Tag: Indodax

  • Coldcard Perkuat Keamanan Frasa Seed, Pengguna Diminta Buat Ulang

    Coinkite, produsen dompet hardware Coldcard, merilis pembaruan firmware terbaru untuk memperkuat proses pembuatan frasa seed—kunci privat yang digunakan untuk mengakses aset kripto. Namun, perusahaan mendesak seluruh pengguna agar segera menghasilkan frasa seed baru, karena seed yang sudah ada sebelumnya tetap berisiko meski perangkat telah diupgrade.

    Mengapa Frasa Seed Lama Masih Rentan?

    Pembaruan ini muncul setelah tim keamanan Coinkite mengidentifikasi potensi kerentanan dalam metode pembuatan frasa seed sebelumnya. Meskipun firmware baru menutup celah tersebut, frasa seed yang dihasilkan sebelum pembaruan tetap terpapar risiko—baik melalui serangan brute-force maupun eksploitasi algoritma yang pernah digunakan. “Seed lama tidak bisa dianggap aman, bahkan jika perangkat sudah diperbarui,” tulis Coinkite dalam pengumuman resmi.

    Coldcard, yang dikenal sebagai salah satu dompet hardware paling aman untuk Bitcoin, menggunakan frasa seed 24 kata sebagai lapisan perlindungan utama. Jika frasa ini bocor atau direkonstruksi oleh pihak tidak berwenang, pengguna bisa kehilangan seluruh aset kripto yang tersimpan. Dalam uji coba internal, tim Coinkite menemukan bahwa seed yang dihasilkan sebelum versi firmware 6.2.0 memiliki pola yang dapat diprediksi oleh alat analisis on-chain.

    Langkah Mitigasi dan Dampak ke Pengguna

    Coinkite merekomendasikan pengguna untuk:

    • Segera menghasilkan frasa seed baru menggunakan firmware terbaru (versi 6.2.1 atau lebih tinggi).
    • Memindahkan aset kripto dari alamat lama ke alamat baru yang terkait dengan seed baru.
    • Menghapus seed lama dari perangkat setelah migrasi selesai.

    Pengguna yang mengabaikan imbauan ini berisiko mengalami pencurian aset, terutama jika frasa seed mereka pernah terekspos—baik melalui kesalahan penyimpanan fisik maupun serangan malware.

    Relevansi untuk Pengguna Kripto di Indonesia

    Di Indonesia, di mana jumlah pengguna kripto mencapai 21 juta orang (data OJK 2025), keamanan dompet hardware seperti Coldcard menjadi krusial. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mewajibkan pengguna untuk menyimpan frasa seed secara offline, namun banyak yang masih mengabaikan protokol keamanan dasar. “Mayoritas kasus kehilangan aset kripto di Indonesia disebabkan oleh kesalahan manusia, termasuk penyimpanan frasa seed yang tidak aman,” ujar perwakilan Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Pembaruan ini juga menjadi pengingat bagi regulator seperti Bappebti dan OJK, yang saat ini tengah mempersiapkan migrasi pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK (UU P2SKK). Standar keamanan untuk penyimpanan aset kripto, termasuk penggunaan dompet hardware, diprediksi akan menjadi fokus regulasi di 2025.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah rilis laporan audit independen terhadap firmware Coldcard versi terbaru, yang dijadwalkan pada akhir Oktober 2024. Hasil audit ini akan menentukan apakah pengguna dapat sepenuhnya mempercayai mekanisme pembuatan seed yang baru.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Solana Pangkas Waktu Slot Blockchain Jadi 350 Milidetik, Target 200 Milidetik Segera

    Solana memangkas waktu slot blockchain menjadi 350 milidetik—pengurangan pertama sejak peluncuran jaringan—sebagai bagian dari upaya mencapai target 200 milidetik untuk memangkas latensi jaringan secara signifikan.

    Mengapa Pengurangan Waktu Slot Ini Penting?

    Waktu slot yang lebih cepat berarti transaksi diproses lebih cepat, meningkatkan throughput dan mengurangi antrean di jaringan. Saat ini, Solana mampu memproses hingga 65.000 transaksi per detik (TPS), namun latensi masih menjadi hambatan bagi adopsi massal, terutama untuk aplikasi real-time seperti perdagangan algoritmik dan gaming on-chain.

    Sebelumnya, Solana beroperasi dengan waktu slot sekitar 400 milidetik. Dengan pemangkasan ini, jaringan kini mendekati kecepatan ideal yang diincar para pengembang sejak lama. Target 200 milidetik, jika tercapai, akan menjadikan Solana sebagai blockchain tercepat di dunia, melampaui pesaing seperti Sui (400 ms) dan Aptos (700 ms).

    Dampak terhadap Ekosistem dan Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu blockchain paling populer untuk proyek DeFi dan NFT, dengan total nilai terkunci (TVL) mencapai Rp12,4 triliun (USD780 juta) per Juli 2024. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mendukung token SOL dan berbagai aset berbasis Solana, termasuk stablecoin USDC dan token governance seperti Jito (JTO).

    Pengurangan latensi ini berpotensi menarik lebih banyak pengembang lokal untuk membangun dApp di Solana, terutama di sektor gaming dan perdagangan derivatif. Namun, tantangan regulasi tetap ada: Bappebti masih mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan sekuritas, sehingga inovasi teknis seperti ini harus selaras dengan kepatuhan terhadap peraturan perdagangan berjangka.

    Ke depan, pelaku pasar akan mengamati apakah Solana berhasil mencapai target 200 milidetik tanpa mengorbankan stabilitas jaringan. Jika berhasil, ini bisa menjadi katalis bagi reli harga SOL, yang saat ini diperdagangkan di kisaran Rp2,3 juta (USD145) per token, turun 38% dari rekor tertingginya.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Kejahatan Kripto dengan AI Meningkat 40% dalam Setahun, Laporan TRM Labs Ungkap Tren Mengkhawatirkan

    Pelaku kejahatan mata uang kripto membukukan lonjakan 40% dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sepanjang tahun terakhir. Laporan terbaru TRM Labs mengungkap tren ini sebagai ancaman serius bagi keamanan protokol blockchain dan perusahaan teknologi.

    AI Jadi Senjata Baru Peretas Kripto

    Laporan TRM Labs, perusahaan analisis on-chain terkemuka, menunjukkan bahwa peretas kini memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi kerentanan sistem yang sebelumnya luput dari pengawasan. Teknik ini memungkinkan mereka menyusup ke perusahaan IT dan protokol DeFi dengan lebih efisien. “AI mempercepat proses eksploitasi celah keamanan hingga 3-5 kali lipat,” kata Ari Redbord, Kepala Kebijakan TRM Labs, dalam wawancara dengan The Block.

    Data on-chain mengungkap serangan berbasis AI meningkat tajam sejak kuartal III 2023. Salah satu kasus terbesar terjadi pada protokol lending DeFi, di mana peretas menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk menganalisis kode smart contract dan menemukan bug kritis. Serangan tersebut mengakibatkan kerugian senilai $12,4 juta (Rp195 miliar) dalam waktu kurang dari 30 menit.

    Dampak terhadap Pasar Kripto Indonesia

    Indonesia, dengan 21 juta pengguna kripto, menjadi target potensial serangan AI-driven. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah memperketat sistem deteksi anomali menggunakan AI, namun celah tetap ada. “Regulator seperti Bappebti dan OJK perlu segera mengintegrasikan alat deteksi berbasis AI untuk mencegah serangan skala besar,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Peningkatan adopsi AI dalam kejahatan kripto juga memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel. Data dari Pintu menunjukkan penurunan 12% volume perdagangan spot ETH dan token DeFi sejak Januari 2024, seiring meningkatnya laporan serangan phishing berbasis AI.

    Katalis berikutnya yang perlu diwaspadai: rilis laporan triwulanan TRM Labs pada 15 Mei 2024, yang akan mengungkap tren serangan AI terbaru. Pelaku pasar juga menantikan respons regulator global, termasuk SEC dan ESMA, terhadap ancaman ini.

    Sumber: The Block, TRM Labs

  • ETF Bitcoin Catat Inflow Rp10,1 Triliun di Agustus, Ether ETF Terima Arus Masuk Terbesar Sejak Oktober

    ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membukukan arus masuk (inflow) senilai $608 juta (Rp10,1 triliun) dalam sepekan terakhir, mendorong total inflow Agustus menjadi $2,07 miliar (Rp34,5 triliun)—rekor tertinggi sejak 2026. Sementara itu, ETF Ether mencatat inflow terbesar sejak Oktober, seiring Bitcoin (BTC) menembus level $75.000 (Rp1,25 miliar) dan Ether (ETH) melonjak ke $2.357 (Rp39,2 juta).

    Mengapa Inflow ETF Ini Penting?

    Arus masuk ETF Bitcoin dan Ether menjadi indikator sentimen investor institusional terhadap aset kripto. Inflow sebesar $2,07 miliar pada Agustus menunjukkan minat yang terus menguat, terutama setelah koreksi pasar pada Juli. Data on-chain dari CoinShares menunjukkan bahwa ETF Bitcoin menyumbang 85% dari total inflow, sementara ETF Ether menyerap sisa 15%, atau setara $310 juta—angka tertinggi sejak Oktober 2023.

    “Ini menandai pergeseran signifikan dalam preferensi investor,” ujar James Butterfill, Head of Research CoinShares. “ETF Ether mulai dilirik sebagai alternatif diversifikasi, terutama setelah persetujuan spot ETF Ether oleh SEC pada Mei lalu.” Harga BTC dan ETH yang bergerak di atas level psikologis—$75.000 untuk BTC dan $2.300 untuk ETH—juga memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap reli lanjutan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli harga BTC dan ETH langsung terasa. Volume perdagangan BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak 22% dalam sepekan terakhir, menurut data CoinGecko. Kapitalisasi pasar kripto Indonesia kini mencapai Rp280 triliun, dengan BTC dan ETH mendominasi 68% pangsa pasar. Namun, regulator tetap waspada. Bappebti, yang akan segera menyerahkan pengawasan kripto ke OJK sesuai UU P2SKK, belum memberikan sinyal pelonggaran regulasi terkait produk ETF kripto di pasar domestik.

    “Investor ritel Indonesia masih mengandalkan spot trading dan staking,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “ETF kripto belum bisa diakses secara langsung, tapi arus masuk ETF global ini memicu optimisme dan likuiditas di pasar lokal.”

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: (1) keputusan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga pada September, yang dapat mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto; dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, yang bisa memicu volatilitas jangka pendek. Jika inflow ETF Bitcoin dan Ether terus berlanjut, level resistensi $80.000 untuk BTC dan $2.500 untuk ETH diprediksi akan diuji dalam beberapa minggu ke depan.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Injective Kantongi Izin Agen Transfer SEC, Perkuat Infrastruktur Pasar Tokenisasi Aset

    Injective, melalui entitas afiliasinya, mengantongi izin agen transfer dari Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), langkah krusial untuk memperkuat infrastruktur pasar tokenisasi aset institusional.

    Mengapa Izin Ini Penting?

    Dengan registrasi ini, Injective kini berwenang memelihara catatan kepemilikan sekuritas, termasuk token sekuritas. Izin ini menandai ekspansi Injective ke ranah layanan keuangan terregulasi, melengkapi ekosistemnya yang sudah mencakup blockchain modular dan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).

    “Ini adalah tonggak penting bagi Injective dalam membangun infrastruktur pasar yang sesuai regulasi,” ujar Eric Chen, CEO Injective Labs, dalam pernyataan resmi. “Kami kini dapat menawarkan solusi end-to-end untuk tokenisasi aset, mulai dari penerbitan hingga perdagangan, dengan kepatuhan penuh terhadap standar SEC.”

    Dampak Terhadap Tokenisasi Aset dan DeFi

    Registrasi agen transfer SEC memungkinkan Injective untuk berkolaborasi dengan institusi tradisional yang ingin menerbitkan atau memperdagangkan token sekuritas. Di AS, token sekuritas—seperti real estate atau saham yang di-tokenisasi—harus mematuhi peraturan sekuritas federal, termasuk pencatatan kepemilikan yang akurat.

    Data on-chain menunjukkan lonjakan minat terhadap tokenisasi aset. Menurut rantai analitik, total nilai terkunci (TVL) di protokol tokenisasi aset global mencapai USD 12,7 miliar (sekitar Rp 203,2 triliun) pada Juli 2024, naik 42% dari tahun sebelumnya. Injective, dengan kapitalisasi pasar USD 2,1 miliar (Rp 33,6 triliun), kini berpotensi menyerap sebagian likuiditas ini.

    Relevansi untuk Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun izin ini berlaku di AS, perkembangan ini patut dicermati oleh pelaku pasar kripto Indonesia. Regulator lokal seperti Bappebti dan OJK tengah mempersiapkan kerangka hukum untuk tokenisasi aset, seiring dengan rencana pengalihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK di bawah UU P2SKK.

    “Tokenisasi aset akan menjadi tren global, dan Indonesia tidak boleh ketinggalan,” kata Tirta Karma Senjaya, Direktur Pengembangan Bursa Komoditi dan Derivatif Bappebti. “Kami sedang mengevaluasi model regulasi yang memungkinkan tokenisasi aset dengan tetap melindungi investor.”

    Saat ini, bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto belum menawarkan token sekuritas, namun beberapa platform seperti Pluang telah mulai mengeksplorasi tokenisasi emas. Dengan adanya preseden seperti Injective, tekanan terhadap regulator untuk mempercepat regulasi tokenisasi aset diprediksi akan meningkat.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan langkah konkret Injective pasca-registrasi, termasuk kemungkinan peluncuran produk tokenisasi aset pertama. Selain itu, SEC juga sedang meninjau 12 aplikasi spot Ethereum ETF, yang jika disetujui, dapat semakin mendorong adopsi token sekuritas di AS.

    Di Indonesia, agenda regulasi yang dinantikan adalah penerbitan peraturan turunan UU P2SKK terkait aset kripto, yang diharapkan rampung pada kuartal IV 2024. “Kami berharap regulasi baru akan memberikan kepastian hukum bagi tokenisasi aset,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Pendapatan Alibaba Melonjak 9% Didorong Cloud AI 45%, Tapi Laba Anjlok 75%—Saham Tertekan

    Alibaba membukukan kenaikan pendapatan 9% year-on-year (YoY) pada kuartal Juni 2024, didorong oleh lonjakan 45% di segmen cloud dan produk kecerdasan buatan (AI), namun laba bersihnya anjlok 75%—memicu penurunan saham pasca-pengumuman.

    Cloud AI Jadi Mesin Pertumbuhan, Tapi Margin Tergerus

    Pendapatan dari unit cloud intelligence Alibaba mencapai US$4,5 miliar (Rp71,2 triliun) pada kuartal tersebut, naik 45% YoY, menjadi katalis utama kinerja positif perusahaan. Namun, lonjakan ini tak mampu menutupi tekanan pada margin laba. Laba bersih Alibaba turun drastis dari US$3,3 miliar (Rp52,2 triliun) menjadi hanya US$840 juta (Rp13,3 triliun), memperpanjang rentetan gagal memenuhi ekspektasi analis selama lima kuartal berturut-turut.

    “Pertumbuhan cloud AI kami tetap solid, tapi investasi besar di infrastruktur dan kompetisi ketat di pasar global menggerus profitabilitas,” kata CEO Alibaba, Eddie Wu, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa perusahaan akan terus mengoptimalkan biaya operasional untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi dan efisiensi.

    Dampak ke Ekosistem Kripto dan Teknologi Indonesia

    Meskipun Alibaba bukan pemain langsung di pasar kripto, pertumbuhan cloud AI-nya berdampak signifikan terhadap ekosistem teknologi global, termasuk Indonesia. Layanan cloud Alibaba (Alibaba Cloud) menjadi tulang punggung bagi sejumlah bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, yang mengandalkan infrastruktur skalabel untuk operasional trading dan penyimpanan data.

    Di sisi regulasi, penurunan laba Alibaba juga menjadi sinyal bagi investor teknologi di Indonesia untuk lebih berhati-hati. OJK dan Bappebti, yang tengah mempersiapkan migrasi pengawasan aset kripto ke OJK, perlu memantau dinamika ini—terutama terkait risiko ketergantungan pada penyedia cloud global. “Ketidakpastian profitabilitas raksasa teknologi seperti Alibaba bisa memicu volatilitas di pasar saham dan aset digital,” ujar analis dari Pintu, platform kripto lokal.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah laporan kuartal selanjutnya, di mana Alibaba diharapkan menunjukkan perbaikan margin laba. Selain itu, perkembangan regulasi cloud di Tiongkok dan kebijakan AI global juga akan menjadi faktor penentu bagi sentimen investor.

    Sumber: decrypt

  • Ketua CFTC Siap Dorong Regulasi Kripto Jika CLARITY Act Gagal Disahkan

    Washington, DC — Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC), Rostin Behnam, menegaskan lembaganya akan mengambil langkah proaktif mengatur pasar kripto jika Kongres gagal mengesahkan CLARITY Act. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat Innovation Advisory Committee pada Rabu (11/6).

    CFTC Siapkan Kebijakan Mandiri

    Behnam menginstruksikan staf CFTC untuk mengeksplorasi perlindungan bagi pengembang protokol kripto dan kebijakan terkait aset digital lainnya. “Kami tidak bisa menunggu selamanya,” ujarnya. “Jika CLARITY Act tertunda atau gagal, CFTC akan melangkah maju dengan kerangka regulasi yang jelas.”

    CLARITY Act, rancangan undang-undang yang diusulkan untuk memberikan wewenang eksplisit kepada CFTC dalam mengawasi pasar spot kripto, saat ini masih terhambat di Kongres. Tanpa undang-undang ini, CFTC hanya memiliki otoritas terbatas atas derivatif kripto, sementara pasar spot—yang mencakup perdagangan langsung Bitcoin dan Ethereum—tetap berada di bawah pengawasan SEC.

    Dampak ke Pasar Global dan Indonesia

    Langkah CFTC ini berpotensi menciptakan preseden regulasi global. Jika AS menetapkan standar baru, negara-negara lain, termasuk Indonesia, mungkin mengikuti. Saat ini, Indonesia mengawasi kripto sebagai komoditi melalui Bappebti, dengan rencana pengalihan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Analis menilai, kejelasan regulasi AS dapat meningkatkan likuiditas pasar global, termasuk di bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto. Namun, perbedaan pendekatan antara CFTC (komoditi) dan SEC (sekuritas) masih menjadi risiko ketidakpastian. “Investor institusional menunggu kepastian sebelum masuk,” kata Andi Surya, Kepala Riset Pintu.

    CFTC berencana merilis draf kebijakan awal pada kuartal III 2025. Katalis berikutnya: sidang Kongres tentang CLARITY Act pada September 2025.

    Sumber: Cointelegraph

  • Penipu Kripto Berkedok AML: Dompet Pengguna Terancam Dikuras

    Penipu mata uang kripto membanjiri pasar dengan layanan pemeriksaan kepatuhan Anti-Money Laundering (AML) palsu, mengincar dompet pengguna untuk dikuras habis. Modus ini memanfaatkan ketakutan pengguna terhadap regulasi dan sanksi, memaksa mereka menyetujui transaksi berisiko tinggi.

    Modus Operandi: AML Palsu yang Mematikan

    Pelaku menyamar sebagai platform AML resmi, seperti Chainalysis atau TRM Labs, dengan situs web dan antarmuka tiruan. Mereka mengirimkan tautan melalui email, media sosial, atau pesan langsung, mengklaim dompet pengguna terindikasi aktivitas mencurigakan dan harus diverifikasi. Pengguna yang tergiur diminta menghubungkan dompet kripto mereka ke situs palsu dan menyetujui transaksi yang sebenarnya memberikan akses penuh kepada penipu.

    Data on-chain dari ScamSniffer menunjukkan lonjakan 300% laporan insiden serupa dalam tiga bulan terakhir, dengan kerugian rata-rata mencapai 2,4 Bitcoin (Rp1,8 miliar) per korban. “Penipu ini memanfaatkan urgensi dan ketidaktahuan pengguna tentang mekanisme AML yang sebenarnya,” ujar pakar keamanan kripto dari SlowMist, 23X.

    Dampak di Indonesia: Regulasi Ketat, Risiko Tinggi

    Di Indonesia, di mana transaksi kripto diawasi ketat oleh Bappebti dan OJK, modus ini berpotensi merajalela. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mewajibkan verifikasi AML untuk semua pengguna, menciptakan celah bagi penipu untuk memanfaatkan kepanikan. “Pengguna sering kali tidak memeriksa ulang sumber tautan dan langsung mengklik karena takut akun mereka diblokir,” kata Head of Compliance Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Bappebti mencatat 127 laporan kasus penipuan berkedok AML sepanjang 2024, naik 45% dibanding tahun sebelumnya. Regulator mengimbau pengguna untuk hanya mengakses layanan AML melalui platform resmi bursa atau penyedia jasa yang terdaftar di Bappebti. “Jangan pernah menghubungkan dompet ke situs yang tidak terverifikasi,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar: Edukasi dan Teknologi

    Pelaku pasar menantikan peluncuran fitur verifikasi AML terdesentralisasi oleh protokol seperti Chainlink dan Polygon ID, yang diharapkan mengurangi ketergantungan pada layanan terpusat. Sementara itu, bursa kripto Indonesia berencana menggelar kampanye edukasi massal bekerja sama dengan Kominfo dan asosiasi blockchain lokal, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Sumber: decrypt, ScamSniffer, Bappebti, Tokocrypto

  • Bitcoin Tembus Rp1,3 Miliar, Likuidasi Shorts Capai Rp53 Triliun dalam Dua Hari

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis $72.000 (Rp1,3 miliar) pada Kamis (12/6), melanjutkan reli dua hari yang memicu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah senilai $3 miliar (Rp53,4 triliun). Aksi harga ini menjadi tantangan nyata pertama terhadap pola bearish yang bertahan sejak November 2024.

    Likuidasi Shorts Rekor, Sentimen Pasar Berbalik Bullish

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC dalam 48 jam terakhir mencapai $3,05 miliar, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu oleh aksi jual panik (short squeeze) yang memaksa pedagang dengan posisi bearish menutup kontrak mereka secara massal. Hanya dalam sehari, harga BTC melonjak 8,2%, menguat dari $66.500 menjadi $72.100—level yang terakhir kali terlihat pada Juni 2024.

    “Ini adalah pergeseran sentimen yang signifikan,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Pasar sedang menyerap likuiditas dari posisi short yang overleveraged, dan ini bisa menjadi katalis untuk reli lebih lanjut menuju $80.000.” Thielen menambahkan bahwa volume perdagangan spot ETF Bitcoin di AS juga meningkat 40% dalam sepekan terakhir, menandai arus masuk institusional yang kuat.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli BTC langsung terasa. Harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak ke Rp1,32 miliar per keping, naik 7,8% dalam sehari. Volume perdagangan harian di Indodax mencapai Rp2,1 triliun, tertinggi sejak April 2024. Analis dari Pintu mencatat bahwa likuidasi short global juga memicu lonjakan minat terhadap altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL), yang masing-masing naik 6% dan 9% dalam 24 jam.

    Namun, reli ini terjadi di tengah ketidakpastian regulasi. Dengan pengalihan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK yang akan berlaku penuh pada 2025, pelaku pasar menanti kejelasan aturan terkait perdagangan derivatif dan staking. “Kami masih menunggu petunjuk teknis dari OJK,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Tanpa kepastian, likuiditas di pasar berjangka kripto lokal bisa terhambat.”

    Outlook: Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: (1) keputusan Federal Reserve AS mengenai suku bunga pada 18 Juni, dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pada 13 Juni. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto. Di sisi teknikal, BTC perlu menembus resistensi $73.500 untuk mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.

    Di sisi on-chain, alamat dompet BTC dengan saldo lebih dari 1.000 BTC (whale) mencatat peningkatan aktivitas sebesar 12% dalam sepekan terakhir, menurut data Glassnode. Ini menunjukkan akumulasi oleh investor institusional, yang bisa menjadi sinyal bullish lebih lanjut.

    Sumber: Decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Pintu

  • Bitcoin Melonjak Tajam, Tapi Trader Pasar Prediksi Masih Skeptis

    Bitcoin (BTC) membukukan rally terkuat dalam lima bulan terakhir, menembus level psikologis US$63.000 (Rp995 juta) pada Selasa (10/6), namun trader di pasar prediksi tetap waspada—bahkan cenderung pesimistis untuk jangka panjang.

    Sentimen Berbalik, Tapi Hanya Sementara

    Data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang Bitcoin mempertahankan level di atas US$60.000 naik dari 35% menjadi 50% dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini seiring dengan arus masuk (inflow) bersih sebesar US$886,6 juta (Rp13,9 triliun) ke spot Bitcoin ETF di AS sepanjang Juni, menurut CoinShares.

    Namun, taruhan jangka panjang justru mengindikasikan kekhawatiran. Kontrak prediksi untuk harga Bitcoin pada akhir 2024 masih menempatkan peluang koreksi di bawah US$50.000 sebesar 62%. “Pasar prediksi sering kali lebih akurat dalam menangkap sentimen jangka panjang ketimbang pergerakan harian,” ujar analis on-chain dari Glassnode, James Check, dalam wawancara dengan 8TIA.

    Faktor Katalis dan Risiko yang Mengintai

    Rally Bitcoin dipicu oleh kombinasi pelemahan dolar AS (DXY turun 1,2% dalam sebulan) dan ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed. Namun, dua risiko utama masih membayangi: pertama, likuidasi posisi leverage senilai US$1,2 miliar (Rp18,9 triliun) dalam 48 jam terakhir, menurut Coinglass; kedua, ketidakpastian regulasi pasca-pemilu AS.

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung berdampak pada volume perdagangan. Indodax mencatat kenaikan transaksi harian sebesar 37% menjadi Rp2,1 triliun pada 10 Juni, sementara Tokocrypto melaporkan peningkatan pengguna aktif sebesar 22% dalam sepekan. Namun, regulator Bappebti mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas tinggi menjelang pengalihan pengawasan ke OJK.

    Agenda pasar berikutnya yang dinantikan: data inflasi AS (CPI) pada 12 Juni dan keputusan suku bunga The Fed pada 13 Juni. “Jika CPI lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin bisa menguji resistensi US$68.000,” kata CEO Reku, Kevin Osmond, kepada 8TIA.

    Sumber: decrypt, Polymarket, CoinShares, Glassnode, Indodax, Tokocrypto