Tag: BTC

  • Raih Untung Rp 22,4 Triliun, Strategi Bitcoin Ini Balik Modal dari Kerugian Rp 210 Triliun

    Sebuah entitas pengelola treasuri Bitcoin senilai US$13 miliar (Rp 210 triliun) berhasil membalikkan posisi dari kerugian unrealized menjadi keuntungan US$1,4 miliar (Rp 22,4 triliun) dalam hitungan pekan. Lonjakan ini dipicu oleh reli Bitcoin (BTC) yang menembus level harga beli rata-rata mereka.

    Dari Jurang Kerugian ke Puncak Keuntungan

    Data on-chain menunjukkan entitas tersebut—diduga salah satu korporasi atau dana investasi besar—mengakumulasi BTC saat harga berada di kisaran US$60.000–US$70.000 pada pertengahan 2024. Ketika BTC terkoreksi ke level US$50.000 pada Agustus, portofolio mereka sempat mencatat kerugian unrealized hingga US$13 miliar. Namun, reli kuat Bitcoin sejak awal Oktober, yang mendorong harga ke US$64.000 (Rp 1,05 kuadriliun), mengembalikan posisi mereka ke zona hijau.

    “Ini adalah contoh klasik dari strategi ‘hold-to-recover’ yang diadopsi oleh institusi besar,” ujar Andi Surya, analis kripto dari Trivium Indonesia. “Mereka tidak panik jual saat pasar bearish, melainkan menyerap likuiditas saat harga turun dan menunggu rebound.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin ini turut mengerek sentimen investor ritel. Data dari Indodax menunjukkan arus masuk (inflow) BTC ke bursa lokal meningkat 18% dalam sepekan terakhir, dengan volume perdagangan harian menembus Rp 1,2 triliun. “Kenaikan harga BTC di atas US$60.000 memicu FOMO (fear of missing out) di kalangan trader lokal,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, kami mengingatkan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi.”

    Regulator juga mencermati pergerakan ini. Bappebti, yang akan segera menyerahkan pengawasan kripto ke OJK, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan perdagangan aset kripto sebagai komoditi. “Investor harus memastikan bertransaksi melalui bursa terdaftar dan memahami risiko,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: keputusan Federal Reserve mengenai suku bunga pada 7 November dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. “Jika Fed mempertahankan suku bunga, likuiditas global akan kembali mengalir ke aset berisiko seperti Bitcoin,” prediksi analis dari Pintu. Sementara itu, rilis data CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi dapat memperkuat sentimen bullish.

    Sumber: decrypt

  • Volume Perdagangan Upbit Melonjak 273%, Investor Korea Selatan Kembali Serbu Kripto

    Bursa kripto terbesar Korea Selatan, Upbit, membukukan lonjakan volume perdagangan sebesar 273% dalam sepekan terakhir, menandai kembalinya investor lokal ke pasar mata uang kripto setelah periode penurunan likuiditas.

    Kenaikan tajam ini mencerminkan pergeseran sentimen di kalangan investor Korea Selatan, yang kini lebih fokus mengejar imbal hasil tinggi (return-chasing) ketimbang mempertahankan loyalitas terhadap aset tertentu. Analis pasar kripto, Kim Ji-hoon, menyatakan, “Modal domestik perlahan kembali mengalir ke kripto, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga jangka pendek dan peluang arbitrase di pasar spot.”

    Data On-Chain dan Faktor Pendorong

    Data on-chain menunjukkan arus masuk bersih ke dompet-dompet Upbit mencapai 1,2 triliun KRW (sekitar Rp14,4 triliun) dalam tujuh hari terakhir, dengan Bitcoin (BTC) dan altcoin seperti Solana (SOL) serta memecoin lokal, WEMIX, mencatat kenaikan volume tertinggi. BTC mendominasi 45% dari total volume, diikuti SOL (18%) dan WEMIX (12%).

    Faktor katalis utama meliputi: (1) penguatan Won Korea Selatan (KRW) terhadap USD, yang meningkatkan daya beli investor lokal; (2) peluncuran produk staking baru di Upbit dengan imbal hasil hingga 8% per tahun; dan (3) rumor potensi pelonggaran regulasi kripto oleh Financial Services Commission (FSC) Korea Selatan.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Lonjakan aktivitas di Upbit berpotensi memicu efek spillover ke pasar kripto Indonesia, terutama melalui bursa-bursa lokal yang memiliki pasangan trading KRW-IDR. Indodax dan Tokocrypto mencatat peningkatan volume perdagangan pasangan BTC/IDR hingga 30% dalam periode yang sama, meski belum sebanding dengan skala Korea Selatan.

    Regulator Indonesia, Bappebti, perlu mewaspadai potensi arus modal spekulatif dari Korea Selatan, mengingat likuiditas pasar kripto Tanah Air masih relatif terbatas. “Kami memantau pergerakan ini secara ketat, terutama terkait kepatuhan KYC dan pencegahan manipulasi harga,” ujar Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah keputusan Bank of Korea (BoK) mengenai suku bunga acuan pada 12 Juni mendatang, yang dapat memengaruhi aliran modal ke aset berisiko seperti kripto.

    Sumber: The Block

  • Bitcoin Melonjak ke US$80 Ribu, Likuiditas ETF AS Pulih dan Dorong Sentimen Bullish

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$80 ribu (Rp1,42 miliar) pada perdagangan Senin, didorong oleh kembalinya aliran masuk ke ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat dan pergeseran momentum likuiditas yang terdeteksi oleh Bernstein.

    ETF Bitcoin AS Rebound, Likuiditas Pasar Membaik

    Aliran dana ke ETF Bitcoin spot AS, yang sempat terhenti selama koreksi April, kini kembali mencatat arus masuk positif. Data on-chain menunjukkan total inflow mencapai US$245 juta dalam sepekan terakhir, mengangkat total aset kelolaan (AUM) ETF Bitcoin spot menjadi US$54 miliar. “Kenaikan ini menandai pemulihan sentimen institusional setelah periode profit-taking yang agresif,” kata analis Bernstein dalam laporan terbaru.

    Posisi Bitcoin di portofolio strategis juga kembali menguat. Rata-rata harga beli Bitcoin di portofolio institusi kini terlampaui, mengindikasikan fase akumulasi ulang. “Ini sinyal bullish—ketika harga berada di atas rata-rata beli, tekanan jual dari investor jangka panjang cenderung berkurang,” tambah laporan tersebut. Volume perdagangan ETF Bitcoin spot juga melonjak 38% dibandingkan minggu sebelumnya, mencapai US$3,2 miliar per hari.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Kenaikan Bitcoin ke US$80 ribu langsung berdampak pada pasar domestik. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat lonjakan volume perdagangan hingga 22% dalam 24 jam terakhir, dengan total transaksi mencapai Rp2,1 triliun. “Pasar Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan Bitcoin global, terutama saat likuiditas ETF AS pulih,” ujar Head of Research Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Dari sisi regulasi, pergeseran pengawasan dari Bappebti ke OJK yang akan segera berlaku juga menjadi katalis. “Investor institusi domestik menanti kejelasan regulasi sebelum meningkatkan eksposur. Pemulihan likuiditas global ini bisa mempercepat proses tersebut,” kata pengamat pasar kripto dari Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Katalis berikutnya yang dinantikan pelaku pasar adalah data inflasi AS (CPI) pada 15 Mei dan keputusan suku bunga The Fed. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemotongan suku bunga bisa mendorong aliran dana lebih besar ke aset berisiko, termasuk Bitcoin dan altcoin.

    Sumber: The Block

  • Likuidasi Short Kripto Tembus US$3,1 Miliar Saat Bitcoin Dekati US$72.000

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$71.800 pada Selasa (11/6), memicu gelombang likuidasi posisi short senilai US$3,1 miliar dalam dua hari terakhir. Data on-chain menunjukkan arus masuk modal ke bursa kripto global melonjak, sementara dominasi Bitcoin terhadap altcoin mencapai 54%.

    Mengapa Ini Penting?

    Likuidasi short masif senilai US$3,1 miliar (setara Rp49,6 triliun) dalam 48 jam terakhir menjadi sinyal kuat pembalikan tren bearish. Analis Glassnode mencatat, rasio long/short di bursa terpusat seperti Binance dan Bybit mencapai 2,3—level tertinggi sejak April 2024. “Ini bukan sekadar reli harga, tapi penyerapan likuiditas dari pelaku pasar yang terjebak posisi short,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research.

    Kronologi pergerakan harga menunjukkan Bitcoin terkoreksi tipis dari US$71.900 ke US$71.500 dalam waktu satu jam, sebelum kembali menguat ke US$71.850. Volume perdagangan harian mencapai US$58 miliar (Rp928 triliun), dengan 62% berasal dari pasangan trading BTC/USDT. Sementara itu, Ethereum (ETH) stagnan di level US$3.800, meski total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis ETH naik 4% menjadi US$61 miliar.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin mendorong volume perdagangan harian di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto naik 35% menjadi Rp3,2 triliun. Harga BTC di platform domestik sempat menyentuh Rp1,29 miliar—premium 0,8% dibanding harga global. “Kenaikan ini memicu FOMO di kalangan investor ritel, terutama setelah likuidasi short global,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi, mengingat pengawasan aset kripto akan segera dialihkan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah data inflasi AS (CPI) yang dirilis Rabu (12/6). Jika angka inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan, yang berpotensi mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, inflasi tinggi bisa memicu koreksi tajam.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Nexo Luncurkan Kredit Kripto Berizin di Australia, Likuiditas Rupiah Terancam?

    Nexo, platform keuangan kripto global, resmi meluncurkan layanan kredit berbasis aset digital berizin di Australia, memungkinkan pengguna meminjam dolar Australia (AUD) atau stablecoin dengan agunan mata uang kripto.

    Mengapa Ini Penting?

    Peluncuran ini menandai ekspansi pertama Nexo ke pasar kredit kripto terregulasi di kawasan Asia-Pasifik. Dengan likuiditas langsung dalam mata uang fiat lokal, layanan ini berpotensi menggerus minat investor Indonesia yang selama ini bergantung pada bursa lokal untuk akses likuiditas Rupiah.

    Pengguna dapat mengagunkan aset kripto seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) untuk mendapatkan pinjaman tanpa harus menjual kepemilikan. Nexo mengklaim proses persetujuan instan dengan suku bunga kompetitif, mulai dari 0% untuk pengguna tier tertinggi. Data on-chain menunjukkan volume pinjaman kripto di platform global telah mencapai US$22 miliar (Rp347 triliun) sepanjang 2024, naik 47% dibanding tahun sebelumnya.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, layanan serupa masih terbatas pada bursa terpusat seperti Indodax dan Tokocrypto yang menawarkan fitur crypto-backed lending dengan agunan Rupiah. Regulator Bappebti belum mengeluarkan izin khusus untuk kredit berbasis kripto, sehingga produk Nexo di Australia bisa menjadi preseden bagi pelaku industri lokal.

    “Ini sinyal kuat bahwa pasar kredit kripto akan semakin kompetitif,” ujar Andi Surya, analis dari Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I). “Platform global seperti Nexo punya keunggulan skala dan regulasi yang lebih matang, sementara bursa lokal harus berinovasi agar tidak kehilangan pengguna.”

    Dengan nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp300 triliun pada semester I 2024 (data Bappebti), persaingan akses likuiditas antara platform global dan lokal diprediksi akan memanas. Katalis berikutnya: keputusan OJK terkait pengalihan pengawasan aset kripto dari Bappebti, yang akan menentukan kerangka hukum produk kredit kripto di Tanah Air.

    Sumber: Cointelegraph