Tag: Zcash

  • Zcash Melonjak ke Rekor 8 Tahun di $850, Volume Futures Tembus Rp157 Triliun Didorong Grayscale ETF

    Zcash (ZEC) menembus level psikologis $848, mencatat rekor tertinggi sejak 2016, seiring lonjakan volume perdagangan kontrak berjangka hingga $9,9 miliar (Rp157 triliun) dalam 24 jam terakhir. Data CoinGlass menunjukkan minat terbuka (open interest) mencapai $1,76 miliar (Rp27,5 triliun), menegaskan dominasi derivatif dalam aksi jual-beli ini.

    Grayscale ETF Jadi Katalis, Likuiditas Derivatif Meroket

    Sentimen bullish Zcash dipicu oleh upaya Grayscale Investments mengajukan spot ETF Zcash ke Komisi Sekuritas AS (SEC). Langkah ini mengulang strategi sukses Grayscale dengan Bitcoin dan Ethereum ETF, yang sebelumnya memicu reli harga hingga 200%. Analis on-chain Santiment mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 1,2 juta ZEC (Rp1,5 triliun) dalam sepekan, mengindikasikan akumulasi institusional.

    “Volume futures Zcash melonjak 430% dalam seminggu, jauh melampaui rata-rata pasar kripto sebesar 87%,” ungkap laporan Kaiko Research. Lonjakan ini sejalan dengan peningkatan funding rate menjadi 0,03% per 8 jam—level tertinggi sejak halving Zcash April 2024—menandakan sentimen overleveraged di sisi long position.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli Zcash memicu lonjakan volume perdagangan di bursa lokal. Indodax mencatat kenaikan transaksi ZEC/IDR sebesar 187% dalam sehari, dengan harga tertinggi Rp13,5 juta per koin. Namun, likuiditas terbatas di pasar spot—hanya 12% dari total volume—membuat harga lokal terkoreksi hingga 3% dari patokan global.

    Regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi. “Kami memantau peningkatan aktivitas derivatif kripto, termasuk Zcash, seiring perpindahan pengawasan ke OJK pada 2025,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya. Saat ini, Zcash belum masuk daftar 501 aset kripto yang diperdagangkan secara legal di Indonesia, meski tetap dapat diakses melalui bursa terdaftar.

    Outlook: Halving dan ETF sebagai Katalis Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: halving Zcash pada November 2024 yang akan memangkas imbalan blok dari 3,125 ZEC menjadi 1,5625 ZEC, serta keputusan SEC atas pengajuan Grayscale ETF pada Januari 2025. Analis Bitfinex memperkirakan, jika ETF disetujui, kapitalisasi pasar Zcash bisa melonjak 35-50% dalam tiga bulan pertama, serupa pola Bitcoin pasca-persetujuan ETF Januari lalu.

    Sumber: The Block, CoinGlass, Kaiko Research, Indodax, Bappebti

  • Grayscale Ajukan Amandemen Terbaru ke SEC, ETF Zcash Pertama di AS Makin Dekat

    Grayscale Investments mengajukan amandemen terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk produk spot exchange-traded fund (ETF) berbasis Zcash (ZEC), mendekatkan peluncuran ETF mata uang kripto privasi pertama di Amerika Serikat.

    Langkah Kritis Menuju Persetujuan SEC

    Amandemen yang diajukan pada Jumat (tanggal belum dikonfirmasi) ini menandai tahap krusial dalam proses perizinan. Grayscale, pengelola aset kripto terbesar di dunia dengan aset kelolaan senilai $29 miliar (Rp464 triliun), sebelumnya telah mengajukan permohonan serupa untuk ETF Bitcoin dan Ethereum, yang akhirnya disetujui SEC pada Januari dan Mei 2024.

    Zcash, mata uang kripto yang mengutamakan privasi dengan teknologi zero-knowledge proof, saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar $750 juta (Rp11,9 triliun). Jika disetujui, ETF Zcash akan menjadi produk spot ETF pertama yang berfokus pada aset privasi, membuka akses bagi investor institusional yang selama ini dibatasi oleh regulasi anti-money laundering (AML).

    Dampak Global dan Sentimen Pasar

    Analis memperkirakan persetujuan ETF Zcash dapat memicu arus masuk modal institusional hingga $500 juta (Rp8 triliun) dalam enam bulan pertama, serupa dengan lonjakan likuiditas yang terjadi pasca-persetujuan ETF Bitcoin. Namun, SEC masih mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan Zcash untuk aktivitas ilegal, mengingat fitur privasinya yang lebih kuat dibandingkan Bitcoin atau Ethereum.

    “Ini adalah ujian bagi SEC dalam menyeimbangkan inovasi dan kepatuhan,” ujar Jake Chervinsky, Kepala Kebijakan di Blockchain Association. “Zcash menawarkan privasi yang sah, tapi regulator masih skeptis.”

    Relevansi bagi Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun Indonesia belum mengizinkan ETF kripto, perkembangan ini berpotensi memengaruhi sentimen investor lokal. Bursa kripto terdaftar di Indonesia, seperti Indodax dan Tokocrypto, mencatat peningkatan minat terhadap aset privasi seperti Zcash dan Monero (XMR) dalam tiga bulan terakhir, dengan volume perdagangan ZEC/IDR naik 42% sejak April 2024.

    Regulator lokal, Bappebti, saat ini masih fokus pada pengawasan perdagangan spot dan derivatif kripto, namun perpindahan kewenangan ke OJK (sebagaimana diatur dalam UU P2SKK) dapat membuka peluang bagi produk inovatif seperti ETF di masa depan. “Kami terus memantau perkembangan global,” kata Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya, dalam wawancara bulan lalu.

    Katalis berikutnya: Keputusan SEC atas amandemen Grayscale diperkirakan keluar dalam 45 hari, bersamaan dengan tenggat waktu pengajuan ETF Ethereum generasi berikutnya dari BlackRock dan Fidelity.

    Sumber: The Block

  • Grayscale Bahas Kontribusi 200.000 ZEC dari DCG untuk ETF Zcash, Transaksi Masih Non-Binding

    Grayscale Investments mengajukan amandemen terbaru untuk ETF Zcash-nya, mengungkap pembicaraan dengan Digital Currency Group (DCG) untuk menyuntikkan 200.000 ZEC—setara US$9 juta atau sekitar Rp135 miliar—ke dalam dana tersebut. Namun, transaksi potensial ini bersifat non-binding dan belum final.

    Mengapa Ini Penting?

    Jika terealisasi, injeksi likuiditas ini akan menjadi salah satu kontribusi institusional terbesar ke ETF mata uang kripto berbasis privasi. Zcash (ZEC), yang dikenal dengan fitur privasi zero-knowledge proof, saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$600 juta. Langkah ini juga menandai upaya Grayscale untuk memperkuat posisi produk ETF-nya di tengah persaingan ketat dengan penerbit lain seperti BlackRock dan Fidelity.

    Detail Transaksi dan Tantangan Regulasi

    Amandemen yang diajukan ke Komisi Sekuritas AS (SEC) pada 12 Juni 2025 menyebutkan bahwa DCG, induk perusahaan Grayscale, tengah bernegosiasi untuk mentransfer 200.000 ZEC ke dalam trust ETF Zcash. Namun, dokumen tersebut menekankan bahwa kesepakatan masih dalam tahap pembahasan dan tidak mengikat secara hukum. Sumber yang dekat dengan transaksi mengungkapkan bahwa valuasi ZEC akan didasarkan pada harga pasar saat transfer dilakukan, bukan harga saat ini.

    Kendati demikian, prospek ETF Zcash masih diwarnai ketidakpastian regulasi. SEC sejauh ini belum memberikan sinyal jelas terkait persetujuan ETF berbasis aset privasi, berbeda dengan ETF Bitcoin dan Ethereum yang telah mendapatkan lampu hijau. Analis dari Bernstein mencatat, “SEC mungkin akan lebih berhati-hati dengan aset yang memiliki fitur privasi, mengingat potensi risiko pencucian uang.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun ETF Zcash belum tersedia di Indonesia, perkembangan ini tetap relevan bagi investor lokal. Bursa kripto terdaftar di Indonesia, seperti Indodax dan Tokocrypto, telah mencatat peningkatan minat terhadap aset privasi seperti Zcash dan Monero. Data dari Bappebti menunjukkan volume perdagangan ZEC di Indonesia mencapai Rp45 miliar pada kuartal pertama 2025, naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Namun, investor perlu mencermati peralihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK yang akan berlaku efektif pada 2026. “Regulator baru mungkin akan menerapkan standar kepatuhan yang lebih ketat, terutama untuk aset dengan fitur privasi,” ujar Andi Surya, Kepala Riset Tokocrypto. Saat ini, ZEC diperdagangkan di kisaran Rp675.000 per koin di bursa lokal, sedikit di bawah harga global.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan keputusan final SEC terkait ETF Zcash, yang diperkirakan akan keluar pada kuartal ketiga 2025. Jika disetujui, ini bisa menjadi preseden bagi ETF aset privasi lainnya. Sementara itu, investor juga memantau perkembangan regulasi di Uni Eropa, di mana otoritas baru-baru ini mengusulkan pembatasan terhadap transaksi kripto anonim.

    Sumber: The Block