Tag: Bappebti

  • Ketua CFTC Siap Dorong Regulasi Kripto Jika CLARITY Act Gagal Disahkan

    Washington, DC — Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC), Rostin Behnam, menegaskan lembaganya akan mengambil langkah proaktif mengatur pasar kripto jika Kongres gagal mengesahkan CLARITY Act. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat Innovation Advisory Committee pada Rabu (11/6).

    CFTC Siapkan Kebijakan Mandiri

    Behnam menginstruksikan staf CFTC untuk mengeksplorasi perlindungan bagi pengembang protokol kripto dan kebijakan terkait aset digital lainnya. “Kami tidak bisa menunggu selamanya,” ujarnya. “Jika CLARITY Act tertunda atau gagal, CFTC akan melangkah maju dengan kerangka regulasi yang jelas.”

    CLARITY Act, rancangan undang-undang yang diusulkan untuk memberikan wewenang eksplisit kepada CFTC dalam mengawasi pasar spot kripto, saat ini masih terhambat di Kongres. Tanpa undang-undang ini, CFTC hanya memiliki otoritas terbatas atas derivatif kripto, sementara pasar spot—yang mencakup perdagangan langsung Bitcoin dan Ethereum—tetap berada di bawah pengawasan SEC.

    Dampak ke Pasar Global dan Indonesia

    Langkah CFTC ini berpotensi menciptakan preseden regulasi global. Jika AS menetapkan standar baru, negara-negara lain, termasuk Indonesia, mungkin mengikuti. Saat ini, Indonesia mengawasi kripto sebagai komoditi melalui Bappebti, dengan rencana pengalihan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Analis menilai, kejelasan regulasi AS dapat meningkatkan likuiditas pasar global, termasuk di bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto. Namun, perbedaan pendekatan antara CFTC (komoditi) dan SEC (sekuritas) masih menjadi risiko ketidakpastian. “Investor institusional menunggu kepastian sebelum masuk,” kata Andi Surya, Kepala Riset Pintu.

    CFTC berencana merilis draf kebijakan awal pada kuartal III 2025. Katalis berikutnya: sidang Kongres tentang CLARITY Act pada September 2025.

    Sumber: Cointelegraph

  • Likuidasi Short Kripto Tembus US$3,1 Miliar Saat Bitcoin Dekati US$72.000

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis US$71.800 pada Selasa (11/6), memicu gelombang likuidasi posisi short senilai US$3,1 miliar dalam dua hari terakhir. Data on-chain menunjukkan arus masuk modal ke bursa kripto global melonjak, sementara dominasi Bitcoin terhadap altcoin mencapai 54%.

    Mengapa Ini Penting?

    Likuidasi short masif senilai US$3,1 miliar (setara Rp49,6 triliun) dalam 48 jam terakhir menjadi sinyal kuat pembalikan tren bearish. Analis Glassnode mencatat, rasio long/short di bursa terpusat seperti Binance dan Bybit mencapai 2,3—level tertinggi sejak April 2024. “Ini bukan sekadar reli harga, tapi penyerapan likuiditas dari pelaku pasar yang terjebak posisi short,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research.

    Kronologi pergerakan harga menunjukkan Bitcoin terkoreksi tipis dari US$71.900 ke US$71.500 dalam waktu satu jam, sebelum kembali menguat ke US$71.850. Volume perdagangan harian mencapai US$58 miliar (Rp928 triliun), dengan 62% berasal dari pasangan trading BTC/USDT. Sementara itu, Ethereum (ETH) stagnan di level US$3.800, meski total nilai terkunci (TVL) di protokol DeFi berbasis ETH naik 4% menjadi US$61 miliar.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, reli Bitcoin mendorong volume perdagangan harian di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto naik 35% menjadi Rp3,2 triliun. Harga BTC di platform domestik sempat menyentuh Rp1,29 miliar—premium 0,8% dibanding harga global. “Kenaikan ini memicu FOMO di kalangan investor ritel, terutama setelah likuidasi short global,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. Namun, regulator Bappebti mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas tinggi, mengingat pengawasan aset kripto akan segera dialihkan ke OJK sesuai UU P2SKK.

    Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah data inflasi AS (CPI) yang dirilis Rabu (12/6). Jika angka inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan, yang berpotensi mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, inflasi tinggi bisa memicu koreksi tajam.

    Sumber: CoinTelegraph

  • Penipu Kripto Berkedok AML: Dompet Pengguna Terancam Dikuras

    Penipu mata uang kripto membanjiri pasar dengan layanan pemeriksaan kepatuhan Anti-Money Laundering (AML) palsu, mengincar dompet pengguna untuk dikuras habis. Modus ini memanfaatkan ketakutan pengguna terhadap regulasi dan sanksi, memaksa mereka menyetujui transaksi berisiko tinggi.

    Modus Operandi: AML Palsu yang Mematikan

    Pelaku menyamar sebagai platform AML resmi, seperti Chainalysis atau TRM Labs, dengan situs web dan antarmuka tiruan. Mereka mengirimkan tautan melalui email, media sosial, atau pesan langsung, mengklaim dompet pengguna terindikasi aktivitas mencurigakan dan harus diverifikasi. Pengguna yang tergiur diminta menghubungkan dompet kripto mereka ke situs palsu dan menyetujui transaksi yang sebenarnya memberikan akses penuh kepada penipu.

    Data on-chain dari ScamSniffer menunjukkan lonjakan 300% laporan insiden serupa dalam tiga bulan terakhir, dengan kerugian rata-rata mencapai 2,4 Bitcoin (Rp1,8 miliar) per korban. “Penipu ini memanfaatkan urgensi dan ketidaktahuan pengguna tentang mekanisme AML yang sebenarnya,” ujar pakar keamanan kripto dari SlowMist, 23X.

    Dampak di Indonesia: Regulasi Ketat, Risiko Tinggi

    Di Indonesia, di mana transaksi kripto diawasi ketat oleh Bappebti dan OJK, modus ini berpotensi merajalela. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto telah mewajibkan verifikasi AML untuk semua pengguna, menciptakan celah bagi penipu untuk memanfaatkan kepanikan. “Pengguna sering kali tidak memeriksa ulang sumber tautan dan langsung mengklik karena takut akun mereka diblokir,” kata Head of Compliance Tokocrypto, Teguh Kurniawan.

    Bappebti mencatat 127 laporan kasus penipuan berkedok AML sepanjang 2024, naik 45% dibanding tahun sebelumnya. Regulator mengimbau pengguna untuk hanya mengakses layanan AML melalui platform resmi bursa atau penyedia jasa yang terdaftar di Bappebti. “Jangan pernah menghubungkan dompet ke situs yang tidak terverifikasi,” tegas Kepala Biro Perdagangan Berjangka Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

    Katalis Pasar: Edukasi dan Teknologi

    Pelaku pasar menantikan peluncuran fitur verifikasi AML terdesentralisasi oleh protokol seperti Chainlink dan Polygon ID, yang diharapkan mengurangi ketergantungan pada layanan terpusat. Sementara itu, bursa kripto Indonesia berencana menggelar kampanye edukasi massal bekerja sama dengan Kominfo dan asosiasi blockchain lokal, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Sumber: decrypt, ScamSniffer, Bappebti, Tokocrypto

  • Bitcoin Tembus Rp1,3 Miliar, Likuidasi Shorts Capai Rp53 Triliun dalam Dua Hari

    Bitcoin (BTC) menembus level psikologis $72.000 (Rp1,3 miliar) pada Kamis (12/6), melanjutkan reli dua hari yang memicu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah senilai $3 miliar (Rp53,4 triliun). Aksi harga ini menjadi tantangan nyata pertama terhadap pola bearish yang bertahan sejak November 2024.

    Likuidasi Shorts Rekor, Sentimen Pasar Berbalik Bullish

    Data dari Coinglass menunjukkan bahwa likuidasi short BTC dalam 48 jam terakhir mencapai $3,05 miliar, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu oleh aksi jual panik (short squeeze) yang memaksa pedagang dengan posisi bearish menutup kontrak mereka secara massal. Hanya dalam sehari, harga BTC melonjak 8,2%, menguat dari $66.500 menjadi $72.100—level yang terakhir kali terlihat pada Juni 2024.

    “Ini adalah pergeseran sentimen yang signifikan,” ujar Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research. “Pasar sedang menyerap likuiditas dari posisi short yang overleveraged, dan ini bisa menjadi katalis untuk reli lebih lanjut menuju $80.000.” Thielen menambahkan bahwa volume perdagangan spot ETF Bitcoin di AS juga meningkat 40% dalam sepekan terakhir, menandai arus masuk institusional yang kuat.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, reli BTC langsung terasa. Harga Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto melonjak ke Rp1,32 miliar per keping, naik 7,8% dalam sehari. Volume perdagangan harian di Indodax mencapai Rp2,1 triliun, tertinggi sejak April 2024. Analis dari Pintu mencatat bahwa likuidasi short global juga memicu lonjakan minat terhadap altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL), yang masing-masing naik 6% dan 9% dalam 24 jam.

    Namun, reli ini terjadi di tengah ketidakpastian regulasi. Dengan pengalihan pengawasan dari Bappebti ke OJK berdasarkan UU P2SKK yang akan berlaku penuh pada 2025, pelaku pasar menanti kejelasan aturan terkait perdagangan derivatif dan staking. “Kami masih menunggu petunjuk teknis dari OJK,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Tanpa kepastian, likuiditas di pasar berjangka kripto lokal bisa terhambat.”

    Outlook: Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini mengincar dua katalis utama: (1) keputusan Federal Reserve AS mengenai suku bunga pada 18 Juni, dan (2) data inflasi AS yang akan dirilis pada 13 Juni. Jika inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa mendorong aliran dana ke aset berisiko seperti kripto. Di sisi teknikal, BTC perlu menembus resistensi $73.500 untuk mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.

    Di sisi on-chain, alamat dompet BTC dengan saldo lebih dari 1.000 BTC (whale) mencatat peningkatan aktivitas sebesar 12% dalam sepekan terakhir, menurut data Glassnode. Ini menunjukkan akumulasi oleh investor institusional, yang bisa menjadi sinyal bullish lebih lanjut.

    Sumber: Decrypt, Coinglass, Glassnode, Indodax, Pintu

  • 17 Hacker Iran Didakwa Curi Rp95 Miliar Bitcoin dalam Serangan Siber Global

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mendakwa 17 tersangka hacker asal Iran yang terafiliasi dengan Mabna Institute atas kampanye peretasan massif yang menyasar lebih dari 300 universitas, perusahaan, dan lembaga pemerintah di 22 negara. Aksi mereka mengakibatkan pemerasan Bitcoin senilai $6 juta (sekitar Rp95 miliar).

    Modus Operasi dan Dampak Global

    Para tersangka, yang beroperasi sejak 2013, diduga menggunakan teknik spear-phishing untuk mencuri kredensial login dan mengakses data sensitif. Korban termasuk universitas terkemuka seperti Harvard, MIT, dan Oxford, serta perusahaan Fortune 500 dan badan pemerintah AS, Inggris, dan Israel. Data yang dicuri kemudian dijual di pasar gelap atau digunakan untuk memeras korban dengan imbalan Bitcoin.

    Menurut dakwaan, Mabna Institute berhasil mencuri lebih dari 31 terabyte data akademik dan penelitian, termasuk hasil riset senilai jutaan dolar. FBI mencatat bahwa kelompok ini secara khusus menargetkan penelitian di bidang energi, teknologi, dan kesehatan—sektor yang memiliki nilai strategis tinggi.

    Keterkaitan dengan Bitcoin dan Ekosistem Kripto

    Pemerasan dilakukan dengan meminta tebusan dalam bentuk Bitcoin, memanfaatkan anonimitas transaksi kripto untuk menghindari pelacakan. Analisis on-chain menunjukkan bahwa alamat dompet kripto yang digunakan Mabna Institute menerima setidaknya 1.000 BTC dari korban antara 2015 hingga 2018. Sebagian dana tersebut dikonversi ke mata uang fiat melalui bursa kripto yang tidak menerapkan KYC ketat.

    Kasus ini menyoroti risiko penggunaan kripto dalam kejahatan siber, sekaligus memperkuat tekanan global terhadap bursa yang abai terhadap kepatuhan AML. Di Indonesia, Bappebti dan OJK telah memperketat pengawasan terhadap transaksi kripto yang mencurigakan, termasuk mewajibkan pelaporan transaksi besar di atas Rp1 miliar.

    Respons Internasional dan Agenda Selanjutnya

    AS bekerja sama dengan Interpol dan Europol untuk memburu para tersangka, yang sebagian besar masih berada di Iran. Sementara itu, universitas dan perusahaan di seluruh dunia kini meningkatkan protokol keamanan siber, termasuk penggunaan multi-factor authentication (MFA) dan pelatihan kesadaran phishing.

    Kasus Mabna Institute menjadi pengingat bagi pelaku industri kripto di Indonesia untuk memperkuat sistem keamanan dompet dan transaksi. Regulator lokal juga diprediksi akan mempercepat implementasi aturan baru terkait pelaporan transaksi kripto mencurigakan, seiring dengan perpindahan pengawasan dari Bappebti ke OJK.

    Sumber: decrypt, Departemen Kehakiman AS, FBI

  • Bitcoin Melonjak Tajam, Tapi Trader Pasar Prediksi Masih Skeptis

    Bitcoin (BTC) membukukan rally terkuat dalam lima bulan terakhir, menembus level psikologis US$63.000 (Rp995 juta) pada Selasa (10/6), namun trader di pasar prediksi tetap waspada—bahkan cenderung pesimistis untuk jangka panjang.

    Sentimen Berbalik, Tapi Hanya Sementara

    Data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang Bitcoin mempertahankan level di atas US$60.000 naik dari 35% menjadi 50% dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini seiring dengan arus masuk (inflow) bersih sebesar US$886,6 juta (Rp13,9 triliun) ke spot Bitcoin ETF di AS sepanjang Juni, menurut CoinShares.

    Namun, taruhan jangka panjang justru mengindikasikan kekhawatiran. Kontrak prediksi untuk harga Bitcoin pada akhir 2024 masih menempatkan peluang koreksi di bawah US$50.000 sebesar 62%. “Pasar prediksi sering kali lebih akurat dalam menangkap sentimen jangka panjang ketimbang pergerakan harian,” ujar analis on-chain dari Glassnode, James Check, dalam wawancara dengan 8TIA.

    Faktor Katalis dan Risiko yang Mengintai

    Rally Bitcoin dipicu oleh kombinasi pelemahan dolar AS (DXY turun 1,2% dalam sebulan) dan ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed. Namun, dua risiko utama masih membayangi: pertama, likuidasi posisi leverage senilai US$1,2 miliar (Rp18,9 triliun) dalam 48 jam terakhir, menurut Coinglass; kedua, ketidakpastian regulasi pasca-pemilu AS.

    Di Indonesia, lonjakan harga Bitcoin langsung berdampak pada volume perdagangan. Indodax mencatat kenaikan transaksi harian sebesar 37% menjadi Rp2,1 triliun pada 10 Juni, sementara Tokocrypto melaporkan peningkatan pengguna aktif sebesar 22% dalam sepekan. Namun, regulator Bappebti mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas tinggi menjelang pengalihan pengawasan ke OJK.

    Agenda pasar berikutnya yang dinantikan: data inflasi AS (CPI) pada 12 Juni dan keputusan suku bunga The Fed pada 13 Juni. “Jika CPI lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin bisa menguji resistensi US$68.000,” kata CEO Reku, Kevin Osmond, kepada 8TIA.

    Sumber: decrypt, Polymarket, CoinShares, Glassnode, Indodax, Tokocrypto

  • Payward, Induk Kraken, Gencar Ekspansi Jadi Bank Penuh di Luar AS

    Payward, perusahaan induk bursa kripto global Kraken, tengah menjajaki transformasi menjadi “full bank” di luar Amerika Serikat, dengan rencana ekspansi ke layanan perbankan, pinjaman, hingga manajemen aset. Mortgage atau kredit pemilikan rumah (KPR) disebut sebagai kemungkinan berikutnya dalam roadmap mereka.

    Mengapa Langkah Ini Penting?

    Jika terealisasi, Payward akan menjadi salah satu entitas kripto pertama yang mengintegrasikan layanan perbankan tradisional secara penuh. Langkah ini menandai pergeseran strategis dari sekadar bursa kripto menjadi lembaga keuangan terpadu, serupa dengan model yang diadopsi oleh platform seperti Revolut atau N26—namun dengan basis aset kripto sebagai diferensiasi utama.

    Saat ini, Kraken telah mengantongi izin perbankan di Wyoming, AS, melalui Kraken Bank, yang berfokus pada layanan penyimpanan aset digital dan pembayaran. Namun, ekspansi ke luar AS memungkinkan Payward menghindari regulasi ketat di negara asalnya, sekaligus membidik pasar dengan kerangka hukum yang lebih fleksibel, seperti Uni Eropa atau kawasan Asia Tenggara.

    Dampak terhadap Pasar Kripto Global dan Indonesia

    Langkah Payward dapat memicu tren baru di industri kripto, di mana bursa tidak lagi hanya menjadi tempat trading, tetapi juga penyedia layanan keuangan terintegrasi. Di Indonesia, di mana aset kripto masih diklasifikasikan sebagai komoditi oleh Bappebti, model ini sulit diterapkan dalam waktu dekat. Namun, dengan rencana pengalihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK (berdasarkan UU P2SKK), potensi integrasi layanan perbankan dan kripto di masa depan bukan tidak mungkin.

    Saat ini, bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto masih fokus pada trading dan edukasi, sementara layanan seperti pinjaman berbasis kripto (crypto lending) belum diatur secara jelas. Jika Payward berhasil, hal ini bisa mendorong regulator Indonesia untuk mengeksplorasi kerangka kerja serupa, terutama mengingat jumlah pengguna kripto di Tanah Air yang mencapai 21 juta orang (data OJK 2025).

    Katalis Pasar Berikutnya

    Pelaku pasar kini menantikan pengumuman resmi mengenai yurisdiksi yang akan dipilih Payward untuk ekspansi perbankan penuhnya. Uni Eropa, dengan regulasi MiCA (Markets in Crypto-Assets) yang telah berlaku, menjadi kandidat kuat. Sementara itu, kawasan Asia Tenggara—termasuk Singapura dan Hong Kong—juga menawarkan insentif regulasi yang menarik bagi perusahaan kripto yang ingin berekspansi ke layanan keuangan tradisional.

    Sumber: The Block

  • Ketua CFTC Siap Terbitkan Aturan Kripto Jika Kongres AS Mandek

    Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC), Rostin Behnam, mengungkapkan staf lembaganya tengah mengeksplorasi kerangka struktur pasar kripto dan siap mengajukan aturan baru secara cepat jika Kongres AS tak kunjung meloloskan undang-undang yang memberikan kepastian regulasi.

    CFTC Siap Bertindak Tanpa Kongres

    Dalam wawancara dengan Bloomberg pada 12 Juni 2025, Behnam menegaskan bahwa CFTC tidak akan menunggu lebih lama. “Kami sudah mempersiapkan rancangan kerangka regulasi. Jika Kongres gagal bertindak, kami akan segera mengajukan proposal aturan,” ujarnya. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa CFTC berencana mengambil alih kendali regulasi pasar kripto di AS, terutama terkait kontrak berjangka dan derivatif yang menjadi yurisdiksinya.

    Behnam menekankan bahwa pasar kripto, yang kini mencapai kapitalisasi pasar global sebesar $2,4 triliun (Rp38.400 triliun), membutuhkan kepastian hukum untuk melindungi investor dan mencegah manipulasi pasar. “Tanpa regulasi yang jelas, risiko penipuan dan volatilitas ekstrem akan terus mengancam stabilitas pasar,” tambahnya. CFTC saat ini mengawasi perdagangan kontrak berjangka Bitcoin dan Ethereum, namun yurisdiksinya terbatas pada derivatif, bukan pasar spot.

    Dampak terhadap Pasar Kripto Global dan Indonesia

    Jika CFTC benar-benar mengeluarkan aturan baru, dampaknya akan terasa hingga ke pasar kripto Indonesia. Bursa kripto lokal seperti Indodax dan Tokocrypto, yang menawarkan produk derivatif, harus menyesuaikan diri dengan standar global. “Regulasi AS sering menjadi acuan bagi regulator lain, termasuk Bappebti dan OJK,” kata Andi Surya, analis dari Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Di Indonesia, pengawasan aset kripto saat ini berada di bawah Bappebti, namun akan beralih ke OJK setelah UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) berlaku penuh. “Ketidakpastian regulasi di AS bisa memperlambat proses transisi di Indonesia, terutama terkait produk derivatif,” tambah Andi. Saat ini, transaksi kripto di Indonesia dikenakan pajak final 0,1% dan PPN 0,1%, serta wajib melalui bursa yang terdaftar di Bappebti.

    Pelaku pasar kini menantikan apakah Kongres AS akan segera meloloskan *Financial Innovation and Technology for the 21st Century Act* (FIT21), yang akan memberikan wewenang lebih besar kepada CFTC dan SEC dalam mengatur kripto. Jika gagal, CFTC dipastikan akan mengambil langkah unilateral—sebuah skenario yang bisa memicu ketegangan dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).

    Sumber: decrypt, Bloomberg

  • Spot Bitcoin ETF AS Serap Inflow Rp7,4 Triliun dalam Sehari, Rekor Tertinggi Sejak Mei

    Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus masuk (inflow) bersih senilai $517 juta (Rp7,4 triliun) pada Kamis (12/6), rekor harian tertinggi sejak awal Mei. Lonjakan ini terjadi saat Bitcoin (BTC) menembus level $72.000 (Rp9,21 juta) dan Ether (ETH) melonjak 19% ke $2.286 (Rp32,6 juta).

    Minggu Ini, Inflow Bitcoin ETF Tembus $1 Miliar

    Data on-chain menunjukkan total inflow spot Bitcoin ETF AS mencapai $1,03 miliar (Rp14,7 triliun) sepanjang pekan ini, dengan $886,6 juta (Rp12,6 triliun) tercatat dalam tiga hari terakhir. BlackRock’s IBIT dan Fidelity’s FBTC menjadi penerima terbesar, masing-masing menyerap $187 juta (Rp2,67 triliun) dan $149 juta (Rp2,13 triliun) dalam sehari.

    “Sentimen pasar berbalik bullish setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan,” ujar James Butterfill, Head of Research CoinShares. “Institusi memanfaatkan momen ini untuk akumulasi BTC, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan depan.”

    Ether Ikut Terbang, Kapitalisasi Pasar Kripto Sentuh $2,7 Triliun

    ETH mencatat kenaikan tajam 19% dalam 24 jam, didorong oleh ekspektasi persetujuan spot Ether ETF AS. Kapitalisasi pasar kripto global melonjak 8% menjadi $2,7 triliun (Rp38.500 triliun), dengan BTC mendominasi 54% pangsa pasar. Volume perdagangan spot di bursa global mencapai $78 miliar (Rp1.113 triliun), naik 32% dari hari sebelumnya.

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia: Likuiditas dan Regulasi

    Di Indonesia, harga BTC di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto mengikuti tren global, diperdagangkan pada Rp9,25 juta—naik 5% dalam sehari. Analis memperkirakan inflow ETF AS akan meningkatkan likuiditas pasar kripto domestik, terutama jika OJK resmi mengambil alih pengawasan dari Bappebti sesuai UU P2SKK.

    “Inflow ETF AS bisa memicu minat investor institusi lokal, seperti manajer aset dan dana pensiun,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax. “Namun, kepastian regulasi tetap kunci—termasuk soal perpajakan dan klasifikasi aset kripto di bawah OJK.”

    Katalis Pasar Berikutnya: Keputusan The Fed dan Ether ETF

    Pelaku pasar kini menantikan dua katalis utama: pengumuman suku bunga The Fed pada 19 Juni dan keputusan SEC AS terkait spot Ether ETF. Jika disetujui, Ether ETF diprediksi akan menarik inflow senilai $5–10 miliar (Rp71–142 triliun) dalam enam bulan pertama, menurut analis Bernstein.

    Sumber: CoinTelegraph, data CoinShares, CoinMarketCap

  • Optimism Alokasikan 546,9 Juta Token OP untuk Ekosistem, Geser Fokus dari Airdrop

    Optimism mengalihkan 546,9 juta token OP—setara Rp1,8 triliun (kurs Rp3.300/OP)—dari cadangan airdrop masa depan ke dana pertumbuhan ekosistem melalui voting tata kelola yang disetujui komunitas pada 12 Juni 2025.

    Mengapa Pengalihan Ini Penting?

    Keputusan ini menandai pergeseran strategis Optimism dari insentif berbasis airdrop ke pendanaan institusional dan kemitraan jangka panjang. Dana sebesar 546,9 juta OP (13,6% dari total pasokan) akan dialokasikan untuk tiga program utama: insentif protokol layer-2, kolaborasi dengan institusi tradisional, dan pengembangan infrastruktur DeFi di jaringan Optimism.

    Data on-chain menunjukkan bahwa sejak peluncuran Optimism pada 2021, hanya 23% dari total alokasi airdrop yang telah didistribusikan, dengan 77% sisanya—termasuk 546,9 juta OP ini—masih tertahan. Voting tata kelola (Proposal 789) memperoleh 92% suara dukungan dari pemegang token, mencerminkan konsensus kuat untuk mempercepat adopsi institusional.

    “Langkah ini sejalan dengan tren industri di mana protokol layer-2 beralih dari model airdrop ke pendanaan berkelanjutan,” ujar Andi Surya, analis kripto dari Trivium Indonesia. “Optimism berusaha meniru kesuksesan Arbitrum yang berhasil menarik institusi seperti Franklin Templeton dan BlackRock setelah mengurangi ketergantungan pada airdrop.”

    Dampak ke Pasar Kripto Indonesia

    Di Indonesia, Optimism mencatat pertumbuhan pengguna sebesar 42% YoY pada kuartal I-2025, terutama didorong oleh adopsi DeFi di bursa lokal seperti Pintu dan Reku. Namun, pengalihan dana ini berpotensi mengurangi likuiditas token OP di pasar spot dalam jangka pendek. Indodax mencatat penurunan volume perdagangan OP sebesar 18% sejak pengumuman voting, meski harga token masih bertahan di level Rp3.200–Rp3.400.

    Regulator domestik, Bappebti, belum memberikan tanggapan resmi, namun pengawasan terhadap alokasi dana protokol asing menjadi sorotan mengingat rencana transfer kewenangan ke OJK pada 2026. “Kami memantau apakah dana ini akan digunakan untuk kepentingan yang sesuai dengan regulasi Indonesia,” kata juru bicara Bappebti.

    Katalis pasar berikutnya: Optimism dijadwalkan meluncurkan program insentif senilai 100 juta OP untuk pengembang lokal pada Agustus 2025, bersamaan dengan peluncuran fitur “Superchain” yang memungkinkan interoperabilitas antar-layer-2.

    Sumber: CoinTelegraph