Tag: ETF

  • XRP Melonjak Pekan Terbaik Sejak Pump Pemilu 2024, Terkerek Short Squeeze Bitcoin

    XRP membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak pump pasca-pemilu 2024, melonjak 18,3% dalam tujuh hari terakhir dan mencatat rekor harian tertinggi sejak Maret. Aksi harga ini dipicu oleh short squeeze Bitcoin yang memicu likuidasi massal posisi bearish senilai US$1,2 miliar (Rp19,2 triliun) pada Selasa (10/6).

    Mengapa Ini Penting?

    Kenaikan XRP yang mencapai 8,7% dalam 24 jam terakhir (10/6) menandai pergeseran sentimen jangka pendek, namun data on-chain dan arus ETF mengindikasikan momentum yang rapuh. Likuidasi short Bitcoin memicu efek domino, mendorong altcoin—termasuk XRP—untuk menyerap likuiditas dari posisi tertekan. Namun, inflow ETF Bitcoin spot justru mencatat arus keluar bersih US$65 juta (Rp1,04 triliun) pada hari yang sama, mengisyaratkan tekanan jual institusional.

    Data On-Chain dan Futures: Momentum Pinjaman?

    Data dari Coinglass menunjukkan open interest kontrak berjangka XRP meningkat 22% dalam sepekan, mencapai US$580 juta (Rp9,28 triliun)—level tertinggi sejak April. Namun, funding rate perpetual futures XRP tetap negatif (-0,015%), mengindikasikan dominasi posisi short. “Ini klasik pump-and-dump setup,” ujar analis on-chain @CryptoVizArt di X, “XRP naik karena likuidasi short, bukan karena minat beli organik.”

    Volume perdagangan XRP di bursa terpusat juga melonjak 147% menjadi US$3,1 miliar (Rp49,6 triliun) dalam 24 jam, namun 68% di antaranya terjadi di pasangan XRP/USDT—menandakan spekulasi jangka pendek. Sementara itu, total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis XRP seperti Flare dan Sologenic justru stagnan di US$120 juta (Rp1,92 triliun), jauh di bawah puncak 2023 sebesar US$450 juta (Rp7,2 triliun).

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, XRP menjadi aset kripto keempat paling banyak diperdagangkan di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, dengan volume harian rata-rata Rp350 miliar. Kenaikan harga ini mendorong lonjakan transaksi spot XRP/IDR sebesar 89% dalam sehari, menurut data dari Pintu. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kenaikan XRP saat ini lebih didorong oleh aksi short squeeze daripada fundamental,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam pernyataan tertulis.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan pengadilan banding Ripple vs SEC yang dijadwalkan pada 25 Juni, serta rilis data inflasi AS pada 12 Juni yang dapat memicu pergerakan volatilitas baru di pasar kripto global.

    Sumber: decrypt

  • ETF Bitcoin dan Ether Rekam Inflow Rp45,3 Triliun dalam Pekan Terkuat Sejak Oktober, Volume Perdagangan Melonjak 3 Kali Lipat

    ETF Bitcoin dan Ether membukukan arus masuk bersih senilai $2,6 miliar (Rp45,3 triliun) dalam pekan terkuat sejak Oktober 2023, sementara volume perdagangan gabungan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi $29 miliar (Rp504,7 triliun).

    Reli Harga Dorong Minat Investor Institusional

    Lonjakan inflow terjadi seiring reli harga Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) yang masing-masing menembus level psikologis $66.000 (Rp1,15 miliar) dan $3.400 (Rp59,1 juta). Data on-chain menunjukkan bahwa 80% inflow berasal dari ETF spot Bitcoin, sementara ETF Ether menyumbang sisanya. Meski demikian, kedua kategori ETF masih mencatat kinerja negatif year-to-date (YTD), dengan Bitcoin terkoreksi 4,2% dan Ether turun 12,7% sejak awal tahun.

    “Inflow sebesar ini menandai kembalinya kepercayaan investor institusional, terutama setelah periode likuidasi besar-besaran pada kuartal pertama,” ujar analis dari Kaiko Research. Volume perdagangan harian ETF Bitcoin bahkan sempat menyentuh $10 miliar (Rp174 triliun) pada Rabu (12/6), level tertinggi sejak peluncuran produk tersebut di Amerika Serikat pada Januari lalu. Namun, reli ini belum sepenuhnya mengimbangi outflow yang terjadi sepanjang April-Mei, ketika investor menarik dana senilai $14 miliar (Rp243,6 triliun) dari ETF kripto.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, lonjakan inflow ETF global berpotensi meningkatkan likuiditas pasar kripto lokal, terutama melalui bursa-bursa terdaftar seperti Indodax dan Tokocrypto. Harga Bitcoin di bursa lokal saat ini diperdagangkan pada Rp1,16 miliar per keping, sedikit di atas harga global akibat spread dan biaya transaksi. Namun, adopsi ETF kripto di Indonesia masih terbatas karena regulasi Bappebti yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan instrumen investasi seperti ETF.

    “Pemindahan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK membuka peluang bagi produk-produk seperti ETF kripto di masa depan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi. Saat ini, investor Indonesia hanya dapat mengakses ETF kripto melalui platform luar negeri yang terdaftar di Bappebti, dengan pajak transaksi sebesar 0,2% (PPh final + PPN).

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah keputusan SEC AS terhadap aplikasi ETF spot Ether tahap kedua, yang diperkirakan akan diumumkan pada akhir Juni. Jika disetujui, hal ini dapat memicu inflow tambahan hingga $5 miliar (Rp87 triliun) dalam tiga bulan pertama, menurut estimasi Bernstein Research.

    Sumber: The Block

  • Zcash Melonjak ke Rekor 8 Tahun di $850, Volume Futures Tembus Rp157 Triliun Didorong Grayscale ETF

    Zcash (ZEC) menembus level psikologis $848, mencatat rekor tertinggi sejak 2016, seiring lonjakan volume perdagangan kontrak berjangka hingga $9,9 miliar (Rp157 triliun) dalam 24 jam terakhir. Data CoinGlass menunjukkan minat terbuka (open interest) mencapai $1,76 miliar (Rp27,5 triliun), menegaskan dominasi derivatif dalam aksi jual-beli ini.

    Grayscale ETF Jadi Katalis, Likuiditas Derivatif Meroket

    Sentimen bullish Zcash dipicu oleh upaya Grayscale Investments mengajukan spot ETF Zcash ke Komisi Sekuritas AS (SEC). Langkah ini mengulang strategi sukses Grayscale dengan Bitcoin dan Ethereum ETF, yang sebelumnya memicu reli harga hingga 200%. Analis on-chain Santiment mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 1,2 juta ZEC (Rp1,5 triliun) dalam sepekan, mengindikasikan akumulasi institusional.

    “Volume futures Zcash melonjak 430% dalam seminggu, jauh melampaui rata-rata pasar kripto sebesar 87%,” ungkap laporan Kaiko Research. Lonjakan ini sejalan dengan peningkatan funding rate menjadi 0,03% per 8 jam—level tertinggi sejak halving Zcash April 2024—menandakan sentimen overleveraged di sisi long position.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli Zcash memicu lonjakan volume perdagangan di bursa lokal. Indodax mencatat kenaikan transaksi ZEC/IDR sebesar 187% dalam sehari, dengan harga tertinggi Rp13,5 juta per koin. Namun, likuiditas terbatas di pasar spot—hanya 12% dari total volume—membuat harga lokal terkoreksi hingga 3% dari patokan global.

    Regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kami memantau peningkatan aktivitas derivatif kripto, termasuk Zcash, seiring perpindahan pengawasan ke OJK pada 2025,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya. Saat ini, Zcash belum masuk daftar 501 aset kripto yang diperdagangkan secara legal di Indonesia, meski tetap dapat diakses melalui bursa terdaftar.

    Outlook: Halving dan ETF sebagai Katalis Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: halving Zcash pada November 2024 yang akan memangkas imbalan blok dari 3,125 ZEC menjadi 1,5625 ZEC, serta keputusan SEC atas pengajuan Grayscale ETF pada Januari 2025. Analis Bitfinex memperkirakan, jika ETF disetujui, kapitalisasi pasar Zcash bisa melonjak 35-50% dalam tiga bulan pertama, serupa pola Bitcoin pasca-persetujuan ETF Januari lalu.

    Sumber: The Block, CoinGlass, Kaiko Research, Indodax, Bappebti

  • Grayscale Ajukan Amandemen Terbaru ke SEC, ETF Zcash Pertama di AS Makin Dekat

    Grayscale Investments mengajukan amandemen terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk produk spot exchange-traded fund (ETF) berbasis Zcash (ZEC), mendekatkan peluncuran ETF mata uang kripto privasi pertama di Amerika Serikat.

    Langkah Kritis Menuju Persetujuan SEC

    Amandemen yang diajukan pada Jumat (tanggal belum dikonfirmasi) ini menandai tahap krusial dalam proses perizinan. Grayscale, pengelola aset kripto terbesar di dunia dengan aset kelolaan senilai $29 miliar (Rp464 triliun), sebelumnya telah mengajukan permohonan serupa untuk ETF Bitcoin dan Ethereum, yang akhirnya disetujui SEC pada Januari dan Mei 2024.

    Zcash, mata uang kripto yang mengutamakan privasi dengan teknologi zero-knowledge proof, saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar $750 juta (Rp11,9 triliun). Jika disetujui, ETF Zcash akan menjadi produk spot ETF pertama yang berfokus pada aset privasi, membuka akses bagi investor institusional yang selama ini dibatasi oleh regulasi anti-money laundering (AML).

    Dampak Global dan Sentimen Pasar

    Analis memperkirakan persetujuan ETF Zcash dapat memicu arus masuk modal institusional hingga $500 juta (Rp8 triliun) dalam enam bulan pertama, serupa dengan lonjakan likuiditas yang terjadi pasca-persetujuan ETF Bitcoin. Namun, SEC masih mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan Zcash untuk aktivitas ilegal, mengingat fitur privasinya yang lebih kuat dibandingkan Bitcoin atau Ethereum.

    “Ini adalah ujian bagi SEC dalam menyeimbangkan inovasi dan kepatuhan,” ujar Jake Chervinsky, Kepala Kebijakan di Blockchain Association. “Zcash menawarkan privasi yang sah, tapi regulator masih skeptis.”

    Relevansi bagi Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun Indonesia belum mengizinkan ETF kripto, perkembangan ini berpotensi memengaruhi sentimen investor lokal. Bursa kripto terdaftar di Indonesia, seperti Indodax dan Tokocrypto, mencatat peningkatan minat terhadap aset privasi seperti Zcash dan Monero (XMR) dalam tiga bulan terakhir, dengan volume perdagangan ZEC/IDR naik 42% sejak April 2024.

    Regulator lokal, Bappebti, saat ini masih fokus pada pengawasan perdagangan spot dan derivatif kripto, namun perpindahan kewenangan ke OJK (sebagaimana diatur dalam UU P2SKK) dapat membuka peluang bagi produk inovatif seperti ETF di masa depan. “Kami terus memantau perkembangan global,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam wawancara bulan lalu.

    Katalis berikutnya: Keputusan SEC atas amandemen Grayscale diperkirakan keluar dalam 45 hari, bersamaan dengan tenggat waktu pengajuan ETF Ethereum generasi berikutnya dari BlackRock dan Fidelity.

    Sumber: The Block

  • Penambang Bitcoin Alirkan Miliaran Dolar ke AI: Belanja Modal 15 Kali Lipat Pendapatan

    Sembilan penambang Bitcoin publik membukukan pendapatan $341 juta (Rp 5,4 triliun) dari operasi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkinerja tinggi (HPC) pada semester pertama 2026. Namun, angka itu hanya seperlimabelas dari belanja modal mereka yang menembus $5 miliar (Rp 79,5 triliun).

    Mengapa Investasi AI Jadi Prioritas?

    Lonjakan belanja modal ini mencerminkan pergeseran strategis industri penambangan Bitcoin. Dengan imbal hasil penambangan yang tertekan akibat halving keempat pada April 2024—yang memangkas reward blok dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC—para penambang beralih ke AI dan HPC untuk menyerap kapasitas komputasi idle. Core Scientific, salah satu pemain terbesar, bahkan mengalokasikan 70% dari total belanja modalnya untuk infrastruktur AI pada kuartal II 2026.

    Data on-chain menunjukkan bahwa tingkat hash rate Bitcoin mencapai rekor 620 EH/s pada Juni 2026, namun pendapatan harian penambang anjlok 45% dibandingkan tahun sebelumnya. “Kami tidak punya pilihan selain mendiversifikasi aliran pendapatan,” ujar CEO Marathon Digital, Fred Thiel, dalam wawancara dengan Bloomberg. “AI menawarkan margin yang lebih tinggi dan kontrak jangka panjang dengan perusahaan teknologi.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun pergeseran ini terjadi di pasar global, dampaknya terasa hingga ke Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melaporkan peningkatan minat investor institusional terhadap saham penambang Bitcoin yang terdaftar di bursa AS, seperti MARA dan RIOT. “Kami melihat arus masuk modal ke ETF Bitcoin spot yang terhubung dengan saham penambang,” kata Head of Research Tokocrypto, Teguh Kurniawan, kepada 8TIA.

    Di sisi regulasi, Bappebti belum mengeluarkan panduan khusus terkait integrasi AI dalam operasi penambangan kripto. Namun, dengan rencana pengalihan pengawasan ke OJK di bawah UU P2SKK, pelaku industri memprediksi aturan baru akan mengatur kepemilikan infrastruktur komputasi ganda (dual-use) untuk penambangan dan AI. “Kami sedang menyiapkan draf peraturan untuk memastikan kepatuhan terhadap UU PDP dan standar keamanan siber,” ungkap Kepala Biro Hukum Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis pasar berikutnya yang dinantikan adalah laporan keuangan kuartal III 2026 dari para penambang, yang akan dirilis pada Oktober. Analis memperkirakan pendapatan AI akan tumbuh 30-40% secara kuartalan, meski masih jauh di bawah belanja modal. Sementara itu, harga Bitcoin bertahan di level $341 (Rp 6,06 juta) per keping, dengan kapitalisasi pasar global mencapai $6,7 triliun (Rp 106.000 triliun).

    Sumber: CoinTelegraph, Bloomberg, data on-chain Glassnode

  • Bitcoin Tembus Rp1,28 Miliar: Analis Ungkap Syarat Lanjutan Rally

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$72.000 (Rp1,28 miliar) pada Senin (10/3), memicu likuidasi posisi short senilai US$2,3 miliar dalam 24 jam terakhir. Namun, para analis memperingatkan bahwa rally ini hanya akan bertahan jika arus masuk modal segar terus mengalir ke pasar.

    Likuidasi Massal dan Sentimen Pasar

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai US$1,1 miliar pada hari Senin saja, sementara total likuidasi di seluruh pasar kripto menyentuh US$3,2 miliar. Lonjakan harga ini didorong oleh kombinasi aliran dana ke spot ETF Bitcoin AS, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, dan sentimen positif menjelang halving BTC pada April mendatang.

    “Kenaikan ini lebih didorong oleh short squeeze daripada minat beli organik,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Tanpa inflow baru, terutama dari institusi melalui ETF, Bitcoin berisiko terkoreksi kembali ke US$65.000 (Rp1,16 M).”

    Syarat Lanjutan Rally: Inflow ETF dan Katalis Makro

    Analis dari Glassnode mencatat bahwa net inflow ke spot ETF Bitcoin AS mencapai US$1,2 miliar pekan lalu, rekor tertinggi sejak peluncuran produk tersebut pada Januari. Namun, laju inflow mulai melambat, dengan hanya US$150 juta masuk pada hari Senin. “ETF adalah katalis utama, tapi sekarang pasar butuh konfirmasi lebih lanjut,” kata James Check, analis Glassnode.

    Di sisi makro, investor masih menanti data inflasi AS (CPI) pada Rabu (12/3) dan keputusan suku bunga The Fed pada Kamis (20/3). “Jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga bisa tertunda, dan itu akan menekan aset berisiko seperti Bitcoin,” tambah Thielen.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung terasa. Volume perdagangan BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak 40% dalam sehari, dengan harga tertinggi mencapai Rp1,29 miliar per koin. Namun, regulator tetap waspada. Bappebti mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap volatilitas ekstrem menjelang halving.

    “Kami terus memantau pergerakan harga dan memastikan bursa kripto patuh pada aturan perdagangan,” kata Tirta Karma Senjaya, Direktur Bursa Berjangka Komoditi Bappebti. Dengan rencana pengalihan pengawasan kripto ke OJK pada 2025, industri lokal juga bersiap menghadapi kerangka regulasi yang lebih ketat.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar: data CPI AS pada 12 Maret dan keputusan suku bunga The Fed pada 20 Maret. Jika data inflasi melunak, Bitcoin berpotensi menguji rekor tertinggi baru di US$75.000 (Rp1,33 M).

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, Bappebti

  • Bitcoin Melonjak 7,9% ke Rp187 Juta, Likuidasi Short $1,2 Miliar Picu Squeeze

    Bitcoin (BTC) membukukan kenaikan tajam 7,9% dalam 24 jam terakhir, menembus level $77.000 atau setara Rp187,1 juta (kurs Rp18.350/USD), setelah likuidasi posisi short senilai $1,21 miliar memicu short squeeze besar-besaran. Lonjakan ini terjadi di tengah arus berita positif dari Washington yang memperkuat sentimen bullish.

    Short Squeeze Picu Likuidasi Rp19,5 Triliun

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai $1,21 miliar (Rp19,5 triliun) dalam sehari, menjadikannya salah satu squeeze terbesar sejak awal tahun. Posisi short terbanyak terlikuidasi di bursa terpusat seperti Binance ($420 juta), OKX ($310 juta), dan Bybit ($220 juta).

    “Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk spot ETF Bitcoin yang kuat dan berita regulasi yang lebih jelas dari AS,” ujar analis on-chain dari Glassnode. Dalam seminggu terakhir, spot ETF Bitcoin mencatat inflow bersih $850 juta, dengan BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menyerap sebagian besar likuiditas.

    Sentimen Washington dan Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Berita dari Washington, termasuk sinyal dukungan dari anggota Kongres AS terhadap aset kripto, menjadi katalis utama. Di Indonesia, lonjakan harga BTC langsung berdampak pada volume perdagangan di bursa lokal. Indodax melaporkan peningkatan volume harian hingga 30% dalam 24 jam terakhir, sementara Tokocrypto mencatat kenaikan transaksi spot sebesar 22%.

    Regulator lokal, Bappebti, belum memberikan komentar resmi, namun pelaku pasar memperkirakan peningkatan pengawasan terhadap leverage trading di bursa kripto dalam negeri. “Kami melihat potensi pengetatan margin trading untuk mencegah likuidasi massal seperti yang terjadi di pasar global,” kata sumber di Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Outlook: Katalis Berikutnya yang Dinantikan

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: keputusan Fed mengenai suku bunga pada 1 Mei dan data inflasi AS yang akan dirilis minggu depan. Jika inflasi terkendali, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat mendorong aliran modal ke aset berisiko, termasuk Bitcoin. Di sisi teknikal, BTC perlu mempertahankan level $75.000 untuk menghindari koreksi lanjutan.

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, data bursa lokal

  • ETF Bitcoin Catat Inflow Rp10,1 Triliun di Agustus, Ether ETF Terima Arus Masuk Terbesar Sejak Oktober

    ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membukukan arus masuk (inflow) senilai $608 juta (Rp10,1 triliun) dalam sepekan terakhir, mendorong total inflow Agustus menjadi $2,07 miliar (Rp34,5 triliun)—rekor tertinggi sejak 2026. Sementara itu, ETF Ether mencatat inflow terbesar sejak Oktober, seiring Bitcoin (BTC) menembus level $75.000 (Rp1,25 miliar) dan Ether (ETH) melonjak ke $2.357 (Rp39,2 juta).

    Mengapa Inflow ETF Ini Penting?

    Arus masuk ETF Bitcoin dan Ether menjadi indikator sentimen investor institusional terhadap aset kripto. Inflow sebesar $2,07 miliar pada Agustus menunjukkan minat yang terus menguat, terutama setelah koreksi pasar pada Juli. Data on-chain dari CoinShares menunjukkan bahwa ETF Bitcoin menyumbang 85% dari total inflow, sementara ETF Ether menyerap sisa 15%, atau setara $310 juta—angka tertinggi sejak Oktober 2023.

    “Ini menandai pergeseran signifikan dalam preferensi investor,” ujar James Butterfill, Head of Research CoinShares. “ETF Ether mulai dilirik sebagai alternatif diversifikasi, terutama setelah persetujuan spot ETF Ether oleh SEC pada Mei lalu.” Harga BTC dan ETH yang bergerak di atas level psikologis—$75.000 untuk BTC dan $2.300 untuk ETH—juga memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap reli lanjutan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli harga BTC dan ETH langsung terasa. Volume perdagangan BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak 22% dalam sepekan terakhir, menurut data CoinGecko. Kapitalisasi pasar kripto Indonesia kini mencapai Rp280 triliun, dengan BTC dan ETH mendominasi 68% pangsa pasar. Namun, regulator tetap waspada. Bappebti, yang akan segera menyerahkan pengawasan kripto ke OJK sesuai UU P2SKK, belum memberikan sinyal pelonggaran regulasi terkait produk ETF kripto di pasar domestik.

    “Investor ritel Indonesia masih mengandalkan spot trading dan staking,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “ETF kripto belum bisa diakses secara langsung, tapi arus masuk ETF global ini memicu optimisme dan likuiditas di pasar lokal.”

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: (1) keputusan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga pada September, yang dapat mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto; dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, yang bisa memicu volatilitas jangka pendek. Jika inflow ETF Bitcoin dan Ether terus berlanjut, level resistensi $80.000 untuk BTC dan $2.500 untuk ETH diprediksi akan diuji dalam beberapa minggu ke depan.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Eksekutif Ondo: Tokenisasi Mengikuti Jejak Awal ETF, Klarifikasi Regulasi Jadi Kunci

    NEW YORK — Eksekutif Ondo Finance menegaskan bahwa tokenisasi aset mengikuti pola adopsi serupa dengan exchange-traded fund (ETF) pada dekade awal. Perusahaan berbasis blockchain ini berharap pengesahan Clarity Act di Amerika Serikat akan membuka gerbang bagi produk tokenisasi di pasar modal terbesar dunia.

    Mengapa Tokenisasi Disejajarkan dengan ETF?

    Nathan Allman, Chief Operating Officer Ondo Finance, menyatakan dalam wawancara terbaru bahwa tokenisasi aset—proses mengubah aset tradisional seperti obligasi atau real estate menjadi token digital di blockchain—sedang berada pada titik kritis yang pernah dialami ETF pada tahun 1990-an. “ETF butuh waktu hampir dua dekade untuk mencapai kapitalisasi pasar USD 1 triliun (Rp 15.800 triliun). Tokenisasi, dengan infrastruktur blockchain yang lebih efisien, berpotensi mencapai skala tersebut dalam waktu lebih singkat,” ujar Allman.

    Data on-chain menunjukkan pertumbuhan pesat: total nilai terkunci (TVL) dalam protokol tokenisasi global melonjak 127% year-to-date menjadi USD 12,4 miliar (Rp 196 triliun) per Oktober 2024, menurut rantai data DeFiLlama. Ondo Finance sendiri mengelola aset tokenisasi senilai USD 650 juta (Rp 10,3 triliun), termasuk obligasi pemerintah AS dan surat utang korporasi.

    Clarity Act: Katalis Regulasi yang Dinantikan

    Hambatan utama tokenisasi di AS adalah ketidakjelasan regulasi. Clarity Act, rancangan undang-undang yang diusulkan pada Juli 2024, bertujuan mendefinisikan status hukum token aset digital dan memberikan kepastian bagi institusi. “Tanpa kerangka hukum yang jelas, bank dan manajer aset ragu untuk masuk. Clarity Act akan menjadi game-changer,” kata Allman.

    Jika disahkan, Clarity Act akan memungkinkan Ondo dan perusahaan sejenis menawarkan produk tokenisasi langsung kepada investor ritel dan institusi di AS, sekaligus mengurangi risiko penegakan hukum dari SEC. Saat ini, Ondo hanya dapat melayani investor terakreditasi di yurisdiksi ramah kripto seperti Singapura dan Uni Emirat Arab.

    Relevansi bagi Pasar Kripto Indonesia

    Indonesia, dengan 21 juta pengguna kripto, berpotensi menjadi pasar besar bagi tokenisasi aset. Namun, regulasi lokal masih membatasi produk tokenisasi pada aset komoditi seperti emas dan properti. “Bappebti perlu mengevaluasi kerangka tokenisasi aset keuangan tradisional, terutama jika AS dan UE mulai mengadopsinya secara luas,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax.

    Saat ini, beberapa platform lokal seperti Pluang dan Reku sudah menawarkan tokenisasi emas, namun produk berbasis obligasi atau saham masih tertahan. Konversi nilai aset tokenisasi global (USD 12,4 miliar) setara dengan Rp 196 triliun—hampir 10% dari kapitalisasi pasar saham Indonesia (IDX) yang mencapai Rp 1.980 triliun per Oktober 2024.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan final Clarity Act, yang diperkirakan akan dibahas Kongres AS pada kuartal pertama 2025. Sementara itu, OJK Indonesia juga sedang menyusun roadmap aset digital pasca-transfer kewenangan dari Bappebti, yang mungkin mencakup tokenisasi aset tradisional.

    Sumber: The Block

  • Bitcoin Tembus Rp1,3 Miliar, Likuidasi Shorts Capai Rp53 Triliun dalam Dua Hari

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis $72.000 (Rp1,3 miliar) pada Kamis (12/6), melanjutkan reli dua hari yang memicu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah senilai $3 miliar (Rp53,4 triliun). Aksi harga ini menjadi tantangan nyata pertama terhadap pola bearish yang bertahan sejak November 2024.

    Likuidasi Shorts Rekor, Sentimen Pasar Berbalik Bullish

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC dalam 48 jam terakhir mencapai $3,05 miliar, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu oleh aksi jual panik (short squeeze) yang memaksa pedagang dengan posisi bearish menutup kontrak mereka secara massal. Hanya dalam sehari, harga BTC melonjak 8,2%, menguat dari $66.500 menjadi $72.100—level yang terakhir kali terlihat pada Juni 2024.

    “Ini adalah pergeseran sentimen yang signifikan,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Pasar sedang menyerap likuiditas dari posisi short yang overleveraged, dan ini bisa menjadi katalis untuk reli lebih lanjut menuju $80.000.” Thielen menambahkan bahwa volume perdagangan spot ETF Bitcoin di AS juga meningkat 40% dalam sepekan terakhir, menandai arus masuk institusional yang kuat.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli BTC langsung terasa. Harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak ke Rp1,32 miliar per keping, naik 7,8% dalam sehari. Volume perdagangan harian di Indodax mencapai Rp2,1 triliun, tertinggi sejak April 2024. Analis dari Pintu mencatat bahwa likuidasi short global juga memicu lonjakan minat terhadap altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL), yang masing-masing naik 6% dan 9% dalam 24 jam.

    Namun, reli ini terjadi di tengah ketidakpastian regulasi. Dengan pengalihan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK yang akan berlaku penuh pada 2025, pelaku pasar menanti kejelasan aturan terkait perdagangan derivatif dan staking. “Kami masih menunggu petunjuk teknis dari OJK,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Tanpa kepastian, likuiditas di pasar berjangka kripto lokal bisa terhambat.”

    Outlook: Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: (1) keputusan Federal Reserve AS mengenai suku bunga pada 18 Juni, dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pada 13 Juni. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto. Di sisi teknikal, BTC perlu menembus resistensi $73.500 untuk mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.

    Di sisi on-chain, alamat dompet BTC dengan saldo lebih dari 1.000 BTC (whale) mencatat peningkatan aktivitas sebesar 12% dalam sepekan terakhir, menurut data Glassnode. Ini menunjukkan akumulasi oleh investor institusional, yang bisa menjadi sinyal bullish lebih lanjut.

    Sumber: Decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Pintu