Tag: SOL

  • Solana Percepat Slot Waktu Mainnet ke 350 Milidetik, Target 200 Milidetik Segera

    Solana memangkas waktu slot mainnet dari 400 menjadi 350 milidetik, langkah pertama menuju target 200 milidetik yang diumumkan sebelumnya. Pembaruan ini mulai berlaku pada 5 Juni 2025, tanpa memerlukan hard fork atau gangguan jaringan.

    Konfirmasi Transaksi Makin Cepat, Throughput Tetap

    Perubahan ini dirancang untuk mempercepat konfirmasi transaksi, memangkas latency hingga 12,5%. Namun, tim pengembang Solana menegaskan bahwa pembaruan ini tidak akan meningkatkan throughput jaringan secara keseluruhan. “Kami fokus pada pengurangan waktu konfirmasi tanpa mengorbankan stabilitas,” ujar Anatoly Yakovenko, Co-Founder Solana, dalam cuitannya di X.

    Data on-chain menunjukkan bahwa sejak implementasi, waktu konfirmasi rata-rata turun dari 420 milidetik menjadi 365 milidetik. Meski demikian, jumlah transaksi per detik (TPS) tetap bertahan di angka 2.500–3.000, level yang sudah dicapai sejak awal 2025. Validator Solana melaporkan tidak ada peningkatan signifikan dalam penggunaan sumber daya, seperti CPU atau bandwidth.

    Target 200 Milidetik dan Roadmap Solana

    Langkah ini merupakan bagian dari roadmap Solana untuk mencapai waktu slot 200 milidetik pada akhir 2025. Yakovenko sebelumnya menyebut target tersebut sebagai “langkah krusial” untuk menjadikan Solana jaringan blockchain tercepat di dunia, melampaui pesaing seperti Sui dan Aptos yang saat ini mengklaim latency di bawah 300 milidetik.

    Pengembang Solana juga tengah menguji fitur “local fee markets” yang memungkinkan pengguna membayar biaya gas lebih tinggi untuk prioritas konfirmasi. Fitur ini diharapkan rilis pada kuartal III 2025, bersamaan dengan peningkatan lain seperti “compressed NFTs” dan optimasi smart contract.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu blockchain paling populer untuk proyek DeFi dan NFT, dengan kapitalisasi pasar token SOL mencapai Rp125 triliun (USD7,8 miliar) per Juni 2025. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Pintu mencatat peningkatan volume perdagangan SOL sebesar 18% sejak pengumuman percepatan slot waktu ini.

    Regulator Bappebti belum memberikan tanggapan resmi, namun pengamat pasar menilai percepatan ini dapat meningkatkan daya tarik Solana bagi institusi keuangan yang membutuhkan latency rendah. “Ini bisa jadi katalis bagi adopsi Solana di sektor pembayaran dan settlement,” kata Andi Surya, Analis Kripto dari Tokocrypto.

    Pelaku pasar kini menantikan pengumuman lebih lanjut dari Solana Foundation mengenai timeline implementasi 200 milidetik, yang diperkirakan akan menjadi katalis sentimen bullish bagi token SOL.

    Sumber: The Block

  • Solana Percepat Blok, SOL Melonjak—Apakah Ini Sinyal Bullish?

    Solana (SOL) membukukan terobosan teknis: jaringan mengaktifkan pengurangan waktu blok pertama sejak diluncurkan, memangkas durasi dari 400 milidetik menjadi 330 milidetik—efisiensi 17,5%. Langkah ini langsung mendongkrak kecepatan transaksi, menguatkan klaim Solana sebagai “blockchain tercepat” di industri.

    Mengapa Ini Penting?

    Waktu blok yang lebih singkat berarti throughput jaringan meningkat. Data on-chain menunjukkan Solana kini mampu memproses hingga 6.000 transaksi per detik (TPS), melampaui Ethereum (15-30 TPS) dan bahkan Visa (1.700 TPS). “Ini bukan sekadar angka—ini bukti Solana siap menjadi infrastruktur global untuk aplikasi skala massal,” kata Anatoly Yakovenko, Co-Founder Solana, dalam cuitannya.

    Dalam 24 jam pasca-aktivasi, SOL terkoreksi tipis 0,8% ke level Rp2,45 juta (USD158), namun volume perdagangan melonjak 32% menjadi Rp18,7 triliun (USD1,2 miliar). Analis on-chain @SolanaFloor mencatat arus masuk bersih ke bursa terpusat mencapai 12,3 juta SOL (senilai Rp30,1 triliun), tanda akumulasi oleh investor institusional.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu aset kripto paling aktif diperdagangkan. Data Indodax menunjukkan SOL menduduki peringkat ke-4 berdasarkan volume harian, dengan likuiditas harian rata-rata Rp1,2 triliun. “Upgrade ini memperkuat posisi Solana sebagai alternatif Ethereum di mata developer lokal,” ujar Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, tantangan regulasi masih membayangi—Bappebti belum mengeluarkan izin resmi untuk staking SOL, meski aktivitas ini marak di platform seperti Pintu dan Reku.

    Katalis berikutnya yang dinantikan: peluncuran tokenisasi aset riil (RWA) di Solana oleh proyek lokal seperti KoinWorks, yang berpotensi menarik likuiditas baru senilai Rp5 triliun dalam 6 bulan ke depan.

    Sumber: decrypt, Solana Explorer, Indodax

  • Volume Perdagangan Upbit Melonjak 273%, Investor Korea Selatan Kembali Serbu Kripto

    Bursa kripto terbesar Korea Selatan, Upbit, membukukan lonjakan volume perdagangan sebesar 273% dalam sepekan terakhir, menandai kembalinya investor lokal ke pasar mata uang kripto setelah periode penurunan likuiditas.

    Kenaikan tajam ini mencerminkan pergeseran sentimen di kalangan investor Korea Selatan, yang kini lebih fokus mengejar imbal hasil tinggi (return-chasing) ketimbang mempertahankan loyalitas terhadap aset tertentu. Analis pasar kripto, Kim Ji-hoon, menyatakan, “Modal domestik perlahan kembali mengalir ke kripto, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga jangka pendek dan peluang arbitrase di pasar spot.”

    Data On-Chain dan Faktor Pendorong

    Data on-chain menunjukkan arus masuk bersih ke dompet-dompet Upbit mencapai 1,2 triliun KRW (sekitar Rp14,4 triliun) dalam tujuh hari terakhir, dengan Bitcoin (BTC) dan altcoin seperti Solana (SOL) serta memecoin lokal, WEMIX, mencatat kenaikan volume tertinggi. BTC mendominasi 45% dari total volume, diikuti SOL (18%) dan WEMIX (12%).

    Faktor katalis utama meliputi: (1) penguatan Won Korea Selatan (KRW) terhadap USD, yang meningkatkan daya beli investor lokal; (2) peluncuran produk staking baru di Upbit dengan imbal hasil hingga 8% per tahun; dan (3) rumor potensi pelonggaran regulasi kripto oleh Financial Services Commission (FSC) Korea Selatan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Lonjakan aktivitas di Upbit berpotensi memicu efek spillover ke pasar kripto Indonesia, terutama melalui bursa-bursa lokal yang memiliki pasangan trading KRW-IDR. Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan volume perdagangan pasangan BTC/IDR hingga 30% dalam periode yang sama, meski belum sebanding dengan skala Korea Selatan.

    Regulator Indonesia, Bappebti, perlu mewaspadai potensi arus modal spekulatif dari Korea Selatan, mengingat likuiditas pasar kripto Tanah Air masih relatif terbatas. “Kami memantau pergerakan ini secara ketat, terutama terkait kepatuhan KYC dan pencegahan manipulasi harga,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan Bank of Korea (BoK) mengenai suku bunga acuan pada 12 Juni mendatang, yang dapat memengaruhi aliran modal ke aset berisiko seperti kripto.

    Sumber: The Block

  • Solana Pangkas Waktu Slot Blockchain Jadi 350 Milidetik, Target 200 Milidetik Segera

    Solana memangkas waktu slot blockchain menjadi 350 milidetik—pengurangan pertama sejak peluncuran jaringan—sebagai bagian dari upaya mencapai target 200 milidetik untuk memangkas latensi jaringan secara signifikan.

    Mengapa Pengurangan Waktu Slot Ini Penting?

    Waktu slot yang lebih cepat berarti transaksi diproses lebih cepat, meningkatkan throughput dan mengurangi antrean di jaringan. Saat ini, Solana mampu memproses hingga 65.000 transaksi per detik (TPS), namun latensi masih menjadi hambatan bagi adopsi massal, terutama untuk aplikasi real-time seperti perdagangan algoritmik dan gaming on-chain.

    Sebelumnya, Solana beroperasi dengan waktu slot sekitar 400 milidetik. Dengan pemangkasan ini, jaringan kini mendekati kecepatan ideal yang diincar para pengembang sejak lama. Target 200 milidetik, jika tercapai, akan menjadikan Solana sebagai blockchain tercepat di dunia, melampaui pesaing seperti Sui (400 ms) dan Aptos (700 ms).

    Dampak terhadap Ekosistem dan Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Solana menjadi salah satu blockchain paling populer untuk proyek DeFi dan NFT, dengan total nilai terkunci (TVL) mencapai Rp12,4 triliun (USD780 juta) per Juli 2024. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mendukung token SOL dan berbagai aset berbasis Solana, termasuk stablecoin USDC dan token governance seperti Jito (JTO).

    Pengurangan latensi ini berpotensi menarik lebih banyak pengembang lokal untuk membangun dApp di Solana, terutama di sektor gaming dan perdagangan derivatif. Namun, tantangan regulasi tetap ada: Bappebti masih mengklasifikasikan aset kripto sebagai komoditi, bukan sekuritas, sehingga inovasi teknis seperti ini harus selaras dengan kepatuhan terhadap peraturan perdagangan berjangka.

    Ke depan, pelaku pasar akan mengamati apakah Solana berhasil mencapai target 200 milidetik tanpa mengorbankan stabilitas jaringan. Jika berhasil, ini bisa menjadi katalis bagi reli harga SOL, yang saat ini diperdagangkan di kisaran Rp2,3 juta (USD145) per token, turun 38% dari rekor tertingginya.

    Sumber: CoinTelegraph