Tag: institusional

  • Optimism Alokasikan 546,9 Juta Token OP untuk Ekosistem, Geser Fokus dari Airdrop

    Optimism mengalihkan 546,9 juta token OP—setara Rp1,8 triliun (kurs Rp3.300/OP)—dari cadangan airdrop masa depan ke dana pertumbuhan ekosistem melalui voting tata kelola yang disetujui komunitas pada 12 Juni 2025.

    Mengapa Pengalihan Ini Penting?

    Keputusan ini menandai pergeseran strategis Optimism dari insentif berbasis airdrop ke pendanaan institusional dan kemitraan jangka panjang. Dana sebesar 546,9 juta OP (13,6% dari total pasokan) akan dialokasikan untuk tiga program utama: insentif protokol layer-2, kolaborasi dengan institusi tradisional, dan pengembangan infrastruktur DeFi di jaringan Optimism.

    Data on-chain menunjukkan bahwa sejak peluncuran Optimism pada 2021, hanya 23% dari total alokasi airdrop yang telah didistribusikan, dengan 77% sisanya—termasuk 546,9 juta OP ini—masih tertahan. Voting tata kelola (Proposal 789) memperoleh 92% suara dukungan dari pemegang token, mencerminkan konsensus kuat untuk mempercepat adopsi institusional.

    “Langkah ini sejalan dengan tren industri di mana protokol layer-2 beralih dari model airdrop ke pendanaan berkelanjutan,” ujar Andi Surya, analis kripto dari Trivium Indonesia. “Optimism berusaha meniru kesuksesan Arbitrum yang berhasil menarik institusi seperti Franklin Templeton dan BlackRock setelah mengurangi ketergantungan pada airdrop.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Optimism mencatat pertumbuhan pengguna sebesar 42% YoY pada kuartal I-2025, terutama didorong oleh adopsi DeFi di bursa lokal seperti Pintu dan Reku. Namun, pengalihan dana ini berpotensi mengurangi likuiditas token OP di pasar spot dalam jangka pendek. Indodax mencatat penurunan volume perdagangan OP sebesar 18% sejak pengumuman voting, meski harga token masih bertahan di level Rp3.200–Rp3.400.

    Regulator domestik, Bappebti, belum memberikan tanggapan resmi, namun pengawasan terhadap alokasi dana protokol asing menjadi sorotan mengingat rencana transfer kewenangan ke OJK pada 2026. “Kami memantau apakah dana ini akan digunakan untuk kepentingan yang sesuai dengan regulasi Indonesia,” kata juru bicara Bappebti.

    Katalis pasar berikutnya: Optimism dijadwalkan meluncurkan program insentif senilai 100 juta OP untuk pengembang lokal pada Agustus 2025, bersamaan dengan peluncuran fitur “Superchain” yang memungkinkan interoperabilitas antar-layer-2.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Neuberger Berman Gandeng Securitize Luncurkan Dana Pendapatan Tetap Tokenisasi Multi-Chain

    Neuberger Berman, manajer aset global dengan aset kelolaan senilai $613 miliar (sekitar Rp9.600 triliun), menggandeng Securitize untuk meluncurkan dana pendapatan tetap high-yield yang di-tokenisasi di empat blockchain: Ethereum, Solana, Avalanche, dan Sui.

    Mengapa Ini Penting?

    Peluncuran ini menandai langkah signifikan dalam adopsi institusional aset tokenisasi, khususnya di segmen pendapatan tetap. Dana ini akan memanfaatkan infrastruktur multi-chain untuk meningkatkan likuiditas dan aksesibilitas, sekaligus mengurangi biaya transaksi. Dengan fokus pada high-yield, Neuberger Berman menargetkan investor institusi yang mencari imbal hasil lebih tinggi di tengah suku bunga global yang masih tinggi.

    Detail Kemitraan dan Teknologi

    Securitize, platform tokenisasi aset terkemuka, akan bertindak sebagai penyedia teknologi untuk menerbitkan token yang mewakili kepemilikan dana. Dana ini akan di-tokenisasi menggunakan standar ERC-1400 (Ethereum) dan setara di Solana, Avalanche, serta Sui, memungkinkan interoperabilitas lintas rantai. Neuberger Berman akan bertindak sebagai subadvisor, mengelola strategi investasi dana.

    “Tokenisasi aset pendapatan tetap membuka peluang baru bagi investor institusi untuk mengakses kelas aset ini dengan efisiensi yang lebih tinggi,” ujar Matthew McDermott, Head of Digital Assets di Goldman Sachs, dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg. “Inisiatif seperti ini dapat mempercepat adopsi aset digital di kalangan manajer aset tradisional.”

    Konteks Pasar dan Relevansi untuk Indonesia

    Meskipun dana ini diluncurkan di pasar global, perkembangan tokenisasi aset memiliki implikasi signifikan bagi pasar kripto Indonesia. Regulator lokal, seperti Bappebti dan OJK, saat ini tengah mengevaluasi kerangka kerja untuk aset tokenisasi, termasuk sekuritas digital. UU P2SKK yang baru disahkan juga membuka jalan bagi pengawasan OJK terhadap aset kripto, termasuk potensi tokenisasi aset tradisional.

    Di Indonesia, platform seperti Indodax dan Tokocrypto telah mulai mengeksplorasi produk tokenisasi, meskipun masih terbatas pada aset kripto murni. Peluncuran dana tokenisasi oleh Neuberger Berman dapat menjadi katalis bagi regulator dan pelaku pasar lokal untuk mempercepat inovasi di bidang ini.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Neuberger Berman, termasuk potensi peluncuran produk serupa di pasar Asia. Selain itu, perkembangan regulasi di AS dan UE terkait tokenisasi aset akan menjadi faktor kunci yang mempengaruhi adopsi lebih luas. Di Indonesia, pengumuman resmi dari OJK mengenai pengawasan aset tokenisasi diharapkan menjadi katalis utama dalam beberapa bulan ke depan.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Citi Siap Luncurkan Layanan Penitipan Bitcoin, Wall Street Makin Terjun ke Kripto

    Citigroup Inc. bersiap meluncurkan layanan penitipan (custody) Bitcoin untuk klien institusional, memungkinkan mereka menyimpan aset kripto dan aset tradisional dalam satu kerangka pengelolaan yang sama. Langkah ini menegaskan percepatan adopsi kripto di kalangan lembaga keuangan global.

    Wall Street Makin Agresif Masuki Kripto

    Keputusan Citi mengikuti jejak bank-bank besar seperti BNY Mellon, State Street, dan Northern Trust yang telah menawarkan layanan serupa. Dengan kapitalisasi pasar Bitcoin yang menembus US$1,2 triliun (Rp19.200 triliun) pada awal 2025, institusi keuangan tak lagi bisa mengabaikan potensi aset digital ini sebagai kelas investasi baru.

    “Kami melihat permintaan signifikan dari klien korporasi dan manajer aset untuk solusi penitipan terintegrasi,” ujar juru bicara Citi dalam pernyataan resmi. Layanan ini akan memanfaatkan infrastruktur teknologi yang telah dikembangkan sejak 2023, termasuk kemitraan dengan penyedia custody kripto seperti Fireblocks dan Metaco.

    Dampak ke Pasar dan Regulasi Global

    Langkah Citi berpotensi memicu arus masuk (inflow) modal institusional ke Bitcoin, terutama setelah persetujuan spot Bitcoin ETF di AS pada 2024. Data CoinShares menunjukkan inflow ke produk investasi kripto mencapai US$14,9 miliar (Rp238 triliun) sepanjang 2024, dengan 60% berasal dari institusi.

    Namun, tantangan regulasi tetap menjadi hambatan. Di AS, SEC masih memperketat pengawasan terhadap bank yang terlibat dalam kripto, sementara di Uni Eropa, kerangka MiCA (Markets in Crypto-Assets) baru akan berlaku penuh pada Desember 2025. Citi sendiri telah mengantongi izin dari Otoritas Moneter Singapura (MAS) untuk menawarkan layanan ini di Asia.

    Relevansi untuk Pasar Kripto Indonesia

    Meskipun layanan Citi belum tersedia di Indonesia, langkah ini mengirim sinyal positif bagi ekosistem kripto lokal. Bursa kripto dalam negeri seperti Indodax dan Tokocrypto telah mencatat peningkatan partisipasi institusi sejak 2023, dengan total nilai transaksi mencapai Rp300 triliun pada 2024 (data Bappebti).

    “Kami melihat minat dari dana pensiun dan perusahaan manajemen aset untuk mengalokasikan 1-3% portofolio mereka ke kripto,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, peralihan pengawasan dari Bappebti ke OJK pada 2025 mendatang menjadi katalis utama yang dinantikan pelaku pasar untuk adopsi institusional yang lebih luas.

    Katalis pasar berikutnya yang patut dicermati: keputusan Federal Reserve terkait suku bunga pada Juni 2025 dan perkembangan regulasi kripto di Indonesia pasca-UU P2SKK.

    Sumber: decrypt