Tag: LayerZero

  • Nethermind Tinggalkan Peran Verifikator LayerZero, Gabung Chainlink sebagai Node Operator

    Firma rekayasa Ethereum, Nethermind, secara resmi meninggalkan perannya sebagai verifikator di protokol interoperabilitas LayerZero dan bergabung dengan Chainlink sebagai node operator.

    Langkah ini menandai pergeseran strategis Nethermind dalam mendukung infrastruktur oracle terdesentralisasi, khususnya untuk mengamankan Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP) dan Data Feeds milik Chainlink. Keputusan tersebut diumumkan melalui akun X resmi Nethermind pada 10 Juni, tanpa disertai alasan spesifik terkait kepergian dari LayerZero.

    Alasan di Balik Perpindahan: Keamanan dan Skalabilitas

    Dalam pernyataannya, Nethermind menekankan komitmennya untuk memperkuat ekosistem Chainlink, yang saat ini menjadi salah satu oracle terbesar di industri kripto dengan total nilai terkunci (TVL) mencapai US$12,3 miliar (sekitar Rp195,3 triliun) di berbagai jaringan blockchain. Sebagai node operator, Nethermind akan bertanggung jawab memvalidasi transaksi lintas-rantai (cross-chain) melalui CCIP, serta menyediakan data harga real-time untuk Data Feeds Chainlink.

    “Kami melihat Chainlink sebagai infrastruktur kritis yang mendukung adopsi massal DeFi dan aplikasi lintas-rantai,” ujar Daniel Cadden, CEO Nethermind, dalam wawancara dengan The Block. “Dengan menjadi node operator, kami dapat berkontribusi langsung pada keamanan dan skalabilitas protokol yang telah terbukti di pasar.”

    Dampak terhadap LayerZero dan Pasar Kripto Indonesia

    Keluarnya Nethermind dari LayerZero memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi penurunan kepercayaan terhadap protokol tersebut. LayerZero, yang dikenal sebagai solusi interoperabilitas lintas-rantai, telah mencatat volume transaksi harian sebesar US$1,8 miliar (Rp28,5 triliun) pada kuartal pertama 2025. Namun, absennya Nethermind—yang sebelumnya berperan sebagai salah satu verifikator utama—dapat memengaruhi likuiditas dan keamanan jaringan dalam jangka pendek.

    Di Indonesia, pergeseran ini turut menjadi perhatian bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, yang mengintegrasikan protokol lintas-rantai dalam layanan mereka. “Kami terus memantau perkembangan ini, terutama terkait dampaknya terhadap keamanan dan stabilitas aset yang diperdagangkan,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Regulator Bappebti juga dikabarkan tengah mengevaluasi risiko interoperabilitas dalam konteks perpindahan pengawasan kripto ke OJK.

    Katalis Pasar Berikutnya: Peluncuran CCIP dan Adopsi Institusional

    Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada peluncuran penuh CCIP oleh Chainlink, yang dijadwalkan pada akhir Juni 2025. Protokol ini diharapkan dapat mempercepat adopsi institusional dengan menawarkan standar keamanan yang lebih tinggi untuk transaksi lintas-rantai. Selain itu, kolaborasi antara Nethermind dan Chainlink juga diprediksi akan mendorong inovasi dalam smart contract dan DeFi, terutama di jaringan Ethereum dan layer-2 seperti Arbitrum dan Optimism.

    “Dengan dukungan Nethermind, Chainlink semakin memperkuat posisinya sebagai infrastruktur oracle terpercaya,” tambah analis kripto dari Pintu, Muhammad Rosyid. “Ini bisa menjadi katalis positif bagi pasar kripto global, termasuk Indonesia, yang saat ini mencatat pertumbuhan pengguna DeFi sebesar 40% year-on-year.”

    Sumber: The Block