Tag: OJK

  • DPR Korea Selatan Usulkan Perluasan Kewenangan FIU untuk Buru Bursa Kripto Ilegal

    Seoul — Anggota parlemen Korea Selatan mengajukan rancangan undang-undang yang memperluas kewenangan Financial Intelligence Unit (FIU) untuk menyelidiki dan merujuk operator bursa kripto tak berizin langsung ke penegak hukum.

    Langkah ini menandai penguatan pengawasan terhadap industri kripto di negara dengan 6 juta pengguna aktif. Jika disahkan, FIU dapat bertindak cepat terhadap pelanggaran tanpa harus menunggu koordinasi dengan regulator lain, mengurangi celah regulasi yang selama ini dimanfaatkan bursa ilegal.

    Kewenangan FIU Diperluas: Investigasi hingga Penegakan Hukum

    Rancangan undang-undang tersebut mengusulkan dua perubahan krusial: pertama, FIU berwenang menyelidiki dugaan pelanggaran oleh entitas kripto yang tidak terdaftar di Komisi Jasa Keuangan (FSC) Korea Selatan. Kedua, FIU dapat langsung merujuk temuan ke jaksa atau kepolisian tanpa melalui proses birokrasi panjang.

    Saat ini, FIU hanya berperan sebagai unit intelijen keuangan yang menganalisis transaksi mencurigakan, namun tidak memiliki kewenangan penegakan hukum. Data FIU menunjukkan, sepanjang 2023, tercatat 1.247 kasus transaksi kripto ilegal senilai ₩1,2 triliun (Rp14,4 triliun) yang melibatkan bursa tak berizin.

    Dampak terhadap Pasar Kripto Korea Selatan dan Relevansi untuk Indonesia

    Korea Selatan merupakan salah satu pasar kripto terbesar di Asia dengan volume perdagangan harian mencapai ₩15 triliun (Rp180 triliun). Regulasi ketat seperti ini dapat meningkatkan kepercayaan investor institusional, sekaligus menekan praktik pencucian uang yang kerap dikaitkan dengan bursa ilegal.

    Di Indonesia, pengawasan bursa kripto saat ini berada di bawah Bappebti, dengan 38 entitas terdaftar. Namun, dengan rencana pengalihan kewenangan ke OJK (UU P2SKK), Indonesia mungkin akan mengadopsi pendekatan serupa—memperkuat kewenangan unit intelijen keuangan untuk menindak bursa ilegal secara langsung. Saat ini, OJK dan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) masih terbatas pada pelaporan transaksi mencurigakan tanpa kewenangan penegakan hukum.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah pengesahan rancangan undang-undang tersebut, yang diperkirakan akan dibahas dalam sidang parlemen akhir tahun ini. Jika disahkan, efek domino dapat meluas ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah memperketat regulasi kripto.

    Sumber: Cointelegraph

  • Injective Kantongi Izin Agen Transfer SEC, Perkuat Infrastruktur Pasar Tokenisasi Aset

    Injective, melalui entitas afiliasinya, mengantongi izin agen transfer dari Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), langkah krusial untuk memperkuat infrastruktur pasar tokenisasi aset institusional.

    Mengapa Izin Ini Penting?

    Dengan registrasi ini, Injective kini berwenang memelihara catatan kepemilikan sekuritas, termasuk token sekuritas. Izin ini menandai ekspansi Injective ke ranah layanan keuangan terregulasi, melengkapi ekosistemnya yang sudah mencakup blockchain modular dan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).

    “Ini adalah tonggak penting bagi Injective dalam membangun infrastruktur pasar yang sesuai regulasi,” ujar Eric Chen, CEO Injective Labs, dalam pernyataan resmi. “Kami kini dapat menawarkan solusi end-to-end untuk tokenisasi aset, mulai dari penerbitan hingga perdagangan, dengan kepatuhan penuh terhadap standar SEC.”

    Dampak Terhadap Tokenisasi Aset dan DeFi

    Registrasi agen transfer SEC memungkinkan Injective untuk berkolaborasi dengan institusi tradisional yang ingin menerbitkan atau memperdagangkan token sekuritas. Di AS, token sekuritas—seperti real estate atau saham yang di-tokenisasi—harus mematuhi peraturan sekuritas federal, termasuk pencatatan kepemilikan yang akurat.

    Data on-chain menunjukkan lonjakan minat terhadap tokenisasi aset. Menurut rantai analitik, total nilai terkunci (TVL) di protokol tokenisasi aset global mencapai USD 12,7 miliar (sekitar Rp 203,2 triliun) pada Juli 2024, naik 42% dari tahun sebelumnya. Injective, dengan kapitalisasi pasar USD 2,1 miliar (Rp 33,6 triliun), kini berpotensi menyerap sebagian likuiditas ini.

    Relevansi untuk Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun izin ini berlaku di AS, perkembangan ini patut dicermati oleh pelaku pasar kripto Indonesia. Regulator lokal seperti Bappebti dan OJK tengah mempersiapkan kerangka hukum untuk tokenisasi aset, seiring dengan rencana pengalihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK di bawah UU P2SKK.

    “Tokenisasi aset akan menjadi tren global, dan Indonesia tidak boleh ketinggalan,” kata Tirta Karma Senjaya, Direktur Pengembangan Bursa Komoditi dan Derivatif Bappebti. “Kami sedang mengevaluasi model regulasi yang memungkinkan tokenisasi aset dengan tetap melindungi investor.”

    Saat ini, bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto belum menawarkan token sekuritas, namun beberapa platform seperti Pluang telah mulai mengeksplorasi tokenisasi emas. Dengan adanya preseden seperti Injective, tekanan terhadap regulator untuk mempercepat regulasi tokenisasi aset diprediksi akan meningkat.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan langkah konkret Injective pasca-registrasi, termasuk kemungkinan peluncuran produk tokenisasi aset pertama. Selain itu, SEC juga sedang meninjau 12 aplikasi spot Ethereum ETF, yang jika disetujui, dapat semakin mendorong adopsi token sekuritas di AS.

    Di Indonesia, agenda regulasi yang dinantikan adalah penerbitan peraturan turunan UU P2SKK terkait aset kripto, yang diharapkan rampung pada kuartal IV 2024. “Kami berharap regulasi baru akan memberikan kepastian hukum bagi tokenisasi aset,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Tokenisasi Obligasi Diprediksi Jadi Jaminan Utama Institusi, GSR Soroti Potensi Besar

    Managing Director GSR Andy Baehr menegaskan, tokenisasi instrumen pendapatan tetap (fixed income) berpotensi menjadi komponen krusial dalam kolateral institusional.

    Pernyataan Baehr menyoroti pergeseran strategi di tengah meningkatnya minat lembaga keuangan terhadap aset digital. Tokenisasi obligasi, misalnya, memungkinkan efisiensi penyelesaian transaksi dan peningkatan likuiditas—dampak langsung yang bisa menggerakkan kapitalisasi pasar hingga puluhan miliar dolar.

    Mengapa Tokenisasi Fixed Income Menarik Institusi?

    GSR, market maker kripto global, melihat tiga katalis utama: (1) pengurangan biaya operasional melalui smart contract, (2) akses 24/7 ke pasar obligasi yang selama ini terbatasi jam perdagangan tradisional, dan (3) transparansi on-chain yang mengurangi risiko counterparty. “Tokenisasi ekuitas memang menarik, tapi fixed income menawarkan stabilitas yield yang lebih cocok untuk portofolio institusi,” ujar Baehr dalam wawancara dengan The Block.

    Data dari RWA.xyz menunjukkan, nilai aset real world (RWA) yang tertokenisasi telah menembus US$10 miliar (Rp157 triliun) pada kuartal II 2024, dengan obligasi korporasi dan treasury AS mendominasi 68% pangsa pasar. BlackRock dan Franklin Templeton bahkan telah meluncurkan produk tokenized treasury, menandai validasi dari raksasa manajemen aset.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Peluang dan Tantangan Regulasi

    Di Indonesia, potensi tokenisasi fixed income masih terbatas oleh regulasi. Bappebti saat ini hanya mengizinkan perdagangan aset kripto sebagai komoditi, bukan instrumen keuangan. Namun, dengan rencana pengalihan pengawasan ke OJK (UU P2SKK), pintu bagi produk tokenized securities bisa terbuka. “Kami sedang mengeksplorasi kerangka kerja untuk aset digital berbasis sekuritas,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, dalam seminar Maret 2024.

    Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mulai berkolaborasi dengan perusahaan fintech untuk menguji coba tokenisasi emas dan properti. Jika tokenized fixed income masuk, likuiditas pasar bisa meningkat signifikan—terutama mengingat 21 juta pengguna kripto Indonesia (data OJK 2025) yang selama ini hanya terpapar spot trading.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar: keputusan SEC AS terhadap spot ETF tokenized treasury, serta penerbitan panduan teknis oleh OJK untuk aset digital berbasis sekuritas. Kedua faktor ini bisa menjadi pemicu arus masuk modal institusi ke pasar kripto global dan lokal.

    Sumber: The Block

  • Pendapatan Alibaba Melonjak 9% Didorong Cloud AI 45%, Tapi Laba Anjlok 75%—Saham Tertekan

    Alibaba membukukan kenaikan pendapatan 9% year-on-year (YoY) pada kuartal Juni 2024, didorong oleh lonjakan 45% di segmen cloud dan produk kecerdasan buatan (AI), namun laba bersihnya anjlok 75%—memicu penurunan saham pasca-pengumuman.

    Cloud AI Jadi Mesin Pertumbuhan, Tapi Margin Tergerus

    Pendapatan dari unit cloud intelligence Alibaba mencapai US$4,5 miliar (Rp71,2 triliun) pada kuartal tersebut, naik 45% YoY, menjadi katalis utama kinerja positif perusahaan. Namun, lonjakan ini tak mampu menutupi tekanan pada margin laba. Laba bersih Alibaba turun drastis dari US$3,3 miliar (Rp52,2 triliun) menjadi hanya US$840 juta (Rp13,3 triliun), memperpanjang rentetan gagal memenuhi ekspektasi analis selama lima kuartal berturut-turut.

    “Pertumbuhan cloud AI kami tetap solid, tapi investasi besar di infrastruktur dan kompetisi ketat di pasar global menggerus profitabilitas,” kata CEO Alibaba, Eddie Wu, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa perusahaan akan terus mengoptimalkan biaya operasional untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi dan efisiensi.

    Dampak ke Ekosistem Kripto dan Teknologi Indonesia

    Meskipun Alibaba bukan pemain langsung di pasar kripto, pertumbuhan cloud AI-nya berdampak signifikan terhadap ekosistem teknologi global, termasuk Indonesia. Layanan cloud Alibaba (Alibaba Cloud) menjadi tulang punggung bagi sejumlah bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, yang mengandalkan infrastruktur skalabel untuk operasional trading dan penyimpanan data.

    Di sisi regulasi, penurunan laba Alibaba juga menjadi sinyal bagi investor teknologi di Indonesia untuk lebih berhati-hati. OJK dan Bappebti, yang tengah mempersiapkan migrasi pengawasan aset kripto ke OJK, perlu memantau dinamika ini—terutama terkait risiko ketergantungan pada penyedia cloud global. “Ketidakpastian profitabilitas raksasa teknologi seperti Alibaba bisa memicu volatilitas di pasar saham dan aset digital,” ujar analis dari Pintu, platform kripto lokal.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah laporan kuartal selanjutnya, di mana Alibaba diharapkan menunjukkan perbaikan margin laba. Selain itu, perkembangan regulasi cloud di Tiongkok dan kebijakan AI global juga akan menjadi faktor penentu bagi sentimen investor.

    Sumber: decrypt

  • Ketua CFTC Siap Dorong Regulasi Kripto Jika CLARITY Act Gagal Disahkan

    Washington, DC — Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC), Rostin Behnam, menegaskan lembaganya akan mengambil langkah proaktif mengatur pasar kripto jika Kongres gagal mengesahkan CLARITY Act. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat Innovation Advisory Committee pada Rabu (11/6).

    CFTC Siapkan Kebijakan Mandiri

    Behnam menginstruksikan staf CFTC untuk mengeksplorasi perlindungan bagi pengembang protokol kripto dan kebijakan terkait aset digital lainnya. “Kami tidak bisa menunggu selamanya,” ujarnya. “Jika CLARITY Act tertunda atau gagal, CFTC akan melangkah maju dengan kerangka regulasi yang jelas.”

    CLARITY Act, rancangan undang-undang yang diusulkan untuk memberikan wewenang eksplisit kepada CFTC dalam mengawasi pasar spot kripto, saat ini masih terhambat di Kongres. Tanpa undang-undang ini, CFTC hanya memiliki otoritas terbatas atas derivatif kripto, sementara pasar spot—yang mencakup perdagangan langsung Bitcoin dan Ethereum—tetap berada di bawah pengawasan SEC.

    Dampak ke Pasar Global dan Indonesia

    Langkah CFTC ini berpotensi menciptakan preseden regulasi global. Jika AS menetapkan standar baru, negara-negara lain, termasuk Indonesia, mungkin mengikuti. Saat ini, Indonesia mengawasi kripto sebagai komoditi melalui Bappebti, dengan rencana pengalihan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Analis menilai, kejelasan regulasi AS dapat meningkatkan likuiditas pasar global, termasuk di bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto. Namun, perbedaan pendekatan antara CFTC (komoditi) dan SEC (sekuritas) masih menjadi risiko ketidakpastian. “Investor institusional menunggu kepastian sebelum masuk,” kata Andi Surya, Kepala Riset Pintu.

    CFTC berencana merilis draf kebijakan awal pada kuartal III 2025. Katalis berikutnya: sidang Kongres tentang CLARITY Act pada September 2025.

    Sumber: Cointelegraph

  • Likuidasi Short Kripto Tembus US$3,1 Miliar Saat Bitcoin Dekati US$72.000

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$71.800 pada Selasa (11/6), memicu gelombang likuidasi posisi short senilai US$3,1 miliar dalam dua hari terakhir. Data on-chain menunjukkan arus masuk modal ke bursa kripto global melonjak, sementara dominasi Bitcoin terhadap altcoin mencapai 54%.

    Mengapa Ini Penting?

    Likuidasi short masif senilai US$3,1 miliar (setara Rp49,6 triliun) dalam 48 jam terakhir menjadi sinyal kuat pembalikan tren bearish. Analis Glassnode mencatat, rasio long/short di bursa terpusat seperti Binance dan Bybit mencapai 2,3—level tertinggi sejak April 2024. “Ini bukan sekadar reli harga, tapi penyerapan likuiditas dari pelaku pasar yang terjebak posisi short,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research.

    Kronologi pergerakan harga menunjukkan Bitcoin terkoreksi tipis dari US$71.900 ke US$71.500 dalam waktu satu jam, sebelum kembali menguat ke US$71.850. Volume perdagangan harian mencapai US$58 miliar (Rp928 triliun), dengan 62% berasal dari pasangan trading BTC/USDT. Sementara itu, Ethereum (ETH) stagnan di level US$3.800, meski total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis ETH naik 4% menjadi US$61 miliar.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin mendorong volume perdagangan harian di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto naik 35% menjadi Rp3,2 triliun. Harga BTC di platform domestik sempat menyentuh Rp1,29 miliar—premium 0,8% dibanding harga global. “Kenaikan ini memicu FOMO di kalangan investor ritel, terutama setelah likuidasi short global,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi, mengingat pengawasan aset kripto akan segera dialihkan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah data inflasi AS (CPI) yang dirilis Rabu (12/6). Jika angka inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan, yang berpotensi mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, inflasi tinggi bisa memicu koreksi tajam.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Penipu Kripto Berkedok AML: Dompet Pengguna Terancam Dikuras

    Penipu mata uang kripto membanjiri pasar dengan layanan pemeriksaan kepatuhan Anti-Money Laundering (AML) palsu, mengincar dompet pengguna untuk dikuras habis. Modus ini memanfaatkan ketakutan pengguna terhadap regulasi dan sanksi, memaksa mereka menyetujui transaksi berisiko tinggi.

    Modus Operandi: AML Palsu yang Mematikan

    Pelaku menyamar sebagai platform AML resmi, seperti Chainalysis atau TRM Labs, dengan situs web dan antarmuka tiruan. Mereka mengirimkan tautan melalui email, media sosial, atau pesan langsung, mengklaim dompet pengguna terindikasi aktivitas mencurigakan dan harus diverifikasi. Pengguna yang tergiur diminta menghubungkan dompet kripto mereka ke situs palsu dan menyetujui transaksi yang sebenarnya memberikan akses penuh kepada penipu.

    Data on-chain dari ScamSniffer menunjukkan lonjakan 300% laporan insiden serupa dalam tiga bulan terakhir, dengan kerugian rata-rata mencapai 2,4 Bitcoin (Rp1,8 miliar) per korban. “Penipu ini memanfaatkan urgensi dan ketidaktahuan pengguna tentang mekanisme AML yang sebenarnya,” ujar pakar keamanan kripto dari SlowMist, 23X.

    Dampak di Indonesia: Regulasi Ketat, Risiko Tinggi

    Di Indonesia, di mana transaksi kripto diawasi ketat oleh Bappebti dan OJK, modus ini berpotensi merajalela. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mewajibkan verifikasi AML untuk semua pengguna, menciptakan celah bagi penipu untuk memanfaatkan kepanikan. “Pengguna sering kali tidak memeriksa ulang sumber tautan dan langsung mengklik karena takut akun mereka diblokir,” kata Head of Compliance Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Bappebti mencatat 127 laporan kasus penipuan berkedok AML sepanjang 2024, naik 45% dibanding tahun sebelumnya. Regulator mengimbau pengguna untuk hanya mengakses layanan AML melalui platform resmi bursa atau penyedia jasa yang terdaftar di Bappebti. “Jangan pernah menghubungkan dompet ke situs yang tidak terverifikasi,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar: Edukasi dan Teknologi

    Pelaku pasar menantikan peluncuran fitur verifikasi AML terdesentralisasi oleh protokol seperti Chainlink dan Polygon ID, yang diharapkan mengurangi ketergantungan pada layanan terpusat. Sementara itu, bursa kripto Indonesia berencana menggelar kampanye edukasi massal bekerja sama dengan Kominfo dan asosiasi blockchain lokal, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Sumber: decrypt, ScamSniffer, Bappebti, Tokocrypto

  • Bitcoin Tembus Rp1,3 Miliar, Likuidasi Shorts Capai Rp53 Triliun dalam Dua Hari

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis $72.000 (Rp1,3 miliar) pada Kamis (12/6), melanjutkan reli dua hari yang memicu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah senilai $3 miliar (Rp53,4 triliun). Aksi harga ini menjadi tantangan nyata pertama terhadap pola bearish yang bertahan sejak November 2024.

    Likuidasi Shorts Rekor, Sentimen Pasar Berbalik Bullish

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC dalam 48 jam terakhir mencapai $3,05 miliar, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu oleh aksi jual panik (short squeeze) yang memaksa pedagang dengan posisi bearish menutup kontrak mereka secara massal. Hanya dalam sehari, harga BTC melonjak 8,2%, menguat dari $66.500 menjadi $72.100—level yang terakhir kali terlihat pada Juni 2024.

    “Ini adalah pergeseran sentimen yang signifikan,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Pasar sedang menyerap likuiditas dari posisi short yang overleveraged, dan ini bisa menjadi katalis untuk reli lebih lanjut menuju $80.000.” Thielen menambahkan bahwa volume perdagangan spot ETF Bitcoin di AS juga meningkat 40% dalam sepekan terakhir, menandai arus masuk institusional yang kuat.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli BTC langsung terasa. Harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak ke Rp1,32 miliar per keping, naik 7,8% dalam sehari. Volume perdagangan harian di Indodax mencapai Rp2,1 triliun, tertinggi sejak April 2024. Analis dari Pintu mencatat bahwa likuidasi short global juga memicu lonjakan minat terhadap altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL), yang masing-masing naik 6% dan 9% dalam 24 jam.

    Namun, reli ini terjadi di tengah ketidakpastian regulasi. Dengan pengalihan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK yang akan berlaku penuh pada 2025, pelaku pasar menanti kejelasan aturan terkait perdagangan derivatif dan staking. “Kami masih menunggu petunjuk teknis dari OJK,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Tanpa kepastian, likuiditas di pasar berjangka kripto lokal bisa terhambat.”

    Outlook: Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: (1) keputusan Federal Reserve AS mengenai suku bunga pada 18 Juni, dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pada 13 Juni. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto. Di sisi teknikal, BTC perlu menembus resistensi $73.500 untuk mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.

    Di sisi on-chain, alamat dompet BTC dengan saldo lebih dari 1.000 BTC (whale) mencatat peningkatan aktivitas sebesar 12% dalam sepekan terakhir, menurut data Glassnode. Ini menunjukkan akumulasi oleh investor institusional, yang bisa menjadi sinyal bullish lebih lanjut.

    Sumber: Decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Pintu

  • 17 Hacker Iran Didakwa Curi Rp95 Miliar Bitcoin dalam Serangan Siber Global

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mendakwa 17 tersangka hacker asal Iran yang terafiliasi dengan Mabna Institute atas kampanye peretasan massif yang menyasar lebih dari 300 universitas, perusahaan, dan lembaga pemerintah di 22 negara. Aksi mereka mengakibatkan pemerasan Bitcoin senilai $6 juta (sekitar Rp95 miliar).

    Modus Operasi dan Dampak Global

    Para tersangka, yang beroperasi sejak 2013, diduga menggunakan teknik spear-phishing untuk mencuri kredensial login dan mengakses data sensitif. Korban termasuk universitas terkemuka seperti Harvard, MIT, dan Oxford, serta perusahaan Fortune 500 dan badan pemerintah AS, Inggris, dan Israel. Data yang dicuri kemudian dijual di pasar gelap atau digunakan untuk memeras korban dengan imbalan Bitcoin.

    Menurut dakwaan, Mabna Institute berhasil mencuri lebih dari 31 terabyte data akademik dan penelitian, termasuk hasil riset senilai jutaan dolar. FBI mencatat bahwa kelompok ini secara khusus menargetkan penelitian di bidang energi, teknologi, dan kesehatan—sektor yang memiliki nilai strategis tinggi.

    Keterkaitan dengan Bitcoin dan Ekosistem Kripto

    Pemerasan dilakukan dengan meminta tebusan dalam bentuk Bitcoin, memanfaatkan anonimitas transaksi kripto untuk menghindari pelacakan. Analisis on-chain menunjukkan bahwa alamat dompet kripto yang digunakan Mabna Institute menerima setidaknya 1.000 BTC dari korban antara 2015 hingga 2018. Sebagian dana tersebut dikonversi ke mata uang fiat melalui bursa kripto yang tidak menerapkan KYC ketat.

    Kasus ini menyoroti risiko penggunaan kripto dalam kejahatan siber, sekaligus memperkuat tekanan global terhadap bursa yang abai terhadap kepatuhan AML. Di Indonesia, Bappebti dan OJK telah memperketat pengawasan terhadap transaksi kripto yang mencurigakan, termasuk mewajibkan pelaporan transaksi besar di atas Rp1 miliar.

    Respons Internasional dan Agenda Selanjutnya

    AS bekerja sama dengan Interpol dan Europol untuk memburu para tersangka, yang sebagian besar masih berada di Iran. Sementara itu, universitas dan perusahaan di seluruh dunia kini meningkatkan protokol keamanan siber, termasuk penggunaan multi-factor authentication (MFA) dan pelatihan kesadaran phishing.

    Kasus Mabna Institute menjadi pengingat bagi pelaku industri kripto di Indonesia untuk memperkuat sistem keamanan dompet dan transaksi. Regulator lokal juga diprediksi akan mempercepat implementasi aturan baru terkait pelaporan transaksi kripto mencurigakan, seiring dengan perpindahan pengawasan dari Bappebti ke OJK.

    Sumber: decrypt, Departemen Kehakiman AS, FBI

  • Bitcoin Melonjak Tajam, Tapi Trader Pasar Prediksi Masih Skeptis

    Bitcoin (BTC) membukukan rally terkuat dalam lima bulan terakhir, menembus level psikologis US$63.000 (Rp995 juta) pada Selasa (10/6), namun trader di pasar prediksi tetap waspada—bahkan cenderung pesimistis untuk jangka panjang.

    Sentimen Berbalik, Tapi Hanya Sementara

    Data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang Bitcoin mempertahankan level di atas US$60.000 naik dari 35% menjadi 50% dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini seiring dengan arus masuk (inflow) bersih sebesar US$886,6 juta (Rp13,9 triliun) ke spot Bitcoin ETF di AS sepanjang Juni, menurut CoinShares.

    Namun, taruhan jangka panjang justru mengindikasikan kekhawatiran. Kontrak prediksi untuk harga Bitcoin pada akhir 2024 masih menempatkan peluang koreksi di bawah US$50.000 sebesar 62%. “Pasar prediksi sering kali lebih akurat dalam menangkap sentimen jangka panjang ketimbang pergerakan harian,” ujar analis on-chain dari Glassnode, James Check, dalam wawancara dengan 8TIA.

    Faktor Katalis dan Risiko yang Mengintai

    Rally Bitcoin dipicu oleh kombinasi pelemahan dolar AS (DXY turun 1,2% dalam sebulan) dan ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed. Namun, dua risiko utama masih membayangi: pertama, likuidasi posisi leverage senilai US$1,2 miliar (Rp18,9 triliun) dalam 48 jam terakhir, menurut Coinglass; kedua, ketidakpastian regulasi pasca-pemilu AS.

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung berdampak pada volume perdagangan. Indodax mencatat kenaikan transaksi harian sebesar 37% menjadi Rp2,1 triliun pada 10 Juni, sementara Tokocrypto melaporkan peningkatan pengguna aktif sebesar 22% dalam sepekan. Namun, regulator Bappebti mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas tinggi menjelang pengalihan pengawasan ke OJK.

    Agenda pasar berikutnya yang dinantikan: data inflasi AS (CPI) pada 12 Juni dan keputusan suku bunga The Fed pada 13 Juni. “Jika CPI lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin bisa menguji resistensi US$68.000,” kata CEO Reku, Kevin Osmond, kepada 8TIA.

    Sumber: decrypt, Polymarket, CoinShares, Glassnode, Indodax, Tokocrypto