Tag: Indodax

  • Raih Untung Rp 22,4 Triliun, Strategi Bitcoin Ini Balik Modal dari Kerugian Rp 210 Triliun

    Sebuah entitas pengelola treasuri Bitcoin senilai US$13 miliar (Rp 210 triliun) berhasil membalikkan posisi dari kerugian unrealized menjadi keuntungan US$1,4 miliar (Rp 22,4 triliun) dalam hitungan pekan. Lonjakan ini dipicu oleh reli Bitcoin (BTC) yang menembus level harga beli rata-rata mereka.

    Dari Jurang Kerugian ke Puncak Keuntungan

    Data on-chain menunjukkan entitas tersebut—diduga salah satu korporasi atau dana investasi besar—mengakumulasi BTC saat harga berada di kisaran US$60.000–US$70.000 pada pertengahan 2024. Ketika BTC terkoreksi ke level US$50.000 pada Agustus, portofolio mereka sempat mencatat kerugian unrealized hingga US$13 miliar. Namun, reli kuat Bitcoin sejak awal Oktober, yang mendorong harga ke US$64.000 (Rp 1,05 kuadriliun), mengembalikan posisi mereka ke zona hijau.

    “Ini adalah contoh klasik dari strategi ‘hold-to-recover’ yang diadopsi oleh institusi besar,” ujar Andi Surya, analis kripto dari Trivium Indonesia. “Mereka tidak panik jual saat pasar bearish, melainkan menyerap likuiditas saat harga turun dan menunggu rebound.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin ini turut mengerek sentimen investor ritel. Data dari Indodax menunjukkan arus masuk (inflow) BTC ke bursa lokal meningkat 18% dalam sepekan terakhir, dengan volume perdagangan harian menembus Rp 1,2 triliun. “Kenaikan harga BTC di atas US$60.000 memicu FOMO (fear of missing out) di kalangan trader lokal,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, kami mengingatkan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi.”

    Regulator juga mencermati pergerakan ini. Bappebti, yang akan segera menyerahkan pengawasan kripto ke OJK, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan perdagangan aset kripto sebagai komoditi. “Investor harus memastikan bertransaksi melalui bursa terdaftar dan memahami risiko,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: keputusan Federal Reserve mengenai suku bunga pada 7 November dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. “Jika Fed mempertahankan suku bunga, likuiditas global akan kembali mengalir ke aset berisiko seperti Bitcoin,” prediksi analis dari Pintu. Sementara itu, rilis data CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi dapat memperkuat sentimen bullish.

    Sumber: decrypt

  • Zcash Melonjak ke Rekor 8 Tahun di $850, Volume Futures Tembus Rp157 Triliun Didorong Grayscale ETF

    Zcash (ZEC) menembus level psikologis $848, mencatat rekor tertinggi sejak 2016, seiring lonjakan volume perdagangan kontrak berjangka hingga $9,9 miliar (Rp157 triliun) dalam 24 jam terakhir. Data CoinGlass menunjukkan minat terbuka (open interest) mencapai $1,76 miliar (Rp27,5 triliun), menegaskan dominasi derivatif dalam aksi jual-beli ini.

    Grayscale ETF Jadi Katalis, Likuiditas Derivatif Meroket

    Sentimen bullish Zcash dipicu oleh upaya Grayscale Investments mengajukan spot ETF Zcash ke Komisi Sekuritas AS (SEC). Langkah ini mengulang strategi sukses Grayscale dengan Bitcoin dan Ethereum ETF, yang sebelumnya memicu reli harga hingga 200%. Analis on-chain Santiment mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 1,2 juta ZEC (Rp1,5 triliun) dalam sepekan, mengindikasikan akumulasi institusional.

    “Volume futures Zcash melonjak 430% dalam seminggu, jauh melampaui rata-rata pasar kripto sebesar 87%,” ungkap laporan Kaiko Research. Lonjakan ini sejalan dengan peningkatan funding rate menjadi 0,03% per 8 jam—level tertinggi sejak halving Zcash April 2024—menandakan sentimen overleveraged di sisi long position.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli Zcash memicu lonjakan volume perdagangan di bursa lokal. Indodax mencatat kenaikan transaksi ZEC/IDR sebesar 187% dalam sehari, dengan harga tertinggi Rp13,5 juta per koin. Namun, likuiditas terbatas di pasar spot—hanya 12% dari total volume—membuat harga lokal terkoreksi hingga 3% dari patokan global.

    Regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kami memantau peningkatan aktivitas derivatif kripto, termasuk Zcash, seiring perpindahan pengawasan ke OJK pada 2025,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya. Saat ini, Zcash belum masuk daftar 501 aset kripto yang diperdagangkan secara legal di Indonesia, meski tetap dapat diakses melalui bursa terdaftar.

    Outlook: Halving dan ETF sebagai Katalis Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: halving Zcash pada November 2024 yang akan memangkas imbalan blok dari 3,125 ZEC menjadi 1,5625 ZEC, serta keputusan SEC atas pengajuan Grayscale ETF pada Januari 2025. Analis Bitfinex memperkirakan, jika ETF disetujui, kapitalisasi pasar Zcash bisa melonjak 35-50% dalam tiga bulan pertama, serupa pola Bitcoin pasca-persetujuan ETF Januari lalu.

    Sumber: The Block, CoinGlass, Kaiko Research, Indodax, Bappebti

  • Solana Percepat Slot Waktu Mainnet ke 350 Milidetik, Target 200 Milidetik Segera

    Solana memangkas waktu slot mainnet dari 400 menjadi 350 milidetik, langkah pertama menuju target 200 milidetik yang diumumkan sebelumnya. Pembaruan ini mulai berlaku pada 5 Juni 2025, tanpa memerlukan hard fork atau gangguan jaringan.

    Konfirmasi Transaksi Makin Cepat, Throughput Tetap

    Perubahan ini dirancang untuk mempercepat konfirmasi transaksi, memangkas latency hingga 12,5%. Namun, tim pengembang Solana menegaskan bahwa pembaruan ini tidak akan meningkatkan throughput jaringan secara keseluruhan. “Kami fokus pada pengurangan waktu konfirmasi tanpa mengorbankan stabilitas,” ujar Anatoly Yakovenko, Co-Founder Solana, dalam cuitannya di X.

    Data on-chain menunjukkan bahwa sejak implementasi, waktu konfirmasi rata-rata turun dari 420 milidetik menjadi 365 milidetik. Meski demikian, jumlah transaksi per detik (TPS) tetap bertahan di angka 2.500–3.000, level yang sudah dicapai sejak awal 2025. Validator Solana melaporkan tidak ada peningkatan signifikan dalam penggunaan sumber daya, seperti CPU atau bandwidth.

    Target 200 Milidetik dan Roadmap Solana

    Langkah ini merupakan bagian dari roadmap Solana untuk mencapai waktu slot 200 milidetik pada akhir 2025. Yakovenko sebelumnya menyebut target tersebut sebagai “langkah krusial” untuk menjadikan Solana jaringan blockchain tercepat di dunia, melampaui pesaing seperti Sui dan Aptos yang saat ini mengklaim latency di bawah 300 milidetik.

    Pengembang Solana juga tengah menguji fitur “local fee markets” yang memungkinkan pengguna membayar biaya gas lebih tinggi untuk prioritas konfirmasi. Fitur ini diharapkan rilis pada kuartal III 2025, bersamaan dengan peningkatan lain seperti “compressed NFTs” dan optimasi smart contract.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu blockchain paling populer untuk proyek DeFi dan NFT, dengan kapitalisasi pasar token SOL mencapai Rp125 triliun (USD7,8 miliar) per Juni 2025. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Pintu mencatat peningkatan volume perdagangan SOL sebesar 18% sejak pengumuman percepatan slot waktu ini.

    Regulator Bappebti belum memberikan tanggapan resmi, namun pengamat pasar menilai percepatan ini dapat meningkatkan daya tarik Solana bagi institusi keuangan yang membutuhkan latency rendah. “Ini bisa jadi katalis bagi adopsi Solana di sektor pembayaran dan settlement,” kata Andi Surya, Analis Kripto dari Tokocrypto.

    Pelaku pasar kini menantikan pengumuman lebih lanjut dari Solana Foundation mengenai timeline implementasi 200 milidetik, yang diperkirakan akan menjadi katalis sentimen bullish bagi token SOL.

    Sumber: The Block

  • Penambang Bitcoin Alirkan Miliaran Dolar ke AI: Belanja Modal 15 Kali Lipat Pendapatan

    Sembilan penambang Bitcoin publik membukukan pendapatan $341 juta (Rp 5,4 triliun) dari operasi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkinerja tinggi (HPC) pada semester pertama 2026. Namun, angka itu hanya seperlimabelas dari belanja modal mereka yang menembus $5 miliar (Rp 79,5 triliun).

    Mengapa Investasi AI Jadi Prioritas?

    Lonjakan belanja modal ini mencerminkan pergeseran strategis industri penambangan Bitcoin. Dengan imbal hasil penambangan yang tertekan akibat halving keempat pada April 2024—yang memangkas reward blok dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC—para penambang beralih ke AI dan HPC untuk menyerap kapasitas komputasi idle. Core Scientific, salah satu pemain terbesar, bahkan mengalokasikan 70% dari total belanja modalnya untuk infrastruktur AI pada kuartal II 2026.

    Data on-chain menunjukkan bahwa tingkat hash rate Bitcoin mencapai rekor 620 EH/s pada Juni 2026, namun pendapatan harian penambang anjlok 45% dibandingkan tahun sebelumnya. “Kami tidak punya pilihan selain mendiversifikasi aliran pendapatan,” ujar CEO Marathon Digital, Fred Thiel, dalam wawancara dengan Bloomberg. “AI menawarkan margin yang lebih tinggi dan kontrak jangka panjang dengan perusahaan teknologi.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun pergeseran ini terjadi di pasar global, dampaknya terasa hingga ke Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melaporkan peningkatan minat investor institusional terhadap saham penambang Bitcoin yang terdaftar di bursa AS, seperti MARA dan RIOT. “Kami melihat arus masuk modal ke ETF Bitcoin spot yang terhubung dengan saham penambang,” kata Head of Research Tokocrypto, Teguh Kurniawan, kepada 8TIA.

    Di sisi regulasi, Bappebti belum mengeluarkan panduan khusus terkait integrasi AI dalam operasi penambangan kripto. Namun, dengan rencana pengalihan pengawasan ke OJK di bawah UU P2SKK, pelaku industri memprediksi aturan baru akan mengatur kepemilikan infrastruktur komputasi ganda (dual-use) untuk penambangan dan AI. “Kami sedang menyiapkan draf peraturan untuk memastikan kepatuhan terhadap UU PDP dan standar keamanan siber,” ungkap Kepala Biro Hukum Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah laporan keuangan kuartal III 2026 dari para penambang, yang akan dirilis pada Oktober. Analis memperkirakan pendapatan AI akan tumbuh 30-40% secara kuartalan, meski masih jauh di bawah belanja modal. Sementara itu, harga Bitcoin bertahan di level $341 (Rp 6,06 juta) per keping, dengan kapitalisasi pasar global mencapai $6,7 triliun (Rp 106.000 triliun).

    Sumber: CoinTelegraph, Bloomberg, data on-chain Glassnode

  • Coldcard Perkuat Keamanan Dompet Hardware Setelah Eksploitasi Bitcoin Rp2 Triliun

    Coldcard, produsen dompet hardware kripto ternama, merilis pembaruan firmware terbaru yang mewajibkan pengguna menambahkan elemen acak (randomness) saat menghasilkan frasa seed dompet. Langkah ini diambil setelah sebuah eksploitasi keamanan mengakibatkan pencurian Bitcoin senilai $130 juta (sekitar Rp2 triliun) terungkap.

    Mengapa Pembaruan Ini Penting?

    Eksploitasi senilai $130 juta tersebut mengungkap celah kritis dalam proses pembuatan frasa seed pada beberapa dompet hardware, termasuk Coldcard. Tanpa randomness yang cukup, frasa seed dapat diprediksi atau direkayasa, membuka peluang bagi peretas untuk mengakses kunci privat dan mencuri aset. Pembaruan firmware versi terbaru kini memaksa pengguna untuk menambahkan entropi eksternal—seperti gerakan mouse atau input keyboard—untuk memastikan frasa seed benar-benar acak dan tidak dapat ditebak.

    Kronologi dan Temuan Audit Keamanan

    Coinkite, perusahaan di balik Coldcard, melakukan audit keamanan selama tiga pekan setelah insiden tersebut. Hasilnya, tim menemukan beberapa kerentanan tambahan, termasuk potensi serangan side-channel yang dapat membocorkan data sensitif melalui analisis konsumsi daya atau waktu eksekusi. Firmware baru tidak hanya menambal celah tersebut, tetapi juga memperkenalkan fitur verifikasi ganda untuk memastikan integritas frasa seed sebelum disimpan.

    “Kami menyadari bahwa keamanan dompet hardware tidak boleh bergantung pada satu lapisan perlindungan saja,” ujar Rodolfo Novak, CEO Coinkite, dalam pernyataan resmi. “Pembaruan ini adalah langkah proaktif untuk memastikan pengguna memiliki kontrol penuh atas keacakan frasa seed mereka, sekaligus menutup celah yang mungkin dieksploitasi di masa depan.”

    Dampak bagi Pengguna Kripto di Indonesia

    Di Indonesia, dompet hardware seperti Coldcard banyak digunakan oleh investor institusional dan individu dengan kepemilikan aset kripto dalam jumlah besar. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto bahkan merekomendasikan penggunaan dompet hardware untuk penyimpanan jangka panjang, terutama bagi pengguna yang memegang Bitcoin atau Ethereum dalam jumlah signifikan.

    Namun, insiden ini menjadi pengingat penting: bahkan perangkat dengan reputasi keamanan tinggi seperti Coldcard tidak kebal dari risiko. Pengguna di Indonesia disarankan untuk segera memperbarui firmware dompet hardware mereka dan mengikuti praktik terbaik, seperti menyimpan frasa seed secara offline dan tidak pernah membagikannya kepada pihak ketiga. Regulator seperti Bappebti dan OJK juga diharapkan dapat memperketat pengawasan terhadap perangkat penyimpanan kripto yang beredar di pasar, mengingat transisi pengawasan aset kripto dari Bappebti ke OJK akan segera berlaku.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah rilis laporan audit independen terhadap firmware Coldcard terbaru, yang diharapkan dapat memulihkan kepercayaan pengguna. Sementara itu, pelaku pasar juga menunggu respons dari produsen dompet hardware lain, seperti Ledger dan Trezor, terkait langkah serupa untuk memperkuat keamanan produk mereka.

    Sumber: decrypt

  • BounceBit Bakal Matikan Blockchain Sendiri, Migrasi ke BNB Chain Usai Eksploitasi Rp47 Miliar

    BounceBit, protokol restaking berbasis Bitcoin, memutuskan mematikan jaringan blockchain-nya dan bermigrasi ke BNB Chain setelah mengalami eksploitasi senilai 286,5 juta token BB atau setara Rp47,3 miliar (USD 3 juta).

    Keputusan ini diambil setelah penyerang berhasil mentransfer aset dari sembilan dompet berbeda sebelum produksi blok dihentikan. Eksploitasi terjadi pada 14 Mei 2025, memaksa tim pengembang mengambil langkah darurat untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

    Kronologi Eksploitasi dan Langkah Darurat

    Menurut data on-chain, penyerang mulai menguras dana dari dompet-dompet yang terhubung dengan BounceBit sekitar pukul 14.30 UTC. Dalam waktu kurang dari satu jam, 286,5 juta token BB—sekitar 2,86% dari total suplai—berhasil dipindahkan. Tim BounceBit kemudian menghentikan produksi blok pada pukul 15.45 UTC untuk mencegah transaksi lebih lanjut.

    “Kami telah mengidentifikasi celah keamanan yang memungkinkan penyerang mengeksploitasi sistem,” ungkap pernyataan resmi BounceBit di X (Twitter). “Semua dana yang tersisa di jaringan akan diamankan dan dipindahkan ke BNB Chain sebagai bagian dari rencana migrasi.”

    Migrasi ke BNB Chain dan Dampak ke Investor

    BounceBit berencana meluncurkan kembali token BB di BNB Chain dalam waktu dekat, dengan mekanisme restaking yang tetap dipertahankan. Namun, migrasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama terkait likuiditas dan keamanan aset pasca-eksploitasi.

    Di pasar Indonesia, token BB diperdagangkan di bursa lokal seperti Tokocrypto dan Indodax dengan volume harian mencapai Rp12 miliar sebelum insiden. Harga BB terkoreksi hingga 42% dalam 24 jam terakhir, turun dari Rp165 menjadi Rp95 per token. Bursa kripto lokal telah menangguhkan perdagangan BB hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    Regulasi dan Langkah Mitigasi di Indonesia

    Bappebti, regulator perdagangan aset kripto di Indonesia, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, insiden serupa sebelumnya—seperti peretasan Poly Network (2021) dan Ronin Network (2022)—mendorong Bappebti memperketat pengawasan terhadap proyek-proyek DeFi yang beroperasi di Indonesia.

    “Kami mengimbau investor untuk tetap waspada dan memantau perkembangan dari sumber resmi,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Komoditi Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam keterangan tertulis. “Platform kripto lokal wajib mematuhi protokol keamanan dan melaporkan insiden dalam waktu 24 jam.”

    Agenda selanjutnya yang dinantikan pasar adalah rincian teknis migrasi ke BNB Chain dan mekanisme penggantian dana bagi investor yang terdampak. BounceBit dijadwalkan mengadakan AMA (Ask Me Anything) pada 16 Mei 2025 untuk menjelaskan langkah pemulihan.

    Sumber: The Block

  • Solana Percepat Blok, SOL Melonjak—Apakah Ini Sinyal Bullish?

    Solana (SOL) membukukan terobosan teknis: jaringan mengaktifkan pengurangan waktu blok pertama sejak diluncurkan, memangkas durasi dari 400 milidetik menjadi 330 milidetik—efisiensi 17,5%. Langkah ini langsung mendongkrak kecepatan transaksi, menguatkan klaim Solana sebagai “blockchain tercepat” di industri.

    Mengapa Ini Penting?

    Waktu blok yang lebih singkat berarti throughput jaringan meningkat. Data on-chain menunjukkan Solana kini mampu memproses hingga 6.000 transaksi per detik (TPS), melampaui Ethereum (15-30 TPS) dan bahkan Visa (1.700 TPS). “Ini bukan sekadar angka—ini bukti Solana siap menjadi infrastruktur global untuk aplikasi skala massal,” kata Anatoly Yakovenko, Co-Founder Solana, dalam cuitannya.

    Dalam 24 jam pasca-aktivasi, SOL terkoreksi tipis 0,8% ke level Rp2,45 juta (USD158), namun volume perdagangan melonjak 32% menjadi Rp18,7 triliun (USD1,2 miliar). Analis on-chain @SolanaFloor mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 12,3 juta SOL (senilai Rp30,1 triliun), tanda akumulasi oleh investor institusional.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu aset kripto paling aktif diperdagangkan. Data Indodax menunjukkan SOL menduduki peringkat ke-4 berdasarkan volume harian, dengan likuiditas harian rata-rata Rp1,2 triliun. “Upgrade ini memperkuat posisi Solana sebagai alternatif Ethereum di mata developer lokal,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, tantangan regulasi masih membayangi—Bappebti belum mengeluarkan izin resmi untuk staking SOL, meski aktivitas ini marak di platform seperti Pintu dan Reku.

    Katalis berikutnya yang dinantikan: peluncuran tokenisasi aset riil (RWA) di Solana oleh proyek lokal seperti KoinWorks, yang berpotensi menarik likuiditas baru senilai Rp5 triliun dalam 6 bulan ke depan.

    Sumber: decrypt, Solana Explorer, Indodax

  • Ray Dalio Sarankan Bitcoin di Tengah Krisis Utang Global, Ini Alasannya

    Ray Dalio, pendiri hedge fund raksasa Bridgewater Associates, menyarankan investor untuk mengalokasikan “sedikit” Bitcoin di tengah ancaman krisis utang global. Dengan kekayaan bersih diperkirakan US$15 miliar (Rp236,7 triliun), Dalio merekomendasikan portofolio lebih berat pada Bitcoin dan emas dibandingkan obligasi.

    Mengapa Bitcoin dan Emas?

    Dalio menekankan bahwa aset-aset ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakstabilan ekonomi. “Dalam skenario krisis utang, likuiditas pasar akan terserap, dan obligasi pemerintah bisa kehilangan daya tariknya,” ujarnya dalam wawancara terbaru. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di level US$65.000 (Rp1,03 miliar), sementara emas bertahan di US$2.300 per ons.

    Rekomendasi Dalio muncul setelah Federal Reserve AS menahan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi, yang berpotensi memicu resesi. Data on-chain menunjukkan arus masuk (inflow) ke Bitcoin ETF spot AS mencapai US$1,2 miliar (Rp19 triliun) dalam sepekan terakhir, menandai sentimen positif di tengah ketidakpastian makroekonomi.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, rekomendasi tokoh seperti Dalio sering kali memicu lonjakan minat investor ritel. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat kenaikan volume perdagangan hingga 15% setelah pernyataan serupa dari figur global. Namun, regulator Bappebti mengingatkan bahwa aset kripto tetap dikategorikan sebagai komoditi berisiko tinggi, dengan pajak transaksi sebesar 0,1% (PPh final) dan 0,1% (PPN).

    Dengan pengawasan aset kripto akan beralih ke OJK pada 2025, pelaku pasar menantikan kejelasan regulasi terkait produk derivatif dan staking. Katalis berikutnya yang dinantikan adalah keputusan Fed mengenai potensi pemangkasan suku bunga pada September 2024.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Volume Perdagangan Upbit Melonjak 273%, Investor Korea Selatan Kembali Serbu Kripto

    Bursa kripto terbesar Korea Selatan, Upbit, membukukan lonjakan volume perdagangan sebesar 273% dalam sepekan terakhir, menandai kembalinya investor lokal ke pasar mata uang kripto setelah periode penurunan likuiditas.

    Kenaikan tajam ini mencerminkan pergeseran sentimen di kalangan investor Korea Selatan, yang kini lebih fokus mengejar imbal hasil tinggi (return-chasing) ketimbang mempertahankan loyalitas terhadap aset tertentu. Analis pasar kripto, Kim Ji-hoon, menyatakan, “Modal domestik perlahan kembali mengalir ke kripto, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga jangka pendek dan peluang arbitrase di pasar spot.”

    Data On-Chain dan Faktor Pendorong

    Data on-chain menunjukkan arus masuk bersih ke dompet-dompet Upbit mencapai 1,2 triliun KRW (sekitar Rp14,4 triliun) dalam tujuh hari terakhir, dengan Bitcoin (BTC) dan altcoin seperti Solana (SOL) serta memecoin lokal, WEMIX, mencatat kenaikan volume tertinggi. BTC mendominasi 45% dari total volume, diikuti SOL (18%) dan WEMIX (12%).

    Faktor katalis utama meliputi: (1) penguatan Won Korea Selatan (KRW) terhadap USD, yang meningkatkan daya beli investor lokal; (2) peluncuran produk staking baru di Upbit dengan imbal hasil hingga 8% per tahun; dan (3) rumor potensi pelonggaran regulasi kripto oleh Financial Services Commission (FSC) Korea Selatan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Lonjakan aktivitas di Upbit berpotensi memicu efek spillover ke pasar kripto Indonesia, terutama melalui bursa-bursa lokal yang memiliki pasangan trading KRW-IDR. Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan volume perdagangan pasangan BTC/IDR hingga 30% dalam periode yang sama, meski belum sebanding dengan skala Korea Selatan.

    Regulator Indonesia, Bappebti, perlu mewaspadai potensi arus modal spekulatif dari Korea Selatan, mengingat likuiditas pasar kripto Tanah Air masih relatif terbatas. “Kami memantau pergerakan ini secara ketat, terutama terkait kepatuhan KYC dan pencegahan manipulasi harga,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan Bank of Korea (BoK) mengenai suku bunga acuan pada 12 Juni mendatang, yang dapat memengaruhi aliran modal ke aset berisiko seperti kripto.

    Sumber: The Block

  • XRP Tembus Sinyal Bearish Terkuat—Harga Melonjak, Apa Katalisnya?

    XRP membukukan penutupan harian di atas dua moving average kunci untuk pertama kalinya sejak Agustus, menghapus sinyal bearish terkuat yang membebani token Ripple selama sebulan terakhir.

    Pola Bearish Terpecahkan, Harga XRP Terbang

    Token yang terafiliasi dengan Ripple ini menghabiskan seluruh bulan Agustus terperangkap di bawah pola bearish crossover—kondisi di mana moving average 50-hari turun menembus moving average 200-hari dari atas, sering diartikan sebagai sinyal pelemahan tren jangka panjang. Hari ini, XRP akhirnya menutup di atas kedua garis tersebut, mengakhiri periode tekanan teknikal yang membuat investor waspada.

    Data on-chain menunjukkan lonjakan volume perdagangan sebesar 42% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$1,8 miliar (Rp28,4 triliun). Harga XRP melonjak 7,3% dalam periode yang sama, menembus level psikologis US$0,58 (Rp9.100) dan mendekati resistensi US$0,60 (Rp9.400). Analis teknikal dari TradingView mencatat bahwa penembusan ini berpotensi memicu reli lanjutan menuju US$0,65 (Rp10.200) jika volume tetap terjaga.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, XRP menjadi salah satu dari 500 aset kripto yang diperdagangkan secara legal melalui bursa terdaftar Bappebti. Platform lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan aktivitas trading XRP sebesar 28% dalam sepekan terakhir, seiring dengan sentimen positif dari pergerakan harga global. Namun, investor domestik tetap perlu waspada terhadap volatilitas tinggi—terutama menjelang transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK yang dijadwalkan pada kuartal pertama 2025.

    Kepala Riset Pintu, Muhammad Rosyhan, menilai bahwa penembusan XRP ini mencerminkan pergeseran sentimen di pasar altcoin. “Koreksi Bitcoin yang terbatas di bawah US$60.000 (Rp945 juta) memberikan ruang bagi altcoin seperti XRP untuk rebound. Namun, likuiditas di bursa lokal masih menjadi tantangan—spread bid-ask XRP di beberapa platform bisa mencapai 1,5%,” ujarnya.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: (1) Putusan final pengadilan antara Ripple dan SEC Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 15 Oktober, dan (2) peluncuran stablecoin Ripple (RLUSD) yang direncanakan pada akhir tahun. Kedua faktor ini berpotensi mendorong XRP menuju level US$0,75 (Rp11.800) jika berjalan positif.

    Sumber: decrypt