Tag: likuidasi

  • Bitcoin Tembus Rp1,28 Miliar: Analis Ungkap Syarat Lanjutan Rally

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$72.000 (Rp1,28 miliar) pada Senin (10/3), memicu likuidasi posisi short senilai US$2,3 miliar dalam 24 jam terakhir. Namun, para analis memperingatkan bahwa rally ini hanya akan bertahan jika arus masuk modal segar terus mengalir ke pasar.

    Likuidasi Massal dan Sentimen Pasar

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai US$1,1 miliar pada hari Senin saja, sementara total likuidasi di seluruh pasar kripto menyentuh US$3,2 miliar. Lonjakan harga ini didorong oleh kombinasi aliran dana ke spot ETF Bitcoin AS, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, dan sentimen positif menjelang halving BTC pada April mendatang.

    “Kenaikan ini lebih didorong oleh short squeeze daripada minat beli organik,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Tanpa inflow baru, terutama dari institusi melalui ETF, Bitcoin berisiko terkoreksi kembali ke US$65.000 (Rp1,16 M).”

    Syarat Lanjutan Rally: Inflow ETF dan Katalis Makro

    Analis dari Glassnode mencatat bahwa net inflow ke spot ETF Bitcoin AS mencapai US$1,2 miliar pekan lalu, rekor tertinggi sejak peluncuran produk tersebut pada Januari. Namun, laju inflow mulai melambat, dengan hanya US$150 juta masuk pada hari Senin. “ETF adalah katalis utama, tapi sekarang pasar butuh konfirmasi lebih lanjut,” kata James Check, analis Glassnode.

    Di sisi makro, investor masih menanti data inflasi AS (CPI) pada Rabu (12/3) dan keputusan suku bunga The Fed pada Kamis (20/3). “Jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga bisa tertunda, dan itu akan menekan aset berisiko seperti Bitcoin,” tambah Thielen.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung terasa. Volume perdagangan BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak 40% dalam sehari, dengan harga tertinggi mencapai Rp1,29 miliar per koin. Namun, regulator tetap waspada. Bappebti mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap volatilitas ekstrem menjelang halving.

    “Kami terus memantau pergerakan harga dan memastikan bursa kripto patuh pada aturan perdagangan,” kata Tirta Karma Senjaya, Direktur Bursa Berjangka Komoditi Bappebti. Dengan rencana pengalihan pengawasan kripto ke OJK pada 2025, industri lokal juga bersiap menghadapi kerangka regulasi yang lebih ketat.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar: data CPI AS pada 12 Maret dan keputusan suku bunga The Fed pada 20 Maret. Jika data inflasi melunak, Bitcoin berpotensi menguji rekor tertinggi baru di US$75.000 (Rp1,33 M).

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, Bappebti

  • Bitcoin Melonjak 7,9% ke Rp187 Juta, Likuidasi Short $1,2 Miliar Picu Squeeze

    Bitcoin (BTC) membukukan kenaikan tajam 7,9% dalam 24 jam terakhir, menembus level $77.000 atau setara Rp187,1 juta (kurs Rp18.350/USD), setelah likuidasi posisi short senilai $1,21 miliar memicu short squeeze besar-besaran. Lonjakan ini terjadi di tengah arus berita positif dari Washington yang memperkuat sentimen bullish.

    Short Squeeze Picu Likuidasi Rp19,5 Triliun

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC mencapai $1,21 miliar (Rp19,5 triliun) dalam sehari, menjadikannya salah satu squeeze terbesar sejak awal tahun. Posisi short terbanyak terlikuidasi di bursa terpusat seperti Binance ($420 juta), OKX ($310 juta), dan Bybit ($220 juta).

    “Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk spot ETF Bitcoin yang kuat dan berita regulasi yang lebih jelas dari AS,” ujar analis on-chain dari Glassnode. Dalam seminggu terakhir, spot ETF Bitcoin mencatat inflow bersih $850 juta, dengan BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menyerap sebagian besar likuiditas.

    Sentimen Washington dan Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Berita dari Washington, termasuk sinyal dukungan dari anggota Kongres AS terhadap aset kripto, menjadi katalis utama. Di Indonesia, lonjakan harga BTC langsung berdampak pada volume perdagangan di bursa lokal. Indodax melaporkan peningkatan volume harian hingga 30% dalam 24 jam terakhir, sementara Tokocrypto mencatat kenaikan transaksi spot sebesar 22%.

    Regulator lokal, Bappebti, belum memberikan komentar resmi, namun pelaku pasar memperkirakan peningkatan pengawasan terhadap leverage trading di bursa kripto dalam negeri. “Kami melihat potensi pengetatan margin trading untuk mencegah likuidasi massal seperti yang terjadi di pasar global,” kata sumber di Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Outlook: Katalis Berikutnya yang Dinantikan

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: keputusan Fed mengenai suku bunga pada 1 Mei dan data inflasi AS yang akan dirilis minggu depan. Jika inflasi terkendali, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat mendorong aliran modal ke aset berisiko, termasuk Bitcoin. Di sisi teknikal, BTC perlu mempertahankan level $75.000 untuk menghindari koreksi lanjutan.

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, data bursa lokal

  • Likuidasi Short Kripto Tembus US$3,1 Miliar Saat Bitcoin Dekati US$72.000

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$71.800 pada Selasa (11/6), memicu gelombang likuidasi posisi short senilai US$3,1 miliar dalam dua hari terakhir. Data on-chain menunjukkan arus masuk modal ke bursa kripto global melonjak, sementara dominasi Bitcoin terhadap altcoin mencapai 54%.

    Mengapa Ini Penting?

    Likuidasi short masif senilai US$3,1 miliar (setara Rp49,6 triliun) dalam 48 jam terakhir menjadi sinyal kuat pembalikan tren bearish. Analis Glassnode mencatat, rasio long/short di bursa terpusat seperti Binance dan Bybit mencapai 2,3—level tertinggi sejak April 2024. “Ini bukan sekadar reli harga, tapi penyerapan likuiditas dari pelaku pasar yang terjebak posisi short,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research.

    Kronologi pergerakan harga menunjukkan Bitcoin terkoreksi tipis dari US$71.900 ke US$71.500 dalam waktu satu jam, sebelum kembali menguat ke US$71.850. Volume perdagangan harian mencapai US$58 miliar (Rp928 triliun), dengan 62% berasal dari pasangan trading BTC/USDT. Sementara itu, Ethereum (ETH) stagnan di level US$3.800, meski total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis ETH naik 4% menjadi US$61 miliar.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin mendorong volume perdagangan harian di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto naik 35% menjadi Rp3,2 triliun. Harga BTC di platform domestik sempat menyentuh Rp1,29 miliar—premium 0,8% dibanding harga global. “Kenaikan ini memicu FOMO di kalangan investor ritel, terutama setelah likuidasi short global,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi, mengingat pengawasan aset kripto akan segera dialihkan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah data inflasi AS (CPI) yang dirilis Rabu (12/6). Jika angka inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan, yang berpotensi mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, inflasi tinggi bisa memicu koreksi tajam.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Bitcoin Tembus Rp1,3 Miliar, Likuidasi Shorts Capai Rp53 Triliun dalam Dua Hari

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis $72.000 (Rp1,3 miliar) pada Kamis (12/6), melanjutkan reli dua hari yang memicu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah senilai $3 miliar (Rp53,4 triliun). Aksi harga ini menjadi tantangan nyata pertama terhadap pola bearish yang bertahan sejak November 2024.

    Likuidasi Shorts Rekor, Sentimen Pasar Berbalik Bullish

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC dalam 48 jam terakhir mencapai $3,05 miliar, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu oleh aksi jual panik (short squeeze) yang memaksa pedagang dengan posisi bearish menutup kontrak mereka secara massal. Hanya dalam sehari, harga BTC melonjak 8,2%, menguat dari $66.500 menjadi $72.100—level yang terakhir kali terlihat pada Juni 2024.

    “Ini adalah pergeseran sentimen yang signifikan,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Pasar sedang menyerap likuiditas dari posisi short yang overleveraged, dan ini bisa menjadi katalis untuk reli lebih lanjut menuju $80.000.” Thielen menambahkan bahwa volume perdagangan spot ETF Bitcoin di AS juga meningkat 40% dalam sepekan terakhir, menandai arus masuk institusional yang kuat.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli BTC langsung terasa. Harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak ke Rp1,32 miliar per keping, naik 7,8% dalam sehari. Volume perdagangan harian di Indodax mencapai Rp2,1 triliun, tertinggi sejak April 2024. Analis dari Pintu mencatat bahwa likuidasi short global juga memicu lonjakan minat terhadap altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL), yang masing-masing naik 6% dan 9% dalam 24 jam.

    Namun, reli ini terjadi di tengah ketidakpastian regulasi. Dengan pengalihan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK yang akan berlaku penuh pada 2025, pelaku pasar menanti kejelasan aturan terkait perdagangan derivatif dan staking. “Kami masih menunggu petunjuk teknis dari OJK,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Tanpa kepastian, likuiditas di pasar berjangka kripto lokal bisa terhambat.”

    Outlook: Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: (1) keputusan Federal Reserve AS mengenai suku bunga pada 18 Juni, dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pada 13 Juni. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto. Di sisi teknikal, BTC perlu menembus resistensi $73.500 untuk mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.

    Di sisi on-chain, alamat dompet BTC dengan saldo lebih dari 1.000 BTC (whale) mencatat peningkatan aktivitas sebesar 12% dalam sepekan terakhir, menurut data Glassnode. Ini menunjukkan akumulasi oleh investor institusional, yang bisa menjadi sinyal bullish lebih lanjut.

    Sumber: Decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Pintu

  • Bitcoin Melonjak Tajam, Tapi Trader Pasar Prediksi Masih Skeptis

    Bitcoin (BTC) membukukan rally terkuat dalam lima bulan terakhir, menembus level psikologis US$63.000 (Rp995 juta) pada Selasa (10/6), namun trader di pasar prediksi tetap waspada—bahkan cenderung pesimistis untuk jangka panjang.

    Sentimen Berbalik, Tapi Hanya Sementara

    Data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang Bitcoin mempertahankan level di atas US$60.000 naik dari 35% menjadi 50% dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini seiring dengan arus masuk (inflow) bersih sebesar US$886,6 juta (Rp13,9 triliun) ke spot Bitcoin ETF di AS sepanjang Juni, menurut CoinShares.

    Namun, taruhan jangka panjang justru mengindikasikan kekhawatiran. Kontrak prediksi untuk harga Bitcoin pada akhir 2024 masih menempatkan peluang koreksi di bawah US$50.000 sebesar 62%. “Pasar prediksi sering kali lebih akurat dalam menangkap sentimen jangka panjang ketimbang pergerakan harian,” ujar analis on-chain dari Glassnode, James Check, dalam wawancara dengan 8TIA.

    Faktor Katalis dan Risiko yang Mengintai

    Rally Bitcoin dipicu oleh kombinasi pelemahan dolar AS (DXY turun 1,2% dalam sebulan) dan ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed. Namun, dua risiko utama masih membayangi: pertama, likuidasi posisi leverage senilai US$1,2 miliar (Rp18,9 triliun) dalam 48 jam terakhir, menurut Coinglass; kedua, ketidakpastian regulasi pasca-pemilu AS.

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung berdampak pada volume perdagangan. Indodax mencatat kenaikan transaksi harian sebesar 37% menjadi Rp2,1 triliun pada 10 Juni, sementara Tokocrypto melaporkan peningkatan pengguna aktif sebesar 22% dalam sepekan. Namun, regulator Bappebti mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas tinggi menjelang pengalihan pengawasan ke OJK.

    Agenda pasar berikutnya yang dinantikan: data inflasi AS (CPI) pada 12 Juni dan keputusan suku bunga The Fed pada 13 Juni. “Jika CPI lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin bisa menguji resistensi US$68.000,” kata CEO Reku, Kevin Osmond, kepada 8TIA.

    Sumber: decrypt, Polymarket, CoinShares, Glassnode, Indodax, Tokocrypto

  • Bitcoin Melonjak Tajam, Sentimen Pasar Berbalik dari Bearish ke 50:50 dalam Sehari

    Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan harian terbesar dalam lima bulan terakhir, melonjak 12,4% dalam 24 jam dan menembus level psikologis US$63.000 (Rp997,3 miliar) pada Rabu (2/10), memicu pembalikan sentimen pasar dari dominasi bearish menjadi taruhan 50:50 antara pump atau dump.

    Likuidasi Short Rp12,8 Triliun dalam Sehari

    Lonjakan harga yang tiba-tiba ini memaksa likuidasi posisi short senilai US$810 juta (Rp12,8 triliun) di seluruh bursa terpusat, menurut data Coinglass. Sebanyak 78% likuidasi berasal dari posisi short, sementara likuidasi long hanya mencapai US$225 juta. “Ini adalah pergerakan klasik short squeeze,” ujar analis on-chain @CryptoVizArt, “di mana pelaku pasar yang overleveraged dipaksa menutup posisi, mempercepat reli.”

    Data Glassnode menunjukkan arus masuk bersih ke bursa mencapai 22.000 BTC (Rp348,6 triliun) dalam sehari, mengindikasikan aksi ambil untung oleh whale. Namun, aliran keluar dari dompet dingin institusi seperti Coinbase juga meningkat 18%, menandakan akumulasi jangka panjang. Indeks Fear and Greed melonjak dari 38 (Fear) ke 52 (Neutral) dalam waktu kurang dari 12 jam, pertama kalinya sejak Juli pasar keluar dari zona bearish.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Volatilitas dan Peluang Arbitrase

    Di Indonesia, reli Bitcoin ini memicu lonjakan volume perdagangan di bursa lokal. Indodax mencatat kenaikan volume harian sebesar 43% menjadi Rp2,1 triliun, sementara Tokocrypto melaporkan peningkatan pengguna aktif sebesar 28%. “Kami melihat minat tinggi pada pasangan trading BTC/IDR,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, spread antara bursa lokal dan internasional melebar hingga 1,8%, menciptakan peluang arbitrase bagi trader institusional.”

    Regulator juga bergerak cepat. Bappebti mengeluarkan imbauan kepada 25 bursa berizin untuk meningkatkan likuiditas pasangan Rupiah dan memperketat pemantauan terhadap fluktuasi harga ekstrem. “Kami sedang menyiapkan mekanisme circuit breaker untuk mencegah volatilitas berlebihan,” ujar Tirta Karma Senjaya, Direktur Bursa Berjangka Komoditi Bappebti. Dengan pengawasan aset kripto yang akan segera berpindah ke OJK, pelaku pasar memprediksi peningkatan kepatuhan dan transparansi dalam waktu dekat.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah data inflasi AS (CPI) pada Jumat (4/10) dan keputusan suku bunga The Fed pekan depan. Analis Bernstein memproyeksikan Bitcoin bisa menguji level US$68.000 (Rp1.076 triliun) jika data CPI lebih rendah dari ekspektasi, atau terkoreksi ke US$58.000 (Rp918 triliun) jika inflasi kembali meningkat.

    Sumber: decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Bappebti