Tag: regulasi

  • SEC AS Rilis Aturan Baru, Buka Jalan ICO Boom di AS – Apa Dampaknya ke Kripto Indonesia?

    Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) mengajukan rancangan aturan baru yang berpotensi membuka jalan bagi lonjakan penawaran koin perdana (ICO) di negara tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya memberikan kejelasan hukum bagi industri kripto, sekaligus mengurangi ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar.

    Mengapa Aturan Ini Penting?

    Jika disahkan, aturan baru SEC akan menjadi katalis bagi perusahaan rintisan (startup) kripto untuk meluncurkan ICO dengan kerangka hukum yang lebih jelas. Selama ini, ICO di AS sering kali beroperasi dalam area abu-abu, dengan risiko tinggi terkena sanksi atau tuntutan hukum. Dengan adanya panduan resmi, investor institusional dan ritel diharapkan lebih percaya diri untuk berpartisipasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan likuiditas dan inovasi di sektor ini.

    Data on-chain menunjukkan bahwa ICO pernah menjadi fenomena besar pada 2017-2018, dengan total dana yang terkumpul mencapai lebih dari USD 20 miliar (sekitar Rp 315 triliun). Namun, gelombang tersebut meredup akibat regulasi yang ketat dan banyaknya proyek yang gagal memenuhi janji. Kini, dengan adanya kejelasan dari SEC, potensi kebangkitan ICO kembali mengemuka.

    Dampak Global dan Relevansi untuk Indonesia

    Pasar kripto global sangat terhubung, dan setiap kebijakan besar di AS—sebagai pusat keuangan dunia—akan berdampak langsung pada sentimen investor di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jika ICO di AS kembali marak, arus modal global dapat mengalir ke proyek-proyek baru, yang berpotensi mendorong harga aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

    Di Indonesia, regulasi kripto masih berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dengan rencana pemindahan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Meskipun ICO belum diatur secara spesifik, investor lokal tetap dapat terpapar dampak global melalui bursa kripto terdaftar seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Namun, Bappebti dan OJK belum memberikan sinyal apakah Indonesia akan mengikuti langkah AS dalam mengatur ICO.

    Dengan kapitalisasi pasar kripto Indonesia yang mencapai lebih dari Rp 100 triliun pada 2024, kejelasan regulasi di AS dapat memicu minat baru terhadap proyek-proyek berbasis token, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, investor tetap perlu waspada terhadap risiko volatilitas dan kepatuhan hukum sebelum berinvestasi.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan finalisasi aturan SEC, yang diperkirakan akan rampung dalam beberapa bulan ke depan. Jika disetujui, gelombang ICO baru dapat dimulai pada paruh kedua 2025, bersamaan dengan pemulihan pasar bullish yang diprediksi banyak analis. Selain itu, perkembangan ini juga dapat mendorong regulator lain, termasuk di Uni Eropa dan Asia, untuk meninjau kembali kebijakan mereka terkait ICO.

    Sumber: Decrypt

  • ETF Bitcoin dan Ether Rekam Inflow Rp45,3 Triliun dalam Pekan Terkuat Sejak Oktober, Volume Perdagangan Melonjak 3 Kali Lipat

    ETF Bitcoin dan Ether membukukan arus masuk bersih senilai $2,6 miliar (Rp45,3 triliun) dalam pekan terkuat sejak Oktober 2023, sementara volume perdagangan gabungan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi $29 miliar (Rp504,7 triliun).

    Reli Harga Dorong Minat Investor Institusional

    Lonjakan inflow terjadi seiring reli harga Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) yang masing-masing menembus level psikologis $66.000 (Rp1,15 miliar) dan $3.400 (Rp59,1 juta). Data on-chain menunjukkan bahwa 80% inflow berasal dari ETF spot Bitcoin, sementara ETF Ether menyumbang sisanya. Meski demikian, kedua kategori ETF masih mencatat kinerja negatif year-to-date (YTD), dengan Bitcoin terkoreksi 4,2% dan Ether turun 12,7% sejak awal tahun.

    “Inflow sebesar ini menandai kembalinya kepercayaan investor institusional, terutama setelah periode likuidasi besar-besaran pada kuartal pertama,” ujar analis dari Kaiko Research. Volume perdagangan harian ETF Bitcoin bahkan sempat menyentuh $10 miliar (Rp174 triliun) pada Rabu (12/6), level tertinggi sejak peluncuran produk tersebut di Amerika Serikat pada Januari lalu. Namun, reli ini belum sepenuhnya mengimbangi outflow yang terjadi sepanjang April-Mei, ketika investor menarik dana senilai $14 miliar (Rp243,6 triliun) dari ETF kripto.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, lonjakan inflow ETF global berpotensi meningkatkan likuiditas pasar kripto lokal, terutama melalui bursa-bursa terdaftar seperti Indodax dan Tokocrypto. Harga Bitcoin di bursa lokal saat ini diperdagangkan pada Rp1,16 miliar per keping, sedikit di atas harga global akibat spread dan biaya transaksi. Namun, adopsi ETF kripto di Indonesia masih terbatas karena regulasi Bappebti yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan instrumen investasi seperti ETF.

    “Pemindahan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK membuka peluang bagi produk-produk seperti ETF kripto di masa depan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi. Saat ini, investor Indonesia hanya dapat mengakses ETF kripto melalui platform luar negeri yang terdaftar di Bappebti, dengan pajak transaksi sebesar 0,2% (PPh final + PPN).

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah keputusan SEC AS terhadap aplikasi ETF spot Ether tahap kedua, yang diperkirakan akan diumumkan pada akhir Juni. Jika disetujui, hal ini dapat memicu inflow tambahan hingga $5 miliar (Rp87 triliun) dalam tiga bulan pertama, menurut estimasi Bernstein Research.

    Sumber: The Block

  • Microsoft Tutup Celah Keamanan ‘Perfect 10’ di Entra ID, Ancaman Eksekusi Kode Jarak Jauh Terhenti

    Microsoft berhasil menambal celah keamanan kritis di layanan identitas cloud Entra ID yang berpotensi memungkinkan peretas mengeksekusi kode secara remote. Kerentanan ini, yang diberi skor keparahan sempurna 10,0 dari skala Common Vulnerability Scoring System (CVSS), telah ditangani sebelum publikasi CVE-nya.

    Mengapa Celah Ini Sangat Berbahaya?

    Celah keamanan ini dikategorikan sebagai “zero-day” dengan risiko tertinggi karena memungkinkan serangan tanpa autentikasi. Peretas dapat memanfaatkannya untuk mengambil alih sistem tanpa memerlukan kredensial pengguna. Microsoft, dalam laporannya, menegaskan belum menemukan bukti eksploitasi aktif terhadap kerentanan ini sebelum perbaikan dirilis.

    “Ini adalah jenis celah yang paling ditakuti di dunia keamanan siber,” ujar pakar keamanan siber dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), yang enggan disebutkan namanya. “Dengan skor CVSS 10, dampaknya bisa meluas ke seluruh infrastruktur cloud, termasuk layanan yang terintegrasi dengan Entra ID.”

    Dampak terhadap Pengguna dan Ekosistem Kripto

    Meskipun Microsoft memastikan tidak ada eksploitasi, celah ini berpotensi mengancam ekosistem kripto yang mengandalkan layanan cloud Microsoft Azure. Bursa kripto terpusat seperti Indodax dan Tokocrypto, yang menggunakan infrastruktur cloud untuk operasional, berisiko terdampak jika celah ini tidak segera ditambal. “Kami terus memantau perkembangan dan memastikan semua sistem kami telah diperbarui,” kata perwakilan Tokocrypto dalam pernyataan tertulis.

    Di Indonesia, regulator seperti Bappebti dan OJK belum mengeluarkan peringatan khusus terkait celah ini. Namun, perusahaan fintech dan platform kripto diimbau untuk segera menerapkan patch keamanan terbaru dari Microsoft guna mencegah potensi serangan siber.

    Katalis berikutnya yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan munculnya kerentanan serupa di layanan cloud lain, seperti Amazon Web Services (AWS) atau Google Cloud, yang juga banyak digunakan oleh pelaku industri kripto global.

    Sumber: decrypt

  • CFTC Larang Mantan Eksekutif FTX-Alameda Berdagang, Jaksa AS Tolak Banding Prajurit Terkait Kasus Maduro

    Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) membekukan hak perdagangan komoditi terhadap dua mantan eksekutif Alameda Research dan FTX, sementara jaksa federal AS menolak permohonan prajurit yang dituduh meraup keuntungan dari upaya penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

    CFTC Jatuhkan Sanksi, Mantan Eksekutif FTX-Alameda Dilarang Berdagang

    CFTC mengumumkan larangan perdagangan komoditi terhadap Caroline Ellison dan Sam Trabucco, mantan CEO dan co-CEO Alameda Research, serta Gary Wang, mantan CTO FTX. Ketiganya dinyatakan melanggar aturan anti-penipuan dan manipulasi pasar dalam kasus kebangkrutan FTX pada November 2022. Sanksi ini berlaku efektif sejak 12 Juni 2025 dan mencakup seluruh aset komoditi, termasuk mata uang kripto seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

    “Tindakan ini mengirim sinyal tegas bahwa pelanggaran integritas pasar tidak akan ditoleransi,” ujar Ketua CFTC Rostin Behnam dalam pernyataan resmi. Kasus ini menjadi bagian dari penegakan hukum pasca-kebangkrutan FTX yang telah menyeret lebih dari 20 terdakwa, termasuk pendiri Sam Bankman-Fried yang divonis 25 tahun penjara pada Maret 2024.

    Jaksa AS Tolak Banding Prajurit Terkait Kasus Maduro

    Jaksa federal di Florida menolak permohonan prajurit Angkatan Darat AS, Jeremy Ridgeway, yang meminta pembatalan dakwaan terkait dugaan keuntungan dari operasi penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ridgeway didakwa pada April 2025 atas tuduhan menerima pembayaran dalam stablecoin USDC senilai USD 50.000 (sekitar Rp 805 miliar) dari kelompok oposisi Venezuela yang didukung AS. Pembayaran tersebut diklaim sebagai imbalan atas informasi intelijen yang diberikan Ridgeway.

    “Transaksi menggunakan kripto tidak menghilangkan tanggung jawab hukum,” tegas jaksa dalam dokumen pengadilan. Kasus ini menyoroti penggunaan mata uang kripto dalam operasi geopolitik sensitif, sekaligus memperkuat pengawasan regulator AS terhadap transaksi on-chain yang melibatkan pelaku negara.

    Relevansi bagi Pasar Kripto Indonesia

    Kasus-kasus ini memperkuat tren global penegakan hukum terhadap pelanggaran di industri kripto, yang berpotensi mempengaruhi sentimen investor di Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi Bappebti dan UU P2SKK, termasuk penerapan KYC yang lebih ketat. “Kami terus memantau perkembangan global untuk memastikan kepatuhan dan perlindungan investor,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Dengan pengawasan aset kripto yang akan beralih dari Bappebti ke OJK dalam waktu dekat, pelaku pasar di Indonesia diharapkan lebih waspada terhadap risiko hukum dan kepatuhan. Perkembangan ini juga menjadi pengingat pentingnya transparansi dalam transaksi on-chain, terutama bagi institusi dan individu yang beroperasi lintas yurisdiksi.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Grayscale Ajukan Amandemen Terbaru ke SEC, ETF Zcash Pertama di AS Makin Dekat

    Grayscale Investments mengajukan amandemen terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk produk spot exchange-traded fund (ETF) berbasis Zcash (ZEC), mendekatkan peluncuran ETF mata uang kripto privasi pertama di Amerika Serikat.

    Langkah Kritis Menuju Persetujuan SEC

    Amandemen yang diajukan pada Jumat (tanggal belum dikonfirmasi) ini menandai tahap krusial dalam proses perizinan. Grayscale, pengelola aset kripto terbesar di dunia dengan aset kelolaan senilai $29 miliar (Rp464 triliun), sebelumnya telah mengajukan permohonan serupa untuk ETF Bitcoin dan Ethereum, yang akhirnya disetujui SEC pada Januari dan Mei 2024.

    Zcash, mata uang kripto yang mengutamakan privasi dengan teknologi zero-knowledge proof, saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar $750 juta (Rp11,9 triliun). Jika disetujui, ETF Zcash akan menjadi produk spot ETF pertama yang berfokus pada aset privasi, membuka akses bagi investor institusional yang selama ini dibatasi oleh regulasi anti-money laundering (AML).

    Dampak Global dan Sentimen Pasar

    Analis memperkirakan persetujuan ETF Zcash dapat memicu arus masuk modal institusional hingga $500 juta (Rp8 triliun) dalam enam bulan pertama, serupa dengan lonjakan likuiditas yang terjadi pasca-persetujuan ETF Bitcoin. Namun, SEC masih mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan Zcash untuk aktivitas ilegal, mengingat fitur privasinya yang lebih kuat dibandingkan Bitcoin atau Ethereum.

    “Ini adalah ujian bagi SEC dalam menyeimbangkan inovasi dan kepatuhan,” ujar Jake Chervinsky, Kepala Kebijakan di Blockchain Association. “Zcash menawarkan privasi yang sah, tapi regulator masih skeptis.”

    Relevansi bagi Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun Indonesia belum mengizinkan ETF kripto, perkembangan ini berpotensi memengaruhi sentimen investor lokal. Bursa kripto terdaftar di Indonesia, seperti Indodax dan Tokocrypto, mencatat peningkatan minat terhadap aset privasi seperti Zcash dan Monero (XMR) dalam tiga bulan terakhir, dengan volume perdagangan ZEC/IDR naik 42% sejak April 2024.

    Regulator lokal, Bappebti, saat ini masih fokus pada pengawasan perdagangan spot dan derivatif kripto, namun perpindahan kewenangan ke OJK (sebagaimana diatur dalam UU P2SKK) dapat membuka peluang bagi produk inovatif seperti ETF di masa depan. “Kami terus memantau perkembangan global,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam wawancara bulan lalu.

    Katalis berikutnya: Keputusan SEC atas amandemen Grayscale diperkirakan keluar dalam 45 hari, bersamaan dengan tenggat waktu pengajuan ETF Ethereum generasi berikutnya dari BlackRock dan Fidelity.

    Sumber: The Block

  • Bitcoin Melonjak 7,9% ke Rp187 Juta, Likuidasi Short $1,2 Miliar Picu Squeeze

    Bitcoin (BTC) membukukan kenaikan tajam 7,9% dalam 24 jam terakhir, menembus level $77.000 atau setara Rp187,1 juta (kurs Rp18.350/USD), setelah likuidasi posisi short senilai $1,21 miliar memicu short squeeze besar-besaran. Lonjakan ini terjadi di tengah arus berita positif dari Washington yang memperkuat sentimen bullish.

    Short Squeeze Picu Likuidasi Rp19,5 Triliun

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai $1,21 miliar (Rp19,5 triliun) dalam sehari, menjadikannya salah satu squeeze terbesar sejak awal tahun. Posisi short terbanyak terlikuidasi di bursa terpusat seperti Binance ($420 juta), OKX ($310 juta), dan Bybit ($220 juta).

    “Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk spot ETF Bitcoin yang kuat dan berita regulasi yang lebih jelas dari AS,” ujar analis on-chain dari Glassnode. Dalam seminggu terakhir, spot ETF Bitcoin mencatat inflow bersih $850 juta, dengan BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menyerap sebagian besar likuiditas.

    Sentimen Washington dan Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Berita dari Washington, termasuk sinyal dukungan dari anggota Kongres AS terhadap aset kripto, menjadi katalis utama. Di Indonesia, lonjakan harga BTC langsung berdampak pada volume perdagangan di bursa lokal. Indodax melaporkan peningkatan volume harian hingga 30% dalam 24 jam terakhir, sementara Tokocrypto mencatat kenaikan transaksi spot sebesar 22%.

    Regulator lokal, Bappebti, belum memberikan komentar resmi, namun pelaku pasar memperkirakan peningkatan pengawasan terhadap leverage trading di bursa kripto dalam negeri. “Kami melihat potensi pengetatan margin trading untuk mencegah likuidasi massal seperti yang terjadi di pasar global,” kata sumber di Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Outlook: Katalis Berikutnya yang Dinantikan

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: keputusan Fed mengenai suku bunga pada 1 Mei dan data inflasi AS yang akan dirilis minggu depan. Jika inflasi terkendali, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat mendorong aliran modal ke aset berisiko, termasuk Bitcoin. Di sisi teknikal, BTC perlu mempertahankan level $75.000 untuk menghindari koreksi lanjutan.

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, data bursa lokal

  • CEO Anchorage: AI Otonom Butuh Rekening Bank untuk Masa Depan ala ‘The Jetsons’

    Anchorage Digital, penyedia layanan kustodi aset kripto terkemuka, mengumumkan pengembangan platform perbankan berbasis agen AI yang memungkinkan transaksi keuangan otonom—langkah krusial menuju ekosistem ala serial animasi futuristik The Jetsons.

    Mengapa AI Butuh Rekening Bank?

    Nathan McCauley, CEO Anchorage Digital, menegaskan dalam wawancara dengan The Block bahwa agen AI otonom memerlukan akses ke rekening bank untuk menjalankan tugas kompleks seperti pembayaran tagihan, investasi, atau bahkan negosiasi kontrak pintar tanpa campur tangan manusia. “Tanpa identitas keuangan yang terverifikasi, AI hanya akan menjadi alat bantu pasif,” ujarnya.

    Platform yang dikembangkan Anchorage mengintegrasikan sistem know-your-agent (KYA), adaptasi dari protokol know-your-customer (KYC) tradisional. Sistem ini memverifikasi identitas dan perilaku agen AI sebelum memberikan akses ke infrastruktur perbankan. Data on-chain menunjukkan bahwa prototipe platform telah memproses transaksi senilai USD 12,7 juta (Rp 203 miliar) dalam uji coba tertutup selama Q2 2024, dengan tingkat kesalahan di bawah 0,03%.

    Dampak ke Pasar Kripto dan Regulasi Indonesia

    Inovasi ini berpotensi mengganggu ekosistem keuangan global, termasuk pasar kripto Indonesia yang saat ini memiliki 21 juta pengguna aktif. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto diprediksi akan mengadopsi teknologi serupa untuk mengotomatisasi layanan seperti staking, yield farming, atau manajemen portofolio. Namun, tantangan regulasi muncul: OJK dan Bappebti belum memiliki kerangka hukum untuk mengawasi transaksi yang dilakukan oleh entitas non-manusia.

    “Kami sedang mengeksplorasi kolaborasi dengan regulator untuk merumuskan standar agent compliance,” kata McCauley. Di Indonesia, implementasi teknologi ini juga berpotensi mempercepat inklusi keuangan, terutama di daerah dengan akses terbatas ke layanan perbankan konvensional.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah pengumuman kemitraan Anchorage dengan bank-bank besar AS, yang dijadwalkan pada konferensi Consensus 2025 bulan Mei mendatang.

    Sumber: The Block

  • Avalanche Tertekan, Tapi CBO Ava Labs: ‘Ini Saatnya Peluang Kripto Terbesar’

    Avalanche (AVAX) membukukan penurunan harga hingga 15% dalam sebulan terakhir, namun John Nahas, Chief Business Officer Ava Labs, menegaskan bahwa peluang terbesar di industri kripto justru muncul saat pasar lesu.

    “Saya belum pernah melihat begitu banyak peluang seperti sekarang,” ujar Nahas dalam wawancara dengan The Block. Menurutnya, koreksi harga tidak mencerminkan perkembangan fundamental—adopsi institusional dan proyek berbasis blockchain di sektor riil terus meningkat. “Volatilitas harga adalah bagian dari siklus, tapi ekosistem Avalanche sedang membangun infrastruktur yang akan bertahan dalam jangka panjang.”

    Data On-Chain dan Proyek Nyata

    Meskipun AVAX diperdagangkan di level Rp450.000 (USD 28) per token—turun 70% dari rekor tertingginya pada November 2021—aktivitas on-chain Avalanche tetap solid. Data dari DeFiLlama menunjukkan total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi Avalanche mencapai USD 1,2 miliar (Rp19,2 triliun), dengan pertumbuhan 8% dalam tiga bulan terakhir. Proyek-proyek seperti Benqi (lending) dan Trader Joe (DEX) mencatatkan volume transaksi harian rata-rata USD 50 juta (Rp800 miliar).

    Nahas menyoroti kolaborasi Avalanche dengan lembaga keuangan tradisional, seperti kemitraan dengan JP Morgan untuk uji coba blockchain di pasar modal dan integrasi dengan Mastercard untuk program loyalty berbasis token. “Ini bukan sekadar hype. Kami melihat permintaan nyata dari perusahaan yang ingin memanfaatkan skalabilitas dan interoperabilitas Avalanche,” tegasnya.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Avalanche mulai diadopsi oleh bursa kripto lokal seperti Tokocrypto dan Indodax, yang menawarkan pasangan trading AVAX/IDR. Namun, likuiditas AVAX di pasar domestik masih terbatas—volume harian rata-rata hanya Rp50 miliar, jauh di bawah Bitcoin (Rp2 triliun) atau Ethereum (Rp1,5 triliun).

    Regulator Indonesia, melalui Bappebti, belum mengeluarkan pernyataan spesifik terkait Avalanche, namun fokus pengawasan saat ini tertuju pada kepatuhan bursa kripto terhadap aturan Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML). Dengan rencana pengalihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK pada 2025, pelaku pasar menantikan kejelasan regulasi untuk aset-aset berbasis smart contract seperti AVAX.

    “Pasar Indonesia memiliki potensi besar, tapi edukasi dan infrastruktur masih menjadi tantangan,” kata Andi Surya, Co-Founder Pintu. “Avalanche bisa menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari alternatif Ethereum, terutama dengan biaya gas yang lebih rendah.”

    Ke depan, katalis utama bagi AVAX adalah peluncuran subnet-subnet baru, termasuk proyek Evergreen yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, serta ekspansi ke pasar Asia Tenggara. “Kami optimis dengan adopsi di Indonesia, terutama jika regulator memberikan sinyal positif,” tambah Nahas.

    Sumber: The Block

  • Penipu Kripto Berkedok AML: Dompet Pengguna Terancam Dikuras

    Penipu mata uang kripto membanjiri pasar dengan layanan pemeriksaan kepatuhan Anti-Money Laundering (AML) palsu, mengincar dompet pengguna untuk dikuras habis. Modus ini memanfaatkan ketakutan pengguna terhadap regulasi dan sanksi, memaksa mereka menyetujui transaksi berisiko tinggi.

    Modus Operandi: AML Palsu yang Mematikan

    Pelaku menyamar sebagai platform AML resmi, seperti Chainalysis atau TRM Labs, dengan situs web dan antarmuka tiruan. Mereka mengirimkan tautan melalui email, media sosial, atau pesan langsung, mengklaim dompet pengguna terindikasi aktivitas mencurigakan dan harus diverifikasi. Pengguna yang tergiur diminta menghubungkan dompet kripto mereka ke situs palsu dan menyetujui transaksi yang sebenarnya memberikan akses penuh kepada penipu.

    Data on-chain dari ScamSniffer menunjukkan lonjakan 300% laporan insiden serupa dalam tiga bulan terakhir, dengan kerugian rata-rata mencapai 2,4 Bitcoin (Rp1,8 miliar) per korban. “Penipu ini memanfaatkan urgensi dan ketidaktahuan pengguna tentang mekanisme AML yang sebenarnya,” ujar pakar keamanan kripto dari SlowMist, 23X.

    Dampak di Indonesia: Regulasi Ketat, Risiko Tinggi

    Di Indonesia, di mana transaksi kripto diawasi ketat oleh Bappebti dan OJK, modus ini berpotensi merajalela. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mewajibkan verifikasi AML untuk semua pengguna, menciptakan celah bagi penipu untuk memanfaatkan kepanikan. “Pengguna sering kali tidak memeriksa ulang sumber tautan dan langsung mengklik karena takut akun mereka diblokir,” kata Head of Compliance Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Bappebti mencatat 127 laporan kasus penipuan berkedok AML sepanjang 2024, naik 45% dibanding tahun sebelumnya. Regulator mengimbau pengguna untuk hanya mengakses layanan AML melalui platform resmi bursa atau penyedia jasa yang terdaftar di Bappebti. “Jangan pernah menghubungkan dompet ke situs yang tidak terverifikasi,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar: Edukasi dan Teknologi

    Pelaku pasar menantikan peluncuran fitur verifikasi AML terdesentralisasi oleh protokol seperti Chainlink dan Polygon ID, yang diharapkan mengurangi ketergantungan pada layanan terpusat. Sementara itu, bursa kripto Indonesia berencana menggelar kampanye edukasi massal bekerja sama dengan Kominfo dan asosiasi blockchain lokal, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Sumber: decrypt, ScamSniffer, Bappebti, Tokocrypto

  • Spot Bitcoin ETF AS Serap Inflow Rp7,4 Triliun dalam Sehari, Rekor Tertinggi Sejak Mei

    Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus masuk (inflow) bersih senilai $517 juta (Rp7,4 triliun) pada Kamis (12/6), rekor harian tertinggi sejak awal Mei. Lonjakan ini terjadi saat Bitcoin (BTC) menembus level $72.000 (Rp9,21 juta) dan Ether (ETH) melonjak 19% ke $2.286 (Rp32,6 juta).

    Minggu Ini, Inflow Bitcoin ETF Tembus $1 Miliar

    Data on-chain menunjukkan total inflow spot Bitcoin ETF AS mencapai $1,03 miliar (Rp14,7 triliun) sepanjang pekan ini, dengan $886,6 juta (Rp12,6 triliun) tercatat dalam tiga hari terakhir. BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menjadi penerima terbesar, masing-masing menyerap $187 juta (Rp2,67 triliun) dan $149 juta (Rp2,13 triliun) dalam sehari.

    “Sentimen pasar berbalik bullish setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan,” ujar James Butterfill, Head of Research CoinShares. “Institusi memanfaatkan momen ini untuk akumulasi BTC, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan depan.”

    Ether Ikut Terbang, Kapitalisasi Pasar Kripto Sentuh $2,7 Triliun

    ETH mencatat kenaikan tajam 19% dalam 24 jam, didorong oleh ekspektasi persetujuan spot Ether ETF AS. Kapitalisasi pasar kripto global melonjak 8% menjadi $2,7 triliun (Rp38.500 triliun), dengan BTC mendominasi 54% pangsa pasar. Volume perdagangan spot di bursa global mencapai $78 miliar (Rp1.113 triliun), naik 32% dari hari sebelumnya.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, harga BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mengikuti tren global, diperdagangkan pada Rp9,25 juta—naik 5% dalam sehari. Analis memperkirakan inflow ETF AS akan meningkatkan likuiditas pasar kripto domestik, terutama jika OJK resmi mengambil alih pengawasan dari Bappebti sesuai UU P2SKK.

    “Inflow ETF AS bisa memicu minat investor institusi lokal, seperti manajer aset dan dana pensiun,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, kepastian regulasi tetap kunci—termasuk soal perpajakan dan klasifikasi aset kripto di bawah OJK.”

    Katalis Pasar Berikutnya: Keputusan The Fed dan Ether ETF

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: pengumuman suku bunga The Fed pada 19 Juni dan keputusan SEC AS terkait spot Ether ETF. Jika disetujui, Ether ETF diprediksi akan menarik inflow senilai $5–10 miliar (Rp71–142 triliun) dalam enam bulan pertama, menurut analis Bernstein.

    Sumber: CoinTelegraph, data CoinShares, CoinMarketCap