Maya Protocol menghentikan operasinya setelah peretas mengeksploitasi enam celah bug dalam sistemnya, mencuri Bitcoin senilai $1,4 juta (sekitar Rp22 miliar) dan aset kripto lainnya. Serangan ini memicu penurunan tajam harga token CACAO milik protokol tersebut.
Kronologi Serangan dan Dampak Langsung
Dalam pernyataan resmi, tim Maya Protocol mengonfirmasi bahwa peretas memanfaatkan enam kerentanan perangkat lunak untuk menguras likuiditas dari protokol cross-chain tersebut. Serangan terjadi pada 10 Juni 2025, menyebabkan penurunan harga token CACAO hingga 40% dalam waktu kurang dari satu jam, dari $0,85 menjadi $0,51.
Data on-chain menunjukkan bahwa peretas berhasil menarik 52,3 BTC (setara Rp22 miliar) dan 120.000 CACAO (senilai Rp1,8 miliar) dari pool likuiditas protokol. Maya Protocol, yang memfasilitasi pertukaran aset antar blockchain seperti Bitcoin, Ethereum, dan Cosmos, langsung menangguhkan semua transaksi untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Analisis Teknis: Enam Bug yang Dimanfaatkan
- Bug 1: Validasi Input Tidak Memadai – Peretas memasukkan data palsu untuk memanipulasi logika kontrak pintar.
- Bug 2: Race Condition – Serangan simultan pada transaksi yang belum dikonfirmasi memungkinkan pencurian ganda.
- Bug 3: Kesalahan Penanganan Gas Fee – Biaya transaksi yang tidak terduga memicu kegagalan sistem.
- Bug 4: Akses Kontrol yang Lemah – Peretas memperoleh hak istimewa admin tanpa otorisasi.
- Bug 5: Kesalahan Logika Bisnis – Protokol salah menghitung nilai aset yang dipertukarkan.
- Bug 6: Kerentanan Oracle – Data harga dari oracle dimanipulasi untuk mengelabui sistem.
“Ini adalah serangan terkoordinasi yang memanfaatkan kombinasi bug yang sebelumnya tidak terdeteksi,” kata juru bicara Maya Protocol. “Kami sedang bekerja sama dengan auditor keamanan untuk menambal celah ini dan memulihkan operasional.”
Dampak terhadap Pasar Kripto Indonesia
Meskipun Maya Protocol bukan platform utama di Indonesia, insiden ini menggarisbawahi risiko keamanan yang dihadapi pengguna kripto lokal. Bursa kripto terkemuka seperti Indodax dan Tokocrypto telah meningkatkan pengawasan terhadap transaksi cross-chain, sementara regulator Bappebti mengingatkan investor untuk hanya bertransaksi melalui platform berizin.
“Kejadian ini menjadi pengingat bahwa protokol DeFi, meski inovatif, masih rentan terhadap serangan,” ujar analis dari Pintu. “Investor harus memastikan protokol yang digunakan telah diaudit oleh pihak ketiga yang kredibel.”
Tim Maya Protocol berjanji akan mengganti kerugian pengguna melalui dana cadangan protokol. Namun, pemulihan kepercayaan pasar terhadap token CACAO masih menjadi tantangan besar. Katalis berikutnya yang dinantikan adalah laporan audit independen yang dijadwalkan rilis pada 17 Juni 2025.
Sumber: decrypt