Tag: Bernstein

  • Bitcoin Melonjak ke US$80 Ribu, Likuiditas ETF AS Pulih dan Dorong Sentimen Bullish

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$80 ribu (Rp1,42 miliar) pada perdagangan Senin, didorong oleh kembalinya aliran masuk ke ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat dan pergeseran momentum likuiditas yang terdeteksi oleh Bernstein.

    ETF Bitcoin AS Rebound, Likuiditas Pasar Membaik

    Aliran dana ke ETF Bitcoin spot AS, yang sempat terhenti selama koreksi April, kini kembali mencatat arus masuk positif. Data on-chain menunjukkan total inflow mencapai US$245 juta dalam sepekan terakhir, mengangkat total aset kelolaan (AUM) ETF Bitcoin spot menjadi US$54 miliar. “Kenaikan ini menandai pemulihan sentimen institusional setelah periode profit-taking yang agresif,” kata analis Bernstein dalam laporan terbaru.

    Posisi Bitcoin di portofolio strategis juga kembali menguat. Rata-rata harga beli Bitcoin di portofolio institusi kini terlampaui, mengindikasikan fase akumulasi ulang. “Ini sinyal bullish—ketika harga berada di atas rata-rata beli, tekanan jual dari investor jangka panjang cenderung berkurang,” tambah laporan tersebut. Volume perdagangan ETF Bitcoin spot juga melonjak 38% dibandingkan minggu sebelumnya, mencapai US$3,2 miliar per hari.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Kenaikan Bitcoin ke US$80 ribu langsung berdampak pada pasar domestik. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mencatat lonjakan volume perdagangan hingga 22% dalam 24 jam terakhir, dengan total transaksi mencapai Rp2,1 triliun. “Pasar Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan Bitcoin global, terutama saat likuiditas ETF AS pulih,” ujar Head of Research Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Dari sisi regulasi, pergeseran pengawasan dari Bappebti ke OJK yang akan segera berlaku juga menjadi katalis. “Investor institusi domestik menanti kejelasan regulasi sebelum meningkatkan eksposur. Pemulihan likuiditas global ini bisa mempercepat proses tersebut,” kata pengamat pasar kripto dari Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I).

    Katalis berikutnya yang dinantikan pelaku pasar adalah data inflasi AS (CPI) pada 15 Mei dan keputusan suku bunga The Fed. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemotongan suku bunga bisa mendorong aliran dana lebih besar ke aset berisiko, termasuk Bitcoin dan altcoin.

    Sumber: The Block