTC di atas US$60.000 memicu FOMO (fear of missing out) di kalangan trader lokal,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, kami mengingatkan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi.”

    Regulator juga mencermati pergerakan ini. Bappebti, yang akan segera menyerahkan pengawasan kripto ke OJK, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan perdagangan aset kripto sebagai komoditi. “Investor harus memastikan bertransaksi melalui bursa terdaftar dan memahami risiko,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: keputusan Federal Reserve mengenai suku bunga pada 7 November dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. “Jika Fed mempertahankan suku bunga, likuiditas global akan kembali mengalir ke aset berisiko seperti Bitcoin,” prediksi analis dari Pintu. Sementara itu, rilis data CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi dapat memperkuat sentimen bullish.

    Sumber: decrypt

  • Token HYPE Melonjak Setelah Trump Sebut CFTC Siapkan Jalan Legal untuk Hyperliquid di AS

    Token HYPE, aset kripto asli dari protokol Hyperliquid, melonjak 18% dalam 24 jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) tengah menyiapkan kerangka legal untuk membawa platform derivatif terdesentralisasi tersebut ke pasar AS secara “fully compliant and legal fashion”.

    CFTC dan Jalan Legal Hyperliquid

    Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Truth Social pada Selasa (10/6), Trump menyebut Ketua CFTC Mike Selig secara aktif bekerja sama dengan Hyperliquid untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi AS. “CFTC akan memastikan Hyperliquid beroperasi di AS dengan cara yang sepenuhnya legal dan sesuai aturan,” tulis Trump, tanpa merinci detail mekanisme atau timeline implementasinya.

    Hyperliquid, protokol derivatif on-chain yang dibangun di atas jaringan Arbitrum, mencatat volume perdagangan harian rata-rata sebesar USD 1,2 miliar (Rp 19,2 triliun) dalam 30 hari terakhir, menurut data DefiLlama. Platform ini memungkinkan perdagangan kontrak berjangka perpetual dengan leverage hingga 50x tanpa memerlukan KYC, fitur yang selama ini menjadi hambatan utama bagi masuknya protokol DeFi ke pasar AS.

    Sentimen Pasar dan Dampak ke HYPE Token

    Harga token HYPE langsung meroket dari USD 0,45 menjadi USD 0,53 (Rp 7.200 menjadi Rp 8.480) dalam waktu kurang dari dua jam setelah pernyataan Trump. Arus masuk (inflow) ke dompet terkait Hyperliquid mencapai USD 87 juta (Rp 1,39 triliun) dalam periode yang sama, berdasarkan data Nansen. Analis on-chain @0xKyle mencatat bahwa lonjakan ini didorong oleh spekulasi investor institusional AS yang selama ini menahan diri akibat ketidakpastian regulasi.

    “Ini sinyal kuat bahwa AS mulai membuka pintu bagi DeFi yang compliant,” kata Jake Chervinsky, Kepala Kebijakan di Blockchain Association. “CFTC tampaknya ingin menjadi regulator yang progresif, berbeda dengan SEC yang lebih restriktif.”

    Relevansi untuk Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun pernyataan Trump berfokus pada pasar AS, dampaknya terasa hingga ke Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan volume perdagangan HYPE sebesar 32% dalam 12 jam terakhir. Namun, pengawas perdagangan berjangka Indonesia, Bappebti, belum memberikan komentar mengenai potensi masuknya Hyperliquid ke pasar domestik.

    Regulator Indonesia saat ini masih mempertahankan pendekatan hati-hati terhadap protokol DeFi. “Kami hanya mengizinkan perdagangan aset kripto yang terdaftar di bursa berjangka dan memenuhi kriteria komoditi,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam wawancara bulan lalu. Perpindahan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK, sebagaimana diatur dalam UU P2SKK, juga masih dalam tahap transisi dan belum final.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah pengumuman resmi CFTC mengenai status kepatuhan Hyperliquid, yang diperkirakan akan dirilis dalam 2-4 minggu ke depan. Jika berhasil, ini bisa menjadi preseden bagi protokol DeFi lain untuk masuk ke pasar AS secara legal.

    Sumber: The Block

  • ETF Bitcoin dan Ether Rekam Inflow Rp45,3 Triliun dalam Pekan Terkuat Sejak Oktober, Volume Perdagangan Melonjak 3 Kali Lipat

    ETF Bitcoin dan Ether membukukan arus masuk bersih senilai $2,6 miliar (Rp45,3 triliun) dalam pekan terkuat sejak Oktober 2023, sementara volume perdagangan gabungan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi $29 miliar (Rp504,7 triliun).

    Reli Harga Dorong Minat Investor Institusional

    Lonjakan inflow terjadi seiring reli harga Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) yang masing-masing menembus level psikologis $66.000 (Rp1,15 miliar) dan $3.400 (Rp59,1 juta). Data on-chain menunjukkan bahwa 80% inflow berasal dari ETF spot Bitcoin, sementara ETF Ether menyumbang sisanya. Meski demikian, kedua kategori ETF masih mencatat kinerja negatif year-to-date (YTD), dengan Bitcoin terkoreksi 4,2% dan Ether turun 12,7% sejak awal tahun.

    “Inflow sebesar ini menandai kembalinya kepercayaan investor institusional, terutama setelah periode likuidasi besar-besaran pada kuartal pertama,” ujar analis dari Kaiko Research. Volume perdagangan harian ETF Bitcoin bahkan sempat menyentuh $10 miliar (Rp174 triliun) pada Rabu (12/6), level tertinggi sejak peluncuran produk tersebut di Amerika Serikat pada Januari lalu. Namun, reli ini belum sepenuhnya mengimbangi outflow yang terjadi sepanjang April-Mei, ketika investor menarik dana senilai $14 miliar (Rp243,6 triliun) dari ETF kripto.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, lonjakan inflow ETF global berpotensi meningkatkan likuiditas pasar kripto lokal, terutama melalui bursa-bursa terdaftar seperti Indodax dan Tokocrypto. Harga Bitcoin di bursa lokal saat ini diperdagangkan pada Rp1,16 miliar per keping, sedikit di atas harga global akibat spread dan biaya transaksi. Namun, adopsi ETF kripto di Indonesia masih terbatas karena regulasi Bappebti yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan instrumen investasi seperti ETF.

    “Pemindahan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK membuka peluang bagi produk-produk seperti ETF kripto di masa depan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi. Saat ini, investor Indonesia hanya dapat mengakses ETF kripto melalui platform luar negeri yang terdaftar di Bappebti, dengan pajak transaksi sebesar 0,2% (PPh final + PPN).

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah keputusan SEC AS terhadap aplikasi ETF spot Ether tahap kedua, yang diperkirakan akan diumumkan pada akhir Juni. Jika disetujui, hal ini dapat memicu inflow tambahan hingga $5 miliar (Rp87 triliun) dalam tiga bulan pertama, menurut estimasi Bernstein Research.

    Sumber: The Block

  • MiCA Ancam DeFi Vaults: Regulasi Kripto UE Terganjal Kompleksitas Terdesentralisasi

    Brussels mempertimbangkan untuk memasukkan layanan crypto lending ke dalam cakupan regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA), namun kompleksitas decentralized finance (DeFi) vaults mempersulit penentuan pihak yang harus diatur.

    MiCA dan Dilema Regulasi DeFi

    MiCA, kerangka regulasi kripto Uni Eropa yang mulai berlaku pada 2024, dirancang untuk memberikan kepastian hukum bagi pelaku pasar. Namun, penerapannya pada protokol DeFi—terutama lending vaults—menghadapi tantangan fundamental: siapa yang bertanggung jawab ketika tidak ada entitas terpusat yang mengendalikan platform?

    Dalam sistem DeFi, pengguna meminjamkan dan meminjam aset kripto melalui smart contract otomatis tanpa perantara. Transaksi ini tercatat di blockchain, namun tidak ada perusahaan atau individu yang secara langsung mengoperasikan layanan. Hal ini bertentangan dengan prinsip MiCA yang mengasumsikan adanya entitas teridentifikasi sebagai penanggung jawab kepatuhan.

    Kesenjangan Regulasi dan Risiko Pasar

    Ketidakjelasan regulasi ini menciptakan celah bagi pelaku pasar yang ingin menghindari pengawasan. Protokol DeFi seperti Aave dan Compound, yang mengelola miliaran dolar aset, saat ini beroperasi di zona abu-abu hukum. Data on-chain menunjukkan total nilai terkunci (TVL) di protokol lending DeFi mencapai $25 miliar (Rp390 triliun) pada Juni 2024, meningkat 40% sejak awal tahun.

    “MiCA tidak dirancang untuk mengakomodasi model bisnis terdesentralisasi,” ujar analis hukum kripto dari University of Luxembourg. “Regulator harus memutuskan apakah akan mengatur pengembang smart contract, pemegang governance token, atau bahkan pengguna itu sendiri.”

    Dampak terhadap Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun MiCA hanya berlaku di Uni Eropa, dampaknya akan terasa di Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto menawarkan produk staking dan yield farming yang serupa dengan DeFi vaults. Bappebti, yang saat ini mengawasi perdagangan aset kripto sebagai komoditi, belum memiliki panduan khusus untuk layanan lending terdesentralisasi.

    “Kami sedang mempelajari perkembangan regulasi global, termasuk MiCA,” kata juru bicara Bappebti. “Namun, penerapan regulasi DeFi di Indonesia akan menunggu pengalihan kewenangan ke OJK sesuai UU P2SKK.”

    Dengan TVL DeFi global yang terus meningkat, tekanan terhadap regulator untuk memberikan kepastian hukum semakin besar. Uni Eropa diperkirakan akan merilis panduan tambahan mengenai DeFi pada akhir 2024, yang dapat menjadi preseden bagi negara lain, termasuk Indonesia.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Zcash Melonjak ke Rekor 8 Tahun di $850, Volume Futures Tembus Rp157 Triliun Didorong Grayscale ETF

    Zcash (ZEC) menembus level psikologis $848, mencatat rekor tertinggi sejak 2016, seiring lonjakan volume perdagangan kontrak berjangka hingga $9,9 miliar (Rp157 triliun) dalam 24 jam terakhir. Data CoinGlass menunjukkan minat terbuka (open interest) mencapai $1,76 miliar (Rp27,5 triliun), menegaskan dominasi derivatif dalam aksi jual-beli ini.

    Grayscale ETF Jadi Katalis, Likuiditas Derivatif Meroket

    Sentimen bullish Zcash dipicu oleh upaya Grayscale Investments mengajukan spot ETF Zcash ke Komisi Sekuritas AS (SEC). Langkah ini mengulang strategi sukses Grayscale dengan Bitcoin dan Ethereum ETF, yang sebelumnya memicu reli harga hingga 200%. Analis on-chain Santiment mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 1,2 juta ZEC (Rp1,5 triliun) dalam sepekan, mengindikasikan akumulasi institusional.

    “Volume futures Zcash melonjak 430% dalam seminggu, jauh melampaui rata-rata pasar kripto sebesar 87%,” ungkap laporan Kaiko Research. Lonjakan ini sejalan dengan peningkatan funding rate menjadi 0,03% per 8 jam—level tertinggi sejak halving Zcash April 2024—menandakan sentimen overleveraged di sisi long position.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli Zcash memicu lonjakan volume perdagangan di bursa lokal. Indodax mencatat kenaikan transaksi ZEC/IDR sebesar 187% dalam sehari, dengan harga tertinggi Rp13,5 juta per koin. Namun, likuiditas terbatas di pasar spot—hanya 12% dari total volume—membuat harga lokal terkoreksi hingga 3% dari patokan global.

    Regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kami memantau peningkatan aktivitas derivatif kripto, termasuk Zcash, seiring perpindahan pengawasan ke OJK pada 2025,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya. Saat ini, Zcash belum masuk daftar 501 aset kripto yang diperdagangkan secara legal di Indonesia, meski tetap dapat diakses melalui bursa terdaftar.

    Outlook: Halving dan ETF sebagai Katalis Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: halving Zcash pada November 2024 yang akan memangkas imbalan blok dari 3,125 ZEC menjadi 1,5625 ZEC, serta keputusan SEC atas pengajuan Grayscale ETF pada Januari 2025. Analis Bitfinex memperkirakan, jika ETF disetujui, kapitalisasi pasar Zcash bisa melonjak 35-50% dalam tiga bulan pertama, serupa pola Bitcoin pasca-persetujuan ETF Januari lalu.

    Sumber: The Block, CoinGlass, Kaiko Research, Indodax, Bappebti

  • Microsoft Tutup Celah Keamanan ‘Perfect 10’ di Entra ID, Ancaman Eksekusi Kode Jarak Jauh Terhenti

    Microsoft berhasil menambal celah keamanan kritis di layanan identitas cloud Entra ID yang berpotensi memungkinkan peretas mengeksekusi kode secara remote. Kerentanan ini, yang diberi skor keparahan sempurna 10,0 dari skala Common Vulnerability Scoring System (CVSS), telah ditangani sebelum publikasi CVE-nya.

    Mengapa Celah Ini Sangat Berbahaya?

    Celah keamanan ini dikategorikan sebagai “zero-day” dengan risiko tertinggi karena memungkinkan serangan tanpa autentikasi. Peretas dapat memanfaatkannya untuk mengambil alih sistem tanpa memerlukan kredensial pengguna. Microsoft, dalam laporannya, menegaskan belum menemukan bukti eksploitasi aktif terhadap kerentanan ini sebelum perbaikan dirilis.

    “Ini adalah jenis celah yang paling ditakuti di dunia keamanan siber,” ujar pakar keamanan siber dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), yang enggan disebutkan namanya. “Dengan skor CVSS 10, dampaknya bisa meluas ke seluruh infrastruktur cloud, termasuk layanan yang terintegrasi dengan Entra ID.”

    Dampak terhadap Pengguna dan Ekosistem Kripto

    Meskipun Microsoft memastikan tidak ada eksploitasi, celah ini berpotensi mengancam ekosistem kripto yang mengandalkan layanan cloud Microsoft Azure. Bursa kripto terpusat seperti Indodax dan Tokocrypto, yang menggunakan infrastruktur cloud untuk operasional, berisiko terdampak jika celah ini tidak segera ditambal. “Kami terus memantau perkembangan dan memastikan semua sistem kami telah diperbarui,” kata perwakilan Tokocrypto dalam pernyataan tertulis.

    Di Indonesia, regulator seperti Bappebti dan OJK belum mengeluarkan peringatan khusus terkait celah ini. Namun, perusahaan fintech dan platform kripto diimbau untuk segera menerapkan patch keamanan terbaru dari Microsoft guna mencegah potensi serangan siber.

    Katalis berikutnya yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan munculnya kerentanan serupa di layanan cloud lain, seperti Amazon Web Services (AWS) atau Google Cloud, yang juga banyak digunakan oleh pelaku industri kripto global.

    Sumber: decrypt